SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Karena dibangun dengan bahan batu Andesit warna hitam, maka populer disebut sebagai Tugu Ireng. Monumen Tugu Ireng di Nglaroh ini, menyimpan pusaka andalan milik Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Terdiri atas sebuah keris panjang dengan sebutan Kiai Karawelang dan dua tombak (Kiai Totog dan Kiai Jaladara).
Tugu Ireng terletak di depan Kantor Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Berada di Kilometer-6 ruas jalan raya Wonogiri-Solo. Konstruksinya dibuat mengerucut ke bagian atas dan puncaknya melebar lagi selebar bagian bawah. Rancang bangunnya mirip bangunan Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar, Jateng.
Setiap datang Bulan Sura, ketiga pusaka yang jadi andalan saat Perang Sambernyawan tersebut, dilakukan penjamasan. Dulu sewaktu belum pandemi Covid-19, ritual penjamasannya dilaksanakan di Objek Wisata Waduk Gajahmungkur. Menjadi event wisata Bulan Sura, diawali dengan prosesi kirab dari Pendapa Kabupaten Wonogiri.
Tapi belakangan ini, ritual jamasannya dikembalikan lagi di Pendapa Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri, Sriyanto dan Kabid Kebudayaan Panggah Tri Asmara, menyatakan, Tim Ahli Pusaka dari Reksa Warasta Mangkunegaran, rencananya akan melakukan jamasan pusaka Sabtu Pahing (19/7/25) besok.
Digelar sederhana, diawali dengan pengambilan ketiga pusaka tersebut, dari bagian atas tugu oleh 11 orang warga Gunung Wijil Desa Pule Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Ini erat kaitannya dengan keyakinan, hanya orang Gunung Wijil saja yang mampu mengangkat batu penutup pintu tugu di bagian atas.
Untuk mencapai bagian atas tugu, warga Gunung Wijil memanjatnya memakai tangga besi. Demikian halnya ketika usai dijamasi, ketiga pusaka andalan perang milik pendiri dinasti Mangkunegaran tersebut, dikembalikan lagi ke dalam Tugu Ireng.
Pembangunan Tugu Ireng, berlangsung pada masa tahta Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng (SIJ) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII (berkuasa di Praja Mangkunegaran Tahun 1916-1944). Pembangunannya, mendapat dukungan dari Wedana Selogiri, Panewu Pangreh Praja Raden Ngabehi (RNg) Harjo Surana.
Bahan yang digunakan adalah batuan jenis Andesit warna kehitam-hitaman seperti batu yang dipakai membangun Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Batuan Andesit, dikenal memiliki komposisi kandungan kimia terdiri dari unsur-unsur utama yaitu silikat, aluminium, besi, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Keunggulan batu Andesit, dapat erat menyatu saat disusun secara vertikal maupun horisontal, meski tanpa perekat adonan Portland Cement (PC).
Sangkalan
Bangunan monumental untuk menyimpan tiga pusaka andalan Pangeran Sambernyawa tersebut, dilengkapi dengan prasasti Sangkalan (penanda tahun pembuatan) berhuruf Jawa. Tulisan Sangkalan Rakseksa Hamajari Guwa Sela, dipahatkan pada dinding bagian bawah. Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat, menyatakan, Sangkalan adalah penanda waktu atau tahun yang disandikan dalam kata-kata, kalimat atau dalam bentuk gambar.

Bila mengacu pada peredaran matahari (syamsiyah), Sangkalannya disebut sebagai Surya Sangkala (Surya Sengkala), dan bila menganut peredaran bulan (khomariyah) disebut Canda Sangkala atau Candra Sengkala.
Sangkalan yang tertulis pada prasasti Tugu Pusaka Nglaroh (Selogiri), menganut versi Surya Sangkala dan menjadi penunjuk tahun pembuatan (pembangunan)-nya. Raseksa (5), Hamajari (3), Guwa (9) dan Sela (1). Cara membaca Sangkalan dari belakang atau dari kanan ke kiri, sehingga bermakna 1935 (telah 90 tahun).
Pembangunan Tugu Pusaka tersebut memiliki ukuran Panjang (bawah) 8,9 Meter (M), Lebar 6 M dan Tinggi 5 M serta memiliki ruang inti sedalam 4 M. (Sumber: Ceritera Rakyat Kabupaten Wonogiri, Suatu Kajian Strukturalisme dan Nilai Edukatif, Karya Sri Suparmi 2009).
Tugu tersebut memiliki lubang pintu di bagian atas. Lempengan batu penutup pintu, setiap datang Bulan Sura dibuka untuk pengambilan tiga pusaka yang tersimpan di dalamnya. Tiga pusaka tersebut menjadi andalan Raden Mas (RM) Said saat melancarkan perang Sambernyawan selama 16 tahun (1749-1757), untuk melawan ketidakadilan Keraton dan Penjajah Belanda. Perangnya dikenal Jejemblungan (gila-gilaan pantang menyerah) dengan sesanti Tiji Tibeh (Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh).
Perang Sambernyawa, dipuji Gubernur Jawa, Baron van Hohendorff dan Pemimpin VOC di Semarang, Nicolaas Hartingh. Yang kemudian menjuluki RM Said sebagai Sambernyawa. Itu karena RM Said menjadi tokoh penyebar kematian (Sambernyawa) saat memimpin perang.(Bambang Pur)













