blank
Proses seleksi wawancara duta wisata Kudus. Foto:Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Seleksi Duta Wisata Kabupaten Kudus tahun 2025 memasuki tahap wawancara, di mana puluhan peserta unjuk kemampuan di hadapan tim penilai dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus. Dalam sesi ini, para peserta tidak hanya menyampaikan motivasi dan visi-misi, tetapi juga diuji ketajaman berpikir mereka terkait isu-isu aktual.

Satu per satu peserta, yang mayoritas berasal dari berbagai SMA di Kudus, tampil percaya diri memaparkan latar belakang pribadi dan komitmen mereka untuk memajukan pariwisata daerah. Mereka hanya diberi waktu 3,5 menit untuk menjawab pertanyaan dari panelis yang mencakup topik wisata, budaya, hingga ekonomi kreatif.

Menariknya, ada salah satu peserta yang tampil cukup vokal dan kritis terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Kudus, khususnya pernyataan viral Wakil Bupati Bellinda mengenai penataan PKL (pedagang kaki lima) di Alun-Alun Kudus.

“Menurut saya, kebijakan itu cukup bagus karena mengutamakan warga lokal. Tapi mungkin cara penyampaiannya yang kurang tepat sehingga memicu pro dan kontra di masyarakat,” ujar peserta tersebut saat diwawancarai awak media.

Pernyataan ini mencuri perhatian karena menunjukkan keberanian dan daya kritis peserta dalam menyikapi isu yang sedang hangat, sekaligus mencerminkan pemahaman mereka terhadap permasalahan di daerah.

Plt Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Kudus, M. Aflah, menjelaskan bahwa seleksi administrasi telah diumumkan pada 25 April, disusul dengan tes tertulis dan wawancara pada 28–29 April. Para grand finalis dijadwalkan diumumkan pada 1 Mei 2025.

“Ajang ini menjadi wadah bagi generasi muda berusia 17–24 tahun untuk menunjukkan semangat serta komitmen mereka dalam memperkenalkan dan mengembangkan potensi wisata daerah. Harapannya, duta wisata terpilih bisa menjadi ikon promosi Kabupaten Kudus di tingkat nasional, bahkan internasional,” ungkap Aflah.

Ali Bustomi