SEMARANG (SUARABARU.ID)– Program Oasis Schoolyards yang bekerja sama dengan lima sekolah dasar dan madrasah yang ada di Semarang, sukses membuat ruang terbuka hijau di masing-masing sekolah itu, setelah sembilan bulan berjalan.
Lima sekolah itu berhasil mendorong integrasi pendidikan perubahan iklim dan perancangan ruang terbuka hijau, menjadi area multifungsi. Area itu dapat digunakan untuk bermain, belajar, serta membangun ketangguhan terhadap adanya perubahan iklim yang ekstrem.
Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Ananto Kusuma Seta mengungkapkan hal itu dalam talkshow, acara Penutupan & Showcase Oasis Schoolyards Semarang, di Balai Kota Semarang, Kamis (12/6/2025), yang dihadiri sekitar 96 pendidik SD/MI, perangkat daerah, dan pegiat filantropi.
BACA JUGA: Melalui Debt Free Center, Wahyu Puji Widodo Bantu Pelaku UMKM dari Jeratan Hutang
Menurut dia, program ini telah membuktikan cara kerja prinsip pendidikan perubahan iklim. UNESCO pun menyoroti, krisis terbesar dunia adalah perubahan iklim, bukan perang.
”Saat ini 73 persen sekolah di Indonesia berada di area rawan banjir. Melalui Program Oasis Schoolyards ini, sekolah yang merupakan rumah kedua untuk anak-anak, juga menjadi laboratorium hidup untuk kehidupan yang berkelanjutan. Saat ini Semarang sudah “membeli” masa depan dengan harga sekarang,” ungkap Ananto.
Pada kesempatan yang lain, Plh Wali Kota Semarang, yang diwakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Budi Prakosa ST MT, memberikan apresiasinya atas inisiatif Oasis Schoolyards Semarang. Dia menilai, ini sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas sektor, untuk menjawab tantangan bersama.
BACA JUGA: Lakon Sang Ajata Satru, Meriahkan Peringatan HUT Ke-79 Kota Surakarta
”Kami apresiasi pada MilkLife dan Resilient Cities Network, yang mendukung Kota Semarang melalui program ini. Harapannya, sekolah menjadi ruang terbuka hijau, yang mendinginkan kawasan di sekitarnya. Sekolah juga menjadi pelopor pendidikan lingkungan hidup dan perubahan iklim,” terang Budi Prakosa.
Sementara itu, Group Brand Head MilkLife, Vanessa Ingrid Pamela menyatakan, program Oasis Schoolyards membuktikan, tindakan kecil dapat berdampak besar, ketika menjadi budaya bersama. Namun tantangan perubahan iklim masih sangat luas dan kompleks, yang membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak, dan solusi kreatif baru.
”Kami berharap, praktik dari program ini bisa menjadi salah satu katalis yang menginspirasi lebih banyak pihak, termasuk sektor swasta, untuk turut berkontribusi,” tukas Vanessa.
BACA JUGA: Pengurus Askab PSSI Wonosobo Dilantik, Segera akan Didirikan SSB
Seperti diketahui, sejak diluncurkan pada September 2024, program hasil kolaborasi PT Global Dairi Alami (MilkLife), Resilient Cities Network (R-Cities), dan Pemerintah Kota Semarang ini, telah mendampingi lima SD dan madrasah.
Sekolah itu yakni, MI Darul Ulum, MI Mirfa’ul Ulum, SDN Gebangsari 01, SDN Kaligawe, dan SD Marsudirini Gedangan. Dalam program itu, dilakukan serangkaian pelatihan, pengembangan kurikulum, dan perancangan halaman sekolah hijau berbasis solusi alam bersama siswa dan orang tua.
Riyan













