Oleh: Casto Nuredi
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kembali menggelar Webinar Arisan Ilmu yang memantik diskusi mendalam dan mengguncang cara berpikir banyak pegiat pendidikan. Dalam pertemuan yang berlangsung 9 Mei 2025 ini, sebanyak 108 peserta dari berbagai daerah berkumpul secara daring untuk membedah buku radikal karya Ivan Illich, Deschooling Society—yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan judul Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah.
David Martadinata hadir sebagai pemantik diskusi utama, membawakan pemikiran Illich dengan gaya yang blak-blakan, ugal-ugalan namun menggelitik logika. Diskusi ini dimoderatori oleh Dafid yang dengan sigap menjaga arah percakapan tetap hangat namun tajam. Sejak awal, gagasan besar Illich—bahwa masyarakat seharusnya tidak bergantung pada institusi sekolah untuk belajar—menjadi pemantik kontroversi dan refleksi mendalam di antara peserta.
Banyak peserta dibuat gelisah oleh gagasan ini. Umi Faiqoh dari GSM Tegal misalnya, menyampaikan kegelisahannya, “Kalau tidak lewat sekolah, lalu bagaimana? Kita kan hidup dalam sistem.” Di sisi lain, Kang Ido dari Pangandaran, yang menjabat sebagai kepala sekolah, dengan jujur mengungkapkan rasa bersalahnya, “Saya merasa selama ini menjadi bagian dari sistem yang membelenggu. Rasanya seperti kepala sekolah yang banyak dosa.” Ia bahkan meminta saran konkret: “Lalu bagaimana saya bisa memperbaiki ini semua?”
David Martadinata, menanggapi keresahan itu, mengangkat salah satu poin kunci dari buku Illich: solusi tidak terletak pada menghancurkan sekolah secara fisik, tetapi pada membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berdaya. Illich menawarkan empat elemen pengganti sekolah sebagai sarana belajar yang merdeka, yaitu: Layanan referensi untuk sumber belajar – memungkinkan siapa pun untuk mengetahui di mana dan bagaimana mereka dapat belajar hal yang mereka butuhkan.
Jaringan pertukaran keterampilan – tempat individu bisa saling berbagi keterampilan secara sukarela dan terbuka. Jaringan pencari mitra belajar (Komunitas) – sistem yang memungkinkan orang dengan minat serupa untuk saling terhubung dan belajar bersama.
Akses ke pendidik profesional secara sukarela – siapa pun bisa mencari bimbingan dari ahli secara terbuka, bukan hanya melalui sekolah formal. Gagasan-gagasan ini mengguncang kenyamanan, tetapi juga membuka peluang. Bahwa pendidikan bisa terjadi di mana saja, oleh siapa saja, dan untuk siapa saja. Bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu, dan ruang kelas bukan satu-satunya tempat belajar. Bahwa sistem bisa dirancang ulang agar lebih berpusat pada anak dan kebutuhan mereka.
Arisan Ilmu ini menjadi panggilan bagi para pegiat pendidikan untuk merefleksikan peran masing-masing. Bagi kepala sekolah seperti Kang Ido, ini bisa menjadi titik balik: bukan untuk merasa bersalah tanpa arah, tapi untuk mulai menciptakan ruang-ruang kecil perubahan di sekolah yang ia pimpin. Bagi guru dan komunitas, ini adalah ajakan untuk lebih membuka diri terhadap pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan inklusif.
Membebaskan masyarakat dari belenggu sekolah bukan berarti menolak pendidikan. Justru sebaliknya—ini adalah usaha untuk mengembalikan makna sejati dari belajar: tumbuh karena rasa ingin tahu, bukan karena tekanan ujian. Merdeka karena kesadaran, bukan karena paksaan sistem.
Mari bersama-sama menata ulang pendidikan. Bukan dengan meruntuhkan, tetapi dengan membangun kembali dari hati, dari komunitas, dari semangat gotong-royong. GSM telah membuka pintu diskusi—sekarang giliran kita untuk melangkah lebih jauh.
Penulis adalah Pegiat GSM Pekalongan













