
Oleh : Fahrudin
Hampir setengah abad tradisi Wiwitan dalam masyarakat agraris di Jepara mulai meredup. Bahkan cenderung menuju punah. Namun tidak demikian di Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji, Jepara. Di desa yang konon adalah desa tertua di Jepara ini sejak tiga tahun mulai menggelar kembali tradisi Wiwitan. Para petani di Dukuh Setro “gumregah” untuk kembali menghidupkan tradisi warisan leluhur. Dan musim panen tahun 2025 ini, kelompok tani di Dukuh Ngipik akan menggelar acara yang sama.
Wiwitan adalah bagian dari upacara tradisional dalam budaya Jawa yang dipraktikkan oleh para petani sebelum mereka memanen hasil padi mereka. Asal usul kata “Wiwitan” berhubungan dengan “wiwit,” yang berarti “memulai,”. Ini diartikan sebagai tahap sebelum proses panen padi dimulai.

Upacara Wiwitan biasanya berlangsung di sawah dan dipimpin oleh seorang tokoh yang dihormati masyarakat setempat. Pemimpin upacara akan membacakan doa-doa khusus. Selain itu, dalam Wiwitan juga ada ritual makan bersama untuk mempererat ikatan sosial.
Makna dan filosofi di balik tradisi Wiwitan yang dijalankan oleh masyarakat Jawa adalah merupakan ekspresi rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah yang telah mereka tanam yang siap panen.

Selama prosesi Wiwitan, berbagai makanan seperti tumpeng robyong, pisang sanggan dan jajanan pasar diperlukan, dan kemudian mereka disantap bersama oleh para hadirin serta anggota kelompok petani.
Tradisi ini jika dilaksanakan secara pribadi sering disebut dengan acara “Methil”. Sedangkan jika ini dilaksanakan dalam kelompok yang lebih besar disebut sebagai Wiwitan.
Tradisi yang diperkirakan sudah ada di tanah Jawa sebelum masuknya agama agama ini adalah sebuah doa persembahan dan penghormatan terhadap Dewi Sri atau dewi padi atau dewi kesuburan. Ada harmonisasi yang terus dijaga antara manusia alam dan Sang Pencipta.

Bagi orang yang sekarang sudah berusia 50 tahunan kemungkinan besar memiliki memori tentang tradisi ini. Namun bagi anak muda, tentunya banyak tidak tahu ritual ini dan mungkin hanya belajar dari teks buku ajar
Padahal mengenalkan produk-produk kebudayaan atau tradisi yang baik kepada anak anak, juga masyarakat menjadi sangat penting dalam rangka menanamkan rasa cinta pada tanah air dan rasa hormat kepada para luluhur. Bahkan karakter bangsa.
Hal ini pulalah yang mengusik pikiran seorang anggota DPRD Jepara Nur Khamid dari Fraksi PKB. Bersama Amin Ayahudi, seorang tokoh masyarakat Desa Kawak, Pakis Aji serta para pemudanya yang dimotori oleh Ari Afandi menggagas acara Wiwitan ini di desa Kawak yang rencananya akan digelar di hari Sabtu, 5 April 2025 ini, mulai pukul 08.30 Wib.

Acara ini akan dipusatkan di persawahan Dukuh Ngipik, blok Kali Sedandang yang berbatasan dengan Desa Jambu Timur. Tepatnya di sebuah destinasi wisata baru bernama WTS: Warung Tengger Sawah.
Acara ini didukung pula oleh masyarakat petani setempat, Pemerintah Desa Kawak, seniman tari, karawitan, juga reog dari desa Troso yang dipimpin oleh mbah Salam. Para pelaku kesenian Jepara, wartawan juga sudah banyak yang bersedia untuk setidaknya hadir dan memberi dukungan penuh kepada acara ini.
Desa Kawak yang mengemban predikat sebagai Desa Budaya di Kabupaten Jepara ini memang memiliki banyak kelebihan. Dilihat dari posisi geografis Jepara yang berada di antara laut dan gunung, Desa Kawak berada hampir di tengah tengahnya. Desa kecil ini juga merupakan desa Kriya karena banyak usaha kerajinan seperti patung, Anyaman Bambu, ukir kayu, dan kaligrafi. Puluhan tahun lamanya Kawak menjadi penyangga bagi Pasar kerajinan Kayu Belakang Gunung, Desa Mulyoharjo yang berada di Kota.
Kerajinan kayu maupun bambu Desa Kawak pun mengalami pasang surut. Pada saat saat tertentu Kerajinan Desa Kawak menjadi perhatian khusus instansi instansi yang membidangi hal ini. Dari tingkat Kabupaten sampai tingkat Nasional. Kawak selalu menjadi primadona dalam dalam hal kerajinan.
Karenanya ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat dan bisa saja hal ini menjadi rekor Nasional maupun Internasional. Misalnya ukiran kayu Garuda Pancasila, lambang negara kita yang sekarang tersebar ke seluruh Indonesia, kemungkinan terbesarnya adalah dibuat oleh orang para perajin dari desa ini.
Karena sepengetahuan saya ada perajin ukiran Garuda Pancasila yang berpuluh puluh tahun khusus memproduksi ini. Berganti generasi ke anak. Bahkan kecucu atau cicitnya. Hal ini menarik bagi saya untuk melihat peluang masuknya perajin ukiran Garuda Pancasila sebagia pemecah rekor dan tercatat di museum rekor. Hal ini juga sangat mungkin untuk Meneliti kemungkinan terpecahnya rekor – rekor baru di dunia kerajinan ukir.
Gelaran tradisi Wiwitan kali ini adalah awal untuk menata kembali potensi potensi penting yang dimiliki suatu desa untuk diintegrasikan secara maksimal agar melahirkan potensi ekonomi yang mensejahterakan masyarakat dan menjadi atraksi wisata budaya yang menarik, ramah sejarah, ramah budaya dan ramah lingkungan. Tradisi Wiwitan jika terkelola dengan baik dan konsisten bisa menjadi investasi pariwisata potensial.
Penulis adalah pegiat budaya Jepara













