blank
Tim ekspedisi makam kuno saat berada di Makam Jenggala, Saripan, Jepara (Foto: Aslim Akmal).

JEPARA (SUARABARU.ID)- Tidak berlebihan jika Kabupaten Jepara menjadi surga bagi para peneliti makam-makam kuno. Salah satu kota tua yang sering disebut-sebut dalam sejarah Nusantara ini menyimpan begitu banyak misteri, yang bagi sebagian kalangan pegiat sejarah misteri itu harus dipecahkan. Salah satu misteri yang menarik untuk diungkap adalah terkait masuknya Islam di tanah Jawa.

blank
Mengungkap fakta baru masuknya Islam di Jepara.

Apakah Jepara memang menjadi titik awal penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa, jawabannya masih menunggu fakta-fakta baru di lapangan. Jika melihat temuan makam-makam dan nisan kuno yang tersebar di sepanjang pesisir Jepara, dugaan itu semakin kuat bahwa Jepara mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.

“Temuan nisan tipologi Pasai awal abad 15 M (1401-1425) yang belum lama ini ditemukan di Jepara mengusik pikir, jangan-jangan Islam masuk ke Jepara lebih dahulu dari Demak”, ujar Kiai Aslim Akmal, pegiat sejarah asal Kudus yang ikut ekspedisi mengungkap nisan-nisan kuno di Jepara.

“Karena nisan dengan tipologi Pasai ternyata banyak sekali ditemukan di wilayah Jepara. Nisan-nisan tersebut tersebar di berbagai teritorial yang saling berdekatan serta menunjukkan masa antara awal abad 15 sampai akhir abad 16 atau sebelum masuknya Mataram dan kolonial menguasai wilayah tersebut”, lanjut pria yang sudah keliling ke berbagai makam kuno di Jawa dan Sumatera.

blank
Makam Jenggala (Foto: Aslim Akmal).

Lebih jauh Kiai Aslim menngungkapkan temuan nisan-nisan tipologi Pasai di teritorial Jepara, Demak, dan Kudus menjadi fakta yang tak terbantahkan adanya pengaruh pengembangan Islam yang berawal dari Pasai.

“Kesinambungan tersebut dapat digambarkan mulai dari Pasai-Malaka-Pesisir-Utara Jawa (termasuk Jepara, Demak, dan Kudus). Kesinambungan tersebut terhubung oleh aktivitas perdagangan para pedagang muslim di Selat Malaka sejak abad 7-16 M”, bebernya.

Saat suarabaru.id ikut dalam ekspedisi, terungkap bahwa di beberapa wilayah di Kabupaten Jepara terdapat makam-makam kuno yang selama ini tidak diketahui banyak orang, bahkan bisa dibilang tidak terawat. Seperti saat kami memasuki makam Jenggala, Saripan, Jepara, terdapat makam dengan nisan-nisan yang menunjukan tipologi Pasai dan Jawa Timuran abad 15.

Bukan hanya di Saripan, makam kuno juga ditemuka di Desa Dongos, Desa Sowan Lor, Desa Tegalsambi, Desa Krapyak, Desa Teluk Awur, Desa Mulyoharjo dll.

“Makam Jenggala salah satu makam kuno yang sayangnya tidak terawat, kotoran tikus di mana-mana. Bahkan ada Qur’an yang penuh dengan kotoran tikus. Menunjukan makam ini tidak diperhatikan”, ungkap Dr. Sariat Arifia, peneliti sejarah kerajaan Islam di Jawa abad 15, asal Jakarta salah satu tim ekspedisi.

Tim ekspedisi yang juga menggandeng para pegiat sejarah asal Jepara tersebut juga mewacanakan akan membentuk sebuah kelompok pegiat sejarah “Muria Raya” dengan menggandeng seluruh elemen masyarakat sejarah Jepara, Kudus, Pati, hingga Demak.

Tidak menutup kemungkinkan para pegiat sejarah dari Rembang, Lasem, Tuban, kita ajak gabung untuk mengungkap fakta-fakta baru penyebaran Islam di tanah Jawa terutama jalur Pantura”.

“Tantangan kita saat ini adalah menghadapi orang-orang yang memang ingin mengaburkan sejarah. Hal itu sudah terjadi bukan hari ini saja tapi sejak zaman kolonial. Meskipun sudah jelas-jelas ada hubungan kesinambungan antara pengaruh Pasai di Pesisir Utara Jawa, namun ada saja orang-orang yang berusaha menggelapkannya, terutama kolonial Belanda dan antek-anteknya”, ungkap Kiai Aslim.

“Mereka berharap masyarakat muslim Jawa (Nusantara) tidak mengetahui dan memahami adanya hubungan kesinambungan tersebut. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pegiat dan pemerhati sejarah baru perkembangan Islam di Indonesia. Semoga mereka tidak pernah putus asa untuk mengungkap kebenaran sejarah berdasar fakta”, tandasnya.

ua