
“Di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta, transportasi umum masih belum menjadi pilihan yang menarik. Para komuter atau mereka yang rutin bepergian ke tempat kerja memandang keterbatasan akses, waktu tempuh yang tidak menentu, dan keterlambatan menjadi faktor yang membuat mereka enggan menggunakan kendaraan umum,” imbuh Ilham.
IESR menekankan implementasi strategi Avoid–Shift–Improve (ASI) yang inklusif dan berkeadilan untuk menurunkan emisi di sektor transportasi. Pendekatan Avoid dilakukan dengan strategi pengembangan kota yang terintegrasi dengan transportasi publik (Transit Oriented Development, TOD) sehingga memperpendek jarak dan waktu tempuh. Selain itu, manajemen perjalanan (Traffic Demand Management, TDM) melalui kombinasi kebijakan hari bebas kendaraan, sistem ganjil-genap, congestion pricing, dan kebijakan kerja dari rumah.
Sementara, pelaksanaan Shift ialah dengan mendorong perluasan dan peningkatan layanan transportasi publik, seperti bus raya terpadu TransJakarta. Upaya ini juga diperkuat melalui skema pembelian layanan Buy The Service (BTS) yang menjamin standar layanan minimum dan tarif yang terjangkau, dan sejauh ini telah menunjukkan hasil yang positif. Pemerintah juga perlu memperluas infrastruktur transportasi di luar Pulau Jawa untuk mengurangi ketimpangan akses, seperti dengan memperluas jaringan kereta dan bus raya terpadu di kota-kota lain.
Pada pendekatan Improve, strategi yang dilakukan antara lain mendorong adopsi kendaraan listrik melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta memastikan adanya kepastian kebijakan jangka panjang. Diversifikasi pasar dan produsen kendaraan listrik juga penting untuk meningkatkan persaingan dan menurunkan harga. Selain itu, peningkatan standar bahan bakar, seperti adopsi standar EURO IV, perlu dilakukan untuk menekan emisi dari kendaraan konvensional.
“Implementasi pendekatan dan strategi Avoid–Shift–Improve (ASI) secara bersamaan akan memberikan dampak positif, seperti mengurangi kendaraan pribadi, mendorong transportasi publik, menekan konsumsi bahan bakar fosil, dan mempercepat adopsi teknologi rendah emisi,” ujar Faris Adnan Padhilah, Koordinator Riset Manajemen Permintaan Energi, IESR.
Faris menyebut strategi ini berpotensi menurunkan emisi puncak pada 2030 sebesar 18 persen, dari 201 juta ton ke 164 juta ton karbon dioksida. Penerapannya yang konsisten dapat mempercepat pencapaian NZE di sektor transportasi pada 2060 atau lebih cepat.
Ning S













