WONOSOBO (SUARABARU.ID) – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo menggelar workshop “Bijak Kelola Sampah, Sayangi Bumi,” yang berlangsung di kawasan Arboretum Taman Wisata Kalianget Wonosobo.
Workshop pengelolaan sampah dilakukan sebagai bentuk partisipasi aktif memelihara lingkungan, khususnya pengelolaan sampah rumah tangga. Karena sampah rumah tangga memberikan kontribusi tertinggi jumlah sampah yang ada di daerah ini.
Kepala DLH Wonosobo, Endang Lisdyaningsih mengatakan, kegiatan kolaborasi antara DWP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tersebut, fokus pada pelatihan dan praktik langsung pengolahan sampah organik rumah tangga, menggunakan metode ember tumpuk dua tabung.
“Metode ini menurut kami hemat lahan, mudah diterapkan, dan menghasilkan dua produk bermanfaat kompos kering dan pupuk cair. Sampah yang semula tidak bermanfaat pun bisa di daur ulang menjadi pupuk yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman,” ujarnya, Sabtu (17/5/2025).
Ketua DWP DLH Wonosobo, Sir Panggung Wahyudi, menjelaskan, pelatihan ini tidak hanya sebatas teori, namun langsung diaplikasikan di lapangan. Para peserta praktek langsung mengolah sampah organik menjadi pupuk yang sangat bermanfaat.
“Kami membentuk lima kelompok dari 30 peserta untuk praktek langsung mengolah jenis sampah yang berbeda-beda. Hasil dari pelatihan akan diterapkan di 70 rumah tangga sebagai bentuk aksi nyata. Jika berhasil, akan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” terangnya.
Ia menyampaikan keprihatinan dan peluang terhadap volume sampah rumah tangga yang kian meningkat. Saat ini, kondisi sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sudah overload (berlebih).
Menurutnya, sampah organik rumah tangga cukup banyak. Jika sampah tersebut dikelola sejak dini bisa mengurangi beban TPA dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.
Endang Lisdiyaningsih menambahkan bahwa kegiatan ini menunjukkan penanganan masalah sampah memerlukan mitra aktif, termasuk para istri ASN. DLH Wonosobo siap mendukung pengembangan program serupa ke depannya.
“DWP tidak hanya dilibatkan, tetapi diharapkan bisa menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggalnya. Bila program ini berhasil, bisa menjadi role model pengelolaan sampah skala rumah tangga di Wonosobo,” lanjutnya.
Kegiatan tersebut sejalan dengan upaya mainstreaming pengelolaan sampah yang menempatkan rumah tangga sebagai ujung tombak. Ketika sampah organik dapat ditangani di tingkat keluarga, kata dia, maka volume yang masuk ke TPA Wonorejo Kalierang dapat diminimalkan secara signifikan.
“Workshop ini bukan hanya pelatihan teknis, namun juga menjadi gerakan sosial yang mengedepankan kekompakan, kreativitas dan keberlanjutan,” katanya.
DWP DLH berkomitmen menjadi penggerak perubahan menuju rumah tangga yang ramah lingkungan dan berdaya kelola sampah.
Muharno Zarka













