blank
Pakar komunikasi Prof Ridwan Sanjaya bersama ketua PPPI Jateng Ernie Firmianti. Foto: wied

Selanjutnya berkembang, dan saat ini kita kenal sebagai AI generative yang bisa menggantikan banyak sekali pekerjaan manusia. “Munculnya AI memang menjadi ancaman, karena ada 23 juta jenis pekerjaan hilang, tetapi 46 juta pekerjaan baru tercipta,” kata Ridwan.

Prof Ridwan mengingatkan pentingnya beradaptasi, karena yang mampu beradaptasilah yang bisa bertahan. “Ada teori Namanya dead horse atau kuda mati. Dikasih makan, diganti joki, diganti sepatunya juga tidak bisa. Harus Ganti kuda. Jadi kita harus mau berubah dan beradaptasi dengan yang baru,” kata mantan Rektor Unika Soegijapranata ini.

Ridwan Sanjaya mengingatkan, dengan adanya kemajuan teknologi informatikan termasuk AI di dalamnya ini, kita harus bisa menunggangi, bukannya malah tergulung.

Makin Memudahkan

Pembicara kedua Stephani Inggrit memaparkan bagaimana AI bisa membantu dalam banyak hal. Dalam bisnis periklanan, misalnya, untuk membuat desain, video anime, bahkan lagu bisa dilakukan dengan AI.

Dia pun menyebut beberapa aplikasi AI yang bisa digunakan, misalnya ChatGPT,  DeepSeek, Suna, Leonardo, dan sebagainya. Lalu dia pun memberikan contoh bagaimana membuat lagu menggunakan aplikasi AI.

Karena peserta tidak hanya orang muda, maka generasi baby boomers yang ikut acara ini pun jadi bertanya. Misalnya, “ChatGPT itu apa, kami tidak paham.”

Maka Inggrit pun menguraikan mengenai beberapa aplikasi AI, dan memberikan contoh bagaimana menggunakannya.

Kemudian pembicara ketiga, Noor Udin Ung menguraikan bagaimana sejarah perkembangan peradaban manusia, yang sudah dimulai 40 juta tahun lalu. Ada tulisan di batu, tapak tangan di gua, sampai penanda ternak (kuda dan sapi) yang ditempeli besi panas untuk penanda kepemilikan, hingga akhirnya sampai pada dunia AI saat ini.

“Sapi yang ditempeli besi panas kemudian menunjukkan tanda kepemilikan di badannya, ini ada munculnya brand. Penandaan dengan cara dibakar atau burn itulah yang kemudian berkembangan menjadi kata brand yang kita kenal saat ini,” kata Ung.

Ung juga memberikan contoh-contoh karya kreatif di dunia periklanan yang memberikan kesan menarik bagi konsumen. Terlebih lagi dengan produk iklan dari Thailand yang cenderung bebas.

Dia juga menampilkan karya-karya desainnya yang menang dan dipamerkan di berbagai negara. Ung meyakinkan, di era disrupsi ini, dunia periklanan tetap akan berkembang, karena makin banyak kemudahan, di antara dengan bantuan AI.

Siapkan Workshop

Sementara itu Ketua PPPI Jateng Ernie Frimianti dalam perbincangan di sela acara menyebut, munculnya AI pasti akan berdampak pada industri kreatif, termasuk di bidang periklanan.

“Bagi yang mau maju harus mau memanfaatkan artifisial intelligence. Kami mengajak teman-teman PPPI Jateng untuk bisa mengikuti workshop yang kami adakan ke depan. Saya sudah sampaikan, yang berminat mengikuti untuk segera sampaikan ke kami,” kata Ernie.

R. Widiyartono