
Pihak perusahaan swasta sebagai mitra, lanjut Mensos, juga membantu pengadaan bahan baku dan perluasan pasar. Dengan kemitraan tersebut, pengrajin tidak mengalami kesulitan bahan baku dan pemasaran produk.
“Ini hasil produksi tempat sampah dan kerajinan lain bisa masuk pasar ekspor. Ya, bisa untuk ekspor ke Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Nah, karena itu, tentu produknya harus berstandar ekspor,” tegas Gus Ipul.
Insya Allah nanti, imbuh Mensos, pengrajin akan dilatih oleh tim khusus. Harapannya dalam 1-2 bulan ke depan para pengrajin sudah bisa membuat anyaman yang berstandar internasional.
“Bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Tapi ini pada dasarnya adalah memanfaatkan wakil yang luang. Jadi mereka punya waktu luang untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarga,” tuturnya.
Dikatakan Gus Ipul, prinsipnya pendapatan dari kerajinan anyaman bukan penghasilan yang utama tapi merupakan penghasilan tambahan. Mereka bisa memperoleh antara Rp 60 ribu sampai Rp 80 ribu sehari. Kalau tekun bisa sampai Rp 100 ribu.
“Para pengrajin harus dikawal bareng-bareng. Kita coba tingkatkan produksinya pelan-pelan. Kami juga sudah bekerjasama dengan berbagai pihak yang bisa membeli produk berbahan baku eceng gondok,” aku dia.
Dipastikan, papar Gus Ipul, nanti pembelinya sudah ada. Jika produksi kurang bisa ditingkatkan. Tenaga PKH harus terus mendampingi dan programnya diintegrasikan dengan kegiatan para pengrajin eceng gondok.
Muharno Zarka













