
“Sekitar pukul 15.20 WIB, terdapat massa dengan baju hitam yang tiba-tiba datang. Polisi berupaya melindungi buruh yang masih berada di lokasi dan mengimbau massa buruh dan mobil komando masuk ke dalam halaman Kantor Gubernur,” jelas NS Setiawan.
Massa berbaju hitam yang diduga kelompok anarko ini langsung melakukan aksinya.
Kelompok ini merusak fasilitas-fasilitas umum yang ada di sekitar Kantor Gubernur Jawa Tengah.
“Kami dari SB Semar menyayangkan adanya kericuhan saat May Day di Semarang, Jawa Tengah, sebab aksi yang semula damai ini berubah jadi menegangkan. Ini juga merusak citra para buruh yang sedang memperjuangkan hak-hak kami di saat May Day,” pungkas NS Setiawan.
Rusak Fasilitas Umum
Aksi kelompok yang diduga anarko ini menyusup dan melakukan aksi perusakan fasilitas umum yang ada di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Para petugas kepolisian berupaya untuk melindungi para buruh dari serangan tersebut.
Kelompok yang diduga anarko ini melakukan tindakan anarkis usai para buruh menyampaikan aspirasi dan bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Massa kelompok tersebut datang pada sore hari dengan menggunakan pakaian warna hitam dan tanpa tanda pengenal.
Menurut NS Setiawan, SB SEMAR tergabung di dalam aliansi ABJat dan menggelar aksi May Day yang dimulai pukul 14.00 WIB.
“Kami menyuarakan sembilan tuntutan yang bernama Nawa Prathana. Kami berada di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Tengah. Kemudian, pada sore harinya datang massa dengan baju hitam tanpa pengenal dan tidak bergabung dengan massa buruh,” jelas NS Setiawan, yang menggambarkan situasi pada saat aksi anarkisme terjadi.
Menurut NS Setiawan, awalnya aksi May Day ini berjalan lancar. Bahkan, perwakilan buruh dipersilakan masuk dan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menemui mereka.
“Kami menyampaikan sembilan tuntutan, seperti penolakan sistem kerja outsourcing, pembentukan Satgas PHK, hingga perlindungan pekerja rumah tangga,” jelas pria yang juga Ketua Partai Buruh Grobogan ini, Sabtu 3 Mei 2025.
Usai menyampaikan aspirasi dan diterima Gubernur, NS Setiawan mengungkapkan mereka akan menemui para buruh yang ikut dalam May Day dan menyampaikan hasil pertemuan dengan Gubernur Ahmad Luthfi.
“Sekitar pukul 15.20 WIB, terdapat massa dengan baju hitam yang tiba-tiba datang. Polisi berupaya melindungi buruh yang masih berada di lokasi dan mengimbau massa buruh dan mobil komando masuk ke dalam halaman Kantor Gubernur,” jelas NS Setiawan.
Para massa berbaju hitam yang diduga kelompok anarko ini langsung melakukan aksinya. Mereka merusak fasilitas-fasilitas umum yang ada di sekitar Kantor Gubernur Jawa Tengah.
“Kami dari SB Semarang menyayangkan adanya kericuhan saat May Day di Semarang, Jawa Tengah, sebab aksi yang semula damai ini berubah jadi menegangkan. Ini juga merusak citra para buruh yang sedang memperjuangkan hak-hak kami di saat May Day,” pungkas NS Setiawan.
Menyusup
Aksi kelompok yang diduga anarko ini menyusup dan melakukan aksi perusakan fasilitas umum yang ada di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Para petugas kepolisian berupaya untuk melindungi para buruh dari serangan tersebut.
Kelompok yang diduga anarko ini melakukan tindakan anarkis usai para buruh menyampaikan aspirasi dan bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Massa kelompok tersebut datang pada sore hari dengan menggunakan pakaian warna hitam dan tanpa tanda pengenal. Hal itu sangat disayangkan oleh para buruh, termasuk perwakilan buruh dari Serikat Buruh Masyarakat Grobogan (SB SEMAR).
Menurut NS Setiawan, SB SEMAR tergabung di dalam aliansi ABJat dan menggelar aksi May Day yang dimulai pukul 14.00 WIB.
“Kami menyuarakan sembilan tuntutan yang bernama Nawa Prathana. Kami berada di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Tengah. Kemudian, pada sore harinya datang massa dengan baju hitam tanpa pengenal dan tidak bergabung dengan massa buruh,” jelas NS Setiawan, yang menggambarkan situasi pada saat aksi anarkisme terjadi.
Menurut NS Setiawan, awalnya aksi May Day ini berjalan lancar. Bahkan, perwakilan buruh dipersilakan masuk dan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menemui mereka.
“Kami menyampaikan sembilan tuntutan, seperti penolakan sistem kerja outsourcing, pembentukan Satgas PHK, hingga perlindungan pekerja rumah tangga,” jelas pria yang juga Ketua Partai Buruh Grobogan ini, Sabtu 3 Mei 2025.
Usai menyampaikan aspirasi dan diterima Gubernur, NS Setiawan mengungkapkan mereka akan menemui para buruh yang ikut dalam May Day dan menyampaikan hasil pertemuan dengan Gubernur Ahmad Luthfi.
“Sekitar pukul 15.20 WIB, terdapat massa dengan baju hitam yang tiba-tiba datang. Polisi berupaya melindungi buruh yang masih berada di lokasi dan mengimbau massa buruh dan mobil komando masuk ke dalam halaman Kantor Gubernur,” jelas NS Setiawan.
Massa berbaju hitam yang diduga kelompok anarko ini langsung melakukan aksinya.
Mereka merusak fasilitas-fasilitas umum yang ada di sekitar Kantor Gubernur Jawa Tengah.
“Kami dari SB Semar menyayangkan adanya kericuhan saat May Day di Semarang, Jawa Tengah, sebab aksi yang semula damai ini berubah jadi menegangkan. Ini juga merusak citra para buruh yang sedang memperjuangkan hak-hak kami di saat May Day,” pungkas NS Setiawan.
Tya Wiedya













