Oleh : Hadi Priyanto
Setelah Pangeran Puger naik tahta dengan gelar Paku Buwono I, Ki Wuragil diangkat menjadi Bupati Prang Wedono Brang Ler Tanah Jawa dengan tugas menumpas pemberontakan yang terjadi di wilayah utara pulau Jawa. Juga untuk membersihkan lelembut yang ada di sekitar gunung Muria.
Karena itu atas petunjuk Paku Buwono I, Ki Sutojiwo diminta mendampingi adiknya Ki Wuragil. Sebab Pakubuwono mengetahui bahwa Ki Sutojiwo sangat sakti. Konon kesaktian ini didapat karena Ki Sutojiwo adalah anak hasil perkawinan Tumenggung Reksojiwo dengan saudara Kanjeng Ratu Kidul. Disamping itu Ki Sutojiwa dikenal gentur tirakat untuk menjalani laku dan olah kanugaran.
Sebelum berangkat “ngayahi jejibahan”, Paku Buwono I juga berpesan agar Ki Wuragil Jiwosuto setelah sampai di Jepara untuk “naruh” atau menyapa Nyai Daruni, penguasa alam gaib yang menguasai hutan dan pesisir sebelah utara Jepara. Nyai Daruni jika tidak disapa sering kali membuat “rubedo” atau halangan bagi siapapun. Namun jika telah disapa akan dapat menjadi teman jika ada persoalan-persoalan besar.
Dengan restu Paku Buwono I, kedua kakak beradik putra Raden Tumenggung Reksojiwo berangkat ke Semenanjung Muria yang ada di wilayah Kudus dan Jepara. Mereka juga didampingi beberapa abdi. Tentu setelah sampai Jepara Ki Wuragil Jiwo Suto beberapa hari kemudian segera melaksanakan titah junjungannya dengan disertai kakaknya Ki Sutojiwo.
Ia kemudian bertapa dan tirakat “maluwang” atau bertapa di dalam tanah di hutan Jambu, sebelah utara distrik Tayu. Tempat Ki Wuragil Jiwo Suto “maluwang” itu kemudian menjadi dusun Luwang, distrik Margo Tuwu di Tayu Juana.
Konon dalam cerita tutur dikisahkan, tirakat Ki Wuragil Jiwo Suto diterima dan bisa bertemu dengan Nyai Daruni. Bahkan kemudian mereka menikah dan memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang perempuan bernama Daruno. Namun mati muda karena tenggelam di Wedelan. Sedangkan anak kedua bernama Raden Bagus Jiwosuto.

Setelah kakaknya meninggal, akhirnya Raden Bagus Jiwosuto diasuh dan menyertai Ki Sutojiwo yang sedang menjalani laku, lelono broto. Raden Bagus Jiwosuto konon setelah dewasa menjalani laku di pinggir laut penuhi karang. Ia kemudian mukso. Tempat itu konon sekarang menjadi Kelurahan Karang Kebagusan, Kecamatan Jepara.
Ki Sutojiwo kemudian melakukan ikhtiar untuk membersihkan lelembut yang sering mengganggu penduduk di sekitarnya. Sementara Ki Wuragil menjalankan tugasnya sebagai Bupati Prang Wedono Brang Wetan Tanah Jawa. Ia memberikan nasehat para bupati di pesisir timur pulau Jawa mulai Demak, Jepara, Kudus hingga Tuban, untuk menjalankan titah Paku Buwono I.
Setelah Bupati Jepara Sujonopuro gugur dalam perang Bali, Ki Ragil Jiwosuto kemudian diangkat untuk menggantikannya sebagai Wedono Bupati Jepara dengan gelar Ki Tumenggung Tjitrosomo I. Ia tinggal di rumah besar yang sebelumnya ditempati para bupati sebelumnya di wilayah yang kini dikenal sebagai Kawasan Bonjot.
Dengan kerja keras Adipati Tjitrosomo I membangun Jepara melanjutkan perjuangan para adipati sebelumnya dengan pusat pemerintahan berada diseputar keraton Ratu Kalinyamat. Namun setelah beberapa lama ia juga membangun rumah pribadi yang tidak jauh dari rumah dinas bupati. Rumah tersebut dekat dengan sendang yang airnya sangat bersih. Konon Adipati Tjitrosomo I juga membangun langgar di dekat rumahnya. Di belakang langgar itu Ki Adipati Tjitrosomo I kemudian dimakamkan.
Sementara kakaknya, Ki Sutojiwo setelah beberapa lama menjalani laku di rumah kadipaten untuk memohon kepada Hyang Kuasa agar Ki Adipati Tjitrosomo I dapat mengemban amanat Paku Buwono I, pamit untuk menjalani laku. Kepada adiknya ia berpesan bahwa ia tidak akan meninggalkan Kadipaten Jepara.

Perkutut Putih
Konon dalam laku lelono broto, ia juga ziarah ke makam Ratu Kalinyamat di Mantingan. Setelah beberapa hari berada di makam tersebut, Ki Sutojiwo meneruskan laku. Ia juga mengunjungi makam dan keramat, termasuk Benteng Ratu Kalinyamat yang kini dikenal sebagai Loji Gunung. Di tempat-tempat yang dikunjungi Ki Sutojiwo senantiasa memohon agar Jepara dijauhkan dari segala mara bahaya.
Dengan mengikuti suara hatinya, akhirnya Ki Sutojiwo yang memilih berjalan dengan menyusuri pantai sampai sebuah wilayah yang berada di pinggir laut. Jaraknya kurang lebih 200 meter. Tempat tersebut belum ada penghuninya. Kini tempat tersebut bernama dukuh Ngelak Mulyo yang ikut Distrik Banjaran. Saat ini padukuhan tersebut ikut wilayah Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara.
Di tempat yang dipilih oleh Ki Sutojiwo ada pohon ketapang yang sangat besar dan rimbun. Ia berteduh sejenak karena hari sangat panas. Juga untuk beristirahat. Namun karena dirasa cocok maka Sutojiwo memilih untuk menjalani laku di tempat tersebut. Ia bahkan kemudian membuat rumah kecil beratapkan daun ilalang tak jauh dari pohon tersebut. Juga membersihkan lokasi yang ada disekitarnya.
Pada suatu saat Sutojiwo mendengar suara burung perkutut berkicau dengan merdu yang sangat menarik perhatiannya. Ki Sutojiwo kemudian berdiri dan mencari dari arah mana perkutut itu berbunyi hingga ia menemukan. Ternyata burung perkutut itu warna bulunya putih bersih. Melihat burung perkutut putih yang suaranya merdu itu ia terpikat. Juga ingin memiliki burung tersebut
Ia mencoba mendekati, tetapi burung itu justru terbang dan hinggap di didahan pohon ketapang. Sutojiwo tidak berpikir panjang, lalu ia memanjat pohon ketapang itu. Ketika tangan Sutojiwo tinggal satu jengkal saja dari burung tersebut, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga burung perkutut itu terbang. Dengan sigap Sutojiwo terjun ke tanah dan mengejar kemana arah terbangnya perkutut buruannya.
Tiba-tiba perkutut terbang kearah rerimbunan dan hilang di dahan pohon yang besar. Hati Suto Jiwo sangat kecewa. Dia sangat menginginkan burung perkutut sehingga sampai berhari-hari dia diam ditempat itu hanya untuk menunggu dan mencari perkutut putih. Harapannya burung itu muncul lagi agar ia dapat menangkapnya. Namun setelah menungggu berhari-hari, minggu dan bulan burung perkutut putih itu tidak pernah muncul. Juga tidak pernah lagi terdengar suaranya.
Kisah pertemuannya dengan burung perkutut putih itu juga diceriterakan kepada adiknya, Ki Adipati Tjitrosomo saat ia mengunjungi rumah kadipaten beberapa waktu kemudian. Ki Sutojiwo juga mengungkapkan keinginannya untuk memiliki burung tersebut walaupun harus menjalani laku yang berat dan lama.
Setelah kembali dari mengunjungi adiknya, Ki Sutojiwo sangat gembira. Sebab ia mendengar kembali suara burung perkutut yang demikian dirindukan. Namun terdengar sangat jauh. Ia kemudian bergegas mencari ke arah utara tempat suara burung perkutut tersebut. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya Ki Sutojiwo menemukan burung tersebut hinggap di pohon pandan. Burung perkutut putih itu terus berbunyi, walaupun Ki Sutojiwo telah berada di bawahnya. Namun ketika akan ditangkap, burung itu kembali terbang ke arah utara.
Tentu Ki Sutojiwo kemudian mengikuti ke arah burung perkutut itu terbang. Ia tidak kesulitan menemukan, sebab burung itu kemudian berbunyi lagi ketika telah hinggap di dahan sebuah pohon yang dibawahnya ada mata air yang sangat jernih dan tawar. Konon mata air ada karena ikhtiar Ki Sutojiwo yang ingin membantu orang-orang yang membutuhkan.

Setelah beberapa lama menikmati suara burung perkutut putih, Ki Sutojiwo kemudian bermaksud menangkapnya. Namun kembali burung itu terbang dan hinggap di dahan pohon yang tak jauh dari tempatnya semula. Ki Sutojiwo kemudian mengejarnya kembali.
Peristiwa ini terus berulang hingga malam tiba. Walaupun saat itu bulan purnama, Ki Sutojiwo memutuskan untuk kembali ke tempatnya. Harapannya, esok harinya ia akan kembali mencari burung perkutut putih tersebut. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, ia membasuh mukanya dengan air dari sendang tersebut.
Sesampainya di bawah pohon ketapang, ia kemudian kembali bersemedi. Tujuannya mendapatkan burung perkutut putih yang telah menyita perhatiannya. Di tengah-tengah kekhusukannya, tiba-tiba ia merasa didatangi seorang laki-laki berjubah hitam. Sutojiwo tentu terkejut. Namun dia bersikap tenang dan sopan. Sutojiwo kemudian bertanya kepada laki-laki tua yang berpakaian hitam dihadapannya. Orang itu menjawab bahwa ia adalah Kyai Ireng. Perbincangan semakin akrab dan mengarah pada maksud tujuan datang ketempat itu.
Pada awalnya Sutojiwo tidak mau berterus terang pada Kyai Ireng soal burung perkutut putih yang menjadi pusat perhatiannya. Tapi akhirnya ia bercerita juga dan gayung pun bersambut. Kyai Ireng telah mengetahui apa yang menjadi tujuan dari Sutojiwo. Akhirnya Kyai ireng pun mengatakan bahwa burung perkutut putih yang diinginkan oleh Sutojiwo adalah burung piaraannya.. Sutojiwo langsung bertanya, apa boleh burung perkutut itu diminta?.
Kyai Ireng berkata, boleh tapi ia mempunyai permintaan asalkan Sutojiwo mau memperistri anak dari Kyai Ireng yang sangat buruk rupa. Sesaat Sutojiwo terdiam, namun akhirnya ia bersedia memperistri anak dari Kyai Ireng. Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka di rumah kecil yang terletak di tepi pantai yang disekitarnya banyak ditumbuhi pandan. Kyai Ireng lalu menyuruh Sutojiwo untuk menemui calon istrinya. Sutojiwo bingung karena setelah masuk ke rumah ternyata tidak ada manusia dan anehnya, di atas tempat tidur terdapat burung perkutut putih yang disukainya.
Suto Jiwo mendekat ke arah burung perkutut putih. Anehnya, burung perkutut itu sangat jinak dan bisa dipegang oleh Sutojiwo. Ketika burung itu berada di genggaman Sutojiwo, tiba-tiba petir dan hujan menyambar dan asap tebal menyelimuti tubuh burung perkutut putih itu. Dalam sekejap burung itu berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik . “Itulah Dewi Kukilowati istrimu”, kata Kyai Ireng.
Kyai Ireng dan kemudian memberinya jubah yang berwarna hitam sama dengan yang dipakai Kyai Ireng. Saat jubah hitam dipakai, Sutojiwo tidak kelihatan wujudnya dan Mbah Ireng pun berkata : “Sutojiwo sun paringake jubah kotang gondril ireng marang sira. Nanging sira kudu eling marang gegayuhanmu, lan sira kudu sabiyantu marang adimu. Pawelingku yaiku yen dadi ksatriyo kudu kang pinunjul lan kautamaning satriyo yoiku ngluruk tanpo bala, menang tanpa ngasorake dan sugih tanpo bandha”.
Walaupun tidak terlihat, masyarakat Jepara percaya, Eyang Sutojiwo menjadi salah satu pengayom masyarakat Jepara. Karena itu saat ini petilasan Eyang Sutojiwo di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri masih saja banyak dikunjungi peziarah yang ngalap berkah, utamanya saat Jumat Wage. Mereka bukan hanya dari warga Jepara, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa.
Ki Sutojiwo juga dikisahkan memiliki hubungan di alam gaib dengan Kyai Tunggul Wulung dan Endang Sampurna Wati.
Petilasan Eyang Sutojiwo
Petilasan Eyang Sutojiwo semula dibangun oleh R. Sukamto, Kepala Kepolisaan Jepara sekitar tahun 1960. Baru kemudian pada tahun 2007 dibangun bangunan yang cukup besar saat Hendro Martojo menjabat Bupati Jepara. Bangunan tersebut terdiri dari pendopo, ruang padupan dan ruang ritual yang terdiri dari kamar petilasan Eyang Sutojiwo dan ruang peziarah yang datang ngalap berkah. Dalam ruang petilasan tersebut terdapat tempat tidur dengan sprai, bantal, guling yang dibungkus kain hitam. Sedangkan kelambu berwarna putih.
Orang yang datang ngalap berkah duduk lesehan didepan kamar petilasan sembari berdoa sembari menaikkan doa apa yang menjadi keinginannya. Mereka tidak boleh masuk ke kamar petilasan. Namun sebelum masuki ruang ritual tersebut peziarah terlebih dahulu menjalani prosesi di ruang padupan untuk membakar menyan dan juga memberikan bunga.
Di depan petilasan tersebut juga dibangun mushala yang cukup besar untuk para peziarah. Sebagian besar bangunan tersebut dibiayai oleh Pak Marsono, salah satu mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Jepara.
Disamping itu sejak Tjitrosomo III memindah pendopo bupati dari Bonjot ke tempat yang sekarang, ada satu ruangan khusus di rumah dinas bupati untuk Eyang Sutojiwo. Letaknya di bagian belakang rumah dinas Bupati Jepara dengan ukuran 2 x 3,5 meter. Dalam ruangan tersebut terdampat tempat tidur yang dilengkapi kelambu, sprai dan bantal yang dibungkus dengan kain putih. Juga ada sesaji yang terdiri dari kembang telon, kembang kantil dan bunga mawar yang ditaruh di atas kasur.
Sementara di meja kecil yang berada disamping kanan tempat tidur ada sesaji berupa kelapa muda, kopi pahit, arang-arang kambang dan rokok siong. Setiap Kamis siang dilakukan penggantian ubo rampe sesaji. Untuk penggantian kelambu, kasur, sprai dan bantal dilakukan setiap terjadi pergantian bupati.
Untuk mengenang dan mendoakan Ki Sutojiwo setiap tahun sekali di petilasan Eyang Sutojiwo di Ngelak Mulyo, Bondo diadakan peringatan Haul yang jatuh pada pada hari Senin Pahing pada bulan Apit.
Disamping itu sejak Tjitrosomo III memindah pendopo bupati dari Bonjot ke tempat yang sekarang, ada satu ruangan khusus di rumah dinas bupati untuk Eyang Sutojiwo, lengkap dengan sesaji. Bukan hanya itu, di bekas Pabrik Gula Bonjot juga ada ruang khusus untuk Eyang Sutojiwo. Semua ini menunjukkan bahwa Eyang Sutojiwo telah menjadi salah satu kekuatan kultural masyarakat Jepara. Sebab kedatangannya sekitar tahun 1708 ke Jepara adalah untuk melindungi kota ini
Sumur Towo
Tak jauh dari petilasan Eyang Sutojiwo, sekitar 1 km ke arah utara, terdapat juga situs Sumur Towo. Letaknya di Ombak Mati, Desa Bondo. Walaupun jarak dari pantai hanya sekitar 15 m tetapi airnya tawar. Di dekat sumur yang dulu berdiri pohon Kendayaan. Sumur ini konon dibuat oleh Eyang Sutojiwo dengan mengambil air dari Demak setelah menjalani laku di Puncak Songolikur yang merupakan puncak tertinggi pegunungan Muria. Sebelumnya ia juga menjalani laku di Candi Angin. Tujuan utamanya agar Kadipaten Jepara di jauhkan dari segala malapetaka.
Sedangkan sumur tersebut tujuan untuk membantu warga yang membutuhkan. Karena itu sampai saat ini banyak orang yang datang dari berbagai kota untuk meminta srono atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Sumur Towo ini berdasarkan cerita rakyat juga ada kaitannya dengan Kyai Ireng, penguasa alam gaib yang kerajaannya berada Karang Pandan, Ombak Mati turut Desa Bondo. Kyai Ireng konon penguasa laut utara Jawa. (*)
Penulis, bersama Ulil Abshor adalah penulis buku Adipati Tjitrosomo Jejak Pengabdiannya di Pesisir Timur Utara Jawa













