blank
Pasangan Sukahar-Ngatminatun dengan tekun menyisihkan penghasilannya jualan es thung-thung dan tahun ini berangkat haji. Foto: Tya Wiedya

Sukahar sendiri setiap hari berdagang es dung dung secara keliling. Meski sudah sepuh, tetapi Sukahar tetap menjalankan niatnya untuk menghidupi keluarganya di rumah. Di tengah gempuran modernisasi, Sukahar mempertahankan pembuatan es krim dengan cara yang sederhana.

Dibantu istrinya setiap hari, ia membuat es dung dung yang terbuat dari tepung, santan dan buah nangka. Bahan-bahan tersebut diolah menggunakan bejana khusus yang kemudian didinginkan menggunakan garam dan es batu agar adonan cepat beku mengeras.

Mesin sederhana itu justru buatannya sendiri. Dengan mesin itu, ia mengaduk adonan selama dua jam sampai siap dijual keliling kampung di sekitar Tanggungharjo.

“Kami bersyukur seklali akhirnya bisa berangkat setelah 15 tahun menanti. Semoga ibadah haji kami lancar dan diberikan keselamatan, menjadi haji yang mabrur,” ujar Sukahar dengan keharuan.

Tya Wiedya