Oleh : Lia Selviana, S.Pd.
Setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah memontum yang menandai lahirnya kesadaran kolektif bangsa untuk bersatu melawan penjajahan. Hari ini menjadi simbol titik balik dimana perjuangan dilakukan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara ideologis dan intelektual.
Berbicara tentang Hari Kebangkitan Nasional, selalu identik dengan dengan nama-nama besar seperti R. Soetomo, Mochammad Saleh, Mohammad Soelaiman, Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Projosoedirdjo, M. Soeradji Tirtonegoro, M. Saleh dan Raden Mas Goembrek.
Tapi tahukah Anda salah satu tokoh penting dibalik kebangkitan nasional Indonesia justru lahir di tanah Jepara ?. Ya, Dr. Cipto Mangunkusumo namanya. Ia adalah salah satu dari Tiga Serangkai pendiri Indische Partij (IP). Sebuah organisasi pergerakan yang radikal dalam melawan penjajahan sehingga membuat pemerintah kolonial Belanda ketar-ketir. Sayangnya tak banyak yang tahu bahwa sosok sehebat ini berasal dari kota Jepara.
Tak hanya dr. Cipto yang mengukir jejak perjuangan dari Jepara, semangat kebangsaan juga mengalir dalam darah adiknya, Gunawan Mangunkusumo. Jika sang kakak dikenal vokal dan revolusioner melalui peran politiknya di Indische Partij, maka Gunawan berkiprah melalui jalur organisasi Budi Utomo yang menjadi simbol awal kesadaran kolektif kaum terpelajar pribumi. Dalam momen peringatan kebangkitan nasional ini, yuk kenali lebih dekat putera Jepara yang nyalinya melampaui zamannya.
Siapa Dr. Cipto Mangunkusumo?
Dr. Cipto Mangunkusumo lahir di Pecangaan Jepara pada 4 Maret 1886. Ia tumbuh dari keluarga priyayi. Ayahnya, Mangunkusumo adalah seorang guru Bahasa Melayu di sekolah pemerintah untuk bumiputera. Sementara ibunya, Raden Ayu Suratmi adalah putri seorang kasir pabrik gula Mayong bernama R.M. Sutodijoyo yang dikenal sebagai tuan tanah yang kaya . Namun sebagai keturunan priyayi, Cipto tidak pernah menampakkan keningratannya.
Ia tampil sederhana dan menyebut dirinya “Si Kromo”, yang berarti wong cilik atau rakyat jelata, berbeda dari priyayi (bangsawan) atau ningrat. Penyebutan ini bukan tanpa maksud, dengan menyebut dirinya “Si Kromo”, dr. Cipto menolak gelar-gelar kehormatan dan merendahkan diri secara sadar untuk menunjukkan solidaritas dengan rakyat kecil. Penyebutan ini juga merupakan bentuk satire terhadap elite pribumi yang lebih suka bersekutu dengan kolonial daripada memperjuangkan rakyat. Cipto merupakan sosok dokter Jawa yang lantang menentang tirani penjajah.
Diusianya ke 13 tahun, ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di STOVIA (sekolah kedokteran pribumi), dari pada menerima tawaran menjadi Pangreh Praja. Alasannya karena ia ingin lebih dekat dengan rakyat yang tertindas akibat penjajahan. Darahnya selalu mendidih tatkala melihat bangsanya teraniaya. Sifat Cipto yang pro rakyat kecil nampak ketika ia selalu bersedia menolong rakyat kecil dengan pengobatan cuma-cuma. Berkat kemurahan hatinya ia dijuluki “Dokter Rakyat”. Dari STOVIA inilah pikiran dan kepedulian Cipto terhadap tanah jajahan terbentuk.
Dari Budi Utomo ke Indische Partij: Dua Poros Satu Perjuangan
Nama dr. Cipto tercatat dalam dua poros penting sejarah pergerakan nasional. Ia pernah aktif di Budi Utomo (BU), organisasi pergerakan pertama yang berdiri tahun 1908 dan dianggap sebagai simbol awal kebangkitan nasional. Budi Utomo berfokus pada pendidikan, sosial, dan budaya pelajar pribumi. Namun bagi Cipto, organisasi BU terlalu elitis dan hati-hati, serta tak menyentuh akar persoalan kolonialisme. Ia menginginkan BU menjadi organisasi politik yang terbuka dan demokratis bagi seluruh rakyat, bukan hanya terbatas dikalangan priyayi.
Pandangan ini menimbulkan perbedaan dengan anggota lain yang menginginkan BU tetap sebagai gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa. Akibatnya dr. Cipto memilih untuk mengundurkan diri dari keanggotaan BU. Ia kemudian mengambil jalan yang lebih berani. Bersama Dowes Dekker dan Suwardi Suryaningrat, dr. Cipto mendirikan Indische Partij (IP) pada tahun 1912. IP merupakan organisasi pergerakan pertama yang terang-terangan menyatakan diri sebagai organisasi politik dan menyuarakan kemerdekaan Hindia Belanda. Semboyan IP sangat tegas. Indie los van Holland (Hindia lepas dari Belanda). Slogan ini adalah tuntutan politik yang membuat banyak pihak terkejut karena sangat berani menentang kolonialisme.
Berbeda halnya dengan dr. Cipto Mangungkusumo yang memilih jalur perjuangan yang radikal dan frontal, sang adik Gunawan Mangunkusumo menunjukkan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan tidak harus melalui perlawanan terbuka, tetapi juga melalui pendidikan, kebudayaan dan persatuan. Dalam struktutur organisasi BU, Gunawan menjabat sebagai sekretaris. Ia dianggap sebagai “dalang” dibalik gerakan BU karena perannya yang siginifikan dalam merancang strategi dan arah perjuangan Budi Utomo.
Meskipun berbeda gaya perjuangan dalam dua poros gerakan, radikal – moderat keterlibatan dua bersaudara dari Jepara ini membuktikan bahwa keluarga Mangunkusumo berkontribusi penting dalam fase awal kebangkitan nasional Indonesia. Dua jalur, satu semangat: membebaskan bangsa dari belenggu kolonialisme.
Tulisan yang Menggetarkan Kolonialisme
Jarum suntik saja rupanya tidak cukup memuaskan hati dr. Cipto, Ia mengangkat pena, menuangkan segala kritisismenya kepada pemerintah kolonial. Tulisan dr. Cipto Mangunkusumo bejudul “Menimbang” berhasil membuat Belanda naik darah. Artikel yang diterbitkan tahun 1913 di surat kabar De Express ini berisi kritikan pedas terhadap pemerintah jajahan serta kaum feodal dan rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Ia menilai perayaan tersebut sebagai bentuk ironi dan penghinaan terhadap rakyat Hindia Belanda yang masih hidup dibawah penjajahan. Tulisan ini terbit bersama dengan artikel karya Suwardi Suryaningrat berjudul Als ik eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Tulisan itu bukan hanya kritik, ia adalah serangan intelektual langsung ke jantung kekuasaan kolonial. Akibat tulisan-tulisan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat di koran De Express, keduanya bersama dengan E.F.E. Douwes Dekker selaku pemimpin redaksi, di buang ke negeri Belanda karena dianggap sebagai ancaman politik terhadap kekuasaan kolonial. Tak butuh waktu lama, pemerintah Belanda membalas dengan keras: Indische Partij dibubarkan. Tiga serangkai itupun dijatuhi hukuman pengasingan tanpa proses pengadilan. Langkah ini jelas menunjukkan bahwa kolonial Belanda tidak sanggup menoleransi keberanian intelektual seperti itu. Maka pengasingan menjadi satu-satunya cara membungkamnya.
Pengasingan di Banda Neira: Sunyi yang Menyalakan Perlawanan
Setelah menjalani pengasingan di Belanda, dr Cipto kembali ke Hindia pada tahun 1917. Ia terus aktif dalam pergerakan nasional termasuk dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Karena perlawanannya yang sangat vokal, tahun 1927 ia kembali di asingkan ke Banda Neira, sebuah pulau kecil di Maluku yang sepi dan jauh dari keramaian.
Di usia yang sudah senja dan tubuh yang sakit-sakitan, dr. Cipto menghadapi pengasingan yang sepi. Ia hidup dengan pengawasan ketat dan akses terhadap dunia luar yang sulit. Meskipun dalam pengasingan, semangat juang dr. Cipto tidak pernah redup, justru kian menyala. Ia terus menulis, dan berdiskusi. Dibalik tirai pengasingan, ia diam-diam menyampaikan gagasan nasionalisme melalui percakapan maupun surat pribadi. Banyak kalangan menyebutnya sebagai pusat pemikiran yang ikut menyalakan bara nasionalisme dari kejauhan. Dalam suasana sepi Banda Neira, dr. Cipto pernah berkata:
“Tubuhku bisa kalian buang ke pulau. tapi pikiranku tetap bebas. Dan kelak gagasan kami akan kalian takuti”.
Dr. Cipto akhirnya meninggal di Banda Neira pada 8 Maret 1943 dalam status sebagai tahanan politik, sebuah ironi untuk seorang dokter.
Dari dr. Cipto kita belajar esensi dari perjuangan sejati, bahwa perjuangan tidak selalu harus dalam keramaian, tidak selalu disambut sorak sorai. Terkadang dalam diam, nafas perjuangan itu tetap menggema melalui goresan pena dan keteladanan hidup.
Dr. Cipto dalah contoh dokter sejati yang ilmunya tidak hanya untuk mengobati luka, tetapi menyembuhkan penindasan. Ia tidak mengangkat senjata, tetapi ia tokoh penting yang menggeser arah pergerakan nasional dari sekedar gerakan etis menuju kesadaran politik kebangsaan.
Sebagai tanah kelahiran, sudah seharusnya kota Jepara patut bangga memiliki tokoh seperti dr. Cipto Mangunkusumo yang pernah mengukir sejarah bangsa. Kini saat kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, mari luaskan peta ingatan sejarah lokal kita melalui sosok yang luar biasa. Putera Jepara yang pernah membuat penjajah Belanda cemas dan was-was, bukan dengan senjata yang dimilikinya, tapi dengan pemikiran intelektual dan keberaniannya.
Baik Cipto maupun Gunawan adalah bukti nyata satu benang merah penting: dari Jepara lahir keberanian dan keteladanan yang telah membentuk fondasi kebangsaan kita hari ini. Saatnya kita lanjutkan semangatnya dengan cara kita, membangun keberanian moral, berpihak pada keadilan, menjadikan profesi sebagai jalan pengabdian, dan konsisten terhadap perjuangan.
Karena kebangkitan bukan sekedar sejarah, tapi adalah cerminan sikap.
Sekali lagi, selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
Penulis adalah Guru Sejarah SMA Negeri 1 Mayong, Kab. Jepara.













