blank
KH. Sabiq Wafiyudin,(Gus Sabiq).

JEPARA (SUARABARU.ID)- Ratusan calon santri Pondok Pesantren (PP) Darussa’adah Bugel, Kedung, Jepara, mengikuti acara pertemuan bersama wali santri yang digelar belum lama ini. Dalam kesempatan itu, salah satu pengasuh PP Darussa’adah KH. Sabiq Wafiyudin, mengingatkan pentingnya ketulusan hati untuk belajar di pesantren, baik oleh para calon santri baru maupun orang wali santri.

“Niat ikhlas orang tua adalah pondasi utama yang akan menentukan proses selanjutnya sewaktu anak belajar di pesantren”, ujar pria yang akrab disapa Gus Sabiq ini.

“Setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh wali santri saat memasukkan anaknya ke pesantren, yaitu adalah hati yang ikhlas. Dengan niat lillahi ta’ala bahwa memondokkan anak hanya mengharap ridho dari Allah untuk belajar ilmu agama”, terangnya.

Lebih jauh Alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu juga mengungkapkan pada umumnya orang tua sering salah kaprah ketika memasukkan anak ke pesantren dengan kalimat menitipkan.

“Pesantren bukan tempat penitipan anak, maka orang tua jangan menitipkan tetapi memaserahkan anaknya. Kalau menitipkan biasanya dapat diambil kapanpun dikehendaki, berbeda dengan memaserahkan anak yang tentunya orang tua akan selalu mengikuti tata cara dan peraturan yang ada dipesantren”, bebernya.

Wali santri ketika sudah mampu melakukan dua hal di atas, maka yang tidak kalah penting menurut Gus Sabiq adalah orang tua hatinya harus rela atau ridho memaserahkan anak belajar di pesantren, banyak wali santri yang hatinya enggan melepas anak dengan dalih kasih sayang ataupun tidak tega, sehingga dibuatlah alasan untuk mengunjungi santri pada waktu yang tidak diperkenankan yang tentunya akan berdampak buruk terutama pada saat belajar santri.

Terakhir bagi orang tua yang ‘memondokkan’ anaknya di pesantren senantiasa berdo’a di setiap waktu, karena do’a adalah obat rindu dan kangen orang tua kepada anak.

Gus Sabiq menutup sambutannya sebagai Perwakilan Pengasuh PP Darussa’adah dengan memberi pesan kepada para wali santri, “Wali santri harus memaserahkan anak ke pesantren, mengikuti aturan pesantren dan jangan lupa mendo’akan anak belajar di pesantren” pungkasnya.

Hartono, salah seorang wali santri pun membenarkan apa yang disampaikan oleh Gus Sabiq dalam acara temu wali santri baru tersebut, setelah mengantarkan anak pertamanya ke pondok.

“orang tua mendo’akan anak di pesantren yang baik-baik, yaitu tempat yang baik, belajar ilmu yang baik, mendapat teman yang baik, esok bermanfaat menjadi orang baik” tandasnya.

Pada penerimaan santri baru tahun ini, PP Darussa’adah menerima sebanyak 202 santri baru, terdiri dari 50 santri puteri tahfidzh dan 60 santri puteri non-tahfidzh serta 92 santri putera.

Seluruh santri menempati tiga komplek pesantren yang terpisah, yakni PPDS 1 untuk santri puteri tahfidzh, PPDS 2 bagi santri putera dan santri puteri non-tahfidzh berada di komplek PPDS 3 yang semuanya dikelola oleh Ibu Nyai Hj. Faizah Makmun bersama dengan petera-puteranya.

ua/mu