
JATMA Aswaja berkomitmen menjalankan dakwah integral, menyucikan jiwa dan memandirikan ekonomi. Melalui jaringan koperasi, pemberdayaan UMKM, hingga gerakan filantropi berbasis pesantren dan zawiyah, JATMA Aswaja ingin memastikan bahwa para pengamal thariqah tidak hanya kuat secara rohani, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan sosial.
Menurut Helmy Faishal, JATMA Aswaja berdiri di atas nilai-nilai Islam Wasathiyah konsep Islam pertengahan yang menolak ekstremisme dan keberagamaan yang kaku. “Prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi nilai yang tak terpisahkan dari praktik thariqah sejak dulu,” jelasnya.
Helmy Faishal mengungkapkan, para mursyid Thariqoh mengajarkan bahwa beragama jangan sampai kehilangan kontak dengan realitas. “Karena esensi beragama adalah mengajarkan tentang generosity, yakni sikap kedermawanan, yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin. Ini menjadi penting untuk konteks global dan domestik sekarang ini, yang relevan dengan kondisi bangsa.”
Helmy Faishal Zaini menjelaskan, bahwa para mursyid thariqah, sejak zaman Wali Songo hingga hari ini, telah menjadi penjaga keindahan Islam melalui pendekatan yang lembut, santun, dan merangkul.
“JATMA Aswaja berkomitmen meneruskan warisan itu, menjaga harmoni antarumat, merawat keberagaman dalam bingkai ukhuwah insaniyah, dan meneguhkan kembali akhlakul karimah sebagai ruh peradaban,” terang Helmy yang juga pernah berkhidmah Sekretaris Jenderal PBNU periode 2015-2021 dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (2009-2014).
Pendirian JATMA Aswaja, menurut Helmy bukan sekadar pembentukan struktur organisasi. JATMA Aswaja merupakan penanda zaman bahwa spiritualitas Islam masih memiliki tempat di tengah dunia yang serba cepat dan dangkal. Ia adalah suara para pecinta Tuhan, yang berjalan dalam diam tapi mengubah banyak hal.
Helmy berharap, melalui JATMA Aswaja, akan lahir generasi baru pengamal thariqah yang tidak hanya fasih dalam wirid dan dzikir, tapi juga bijak dalam memimpin umat, adil dalam bermuamalah, dan kokoh dalam menjaga bangsa dari polarisasi dan perpecahan.
Ning S













