SEMARANG (SUARABARU.ID) – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Melalui Program TJSL Pertamina (Corporate Social Responsibility), perusahaan tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan.
Mereka juga aktif mendorong pertumbuhan usaha mikro dan kecil (UMK) berbasis kearifan lokal. Langkah ini menjadi bagian penting dari pendekatan bisnis terintegrasi yang menyasar sektor ekonomi, sosial, dan tata kelola yang akuntabel.
Secara nasional, program ini menyasar berbagai wilayah strategis, termasuk Provinsi Jawa Tengah. Pertamina merancang program ini untuk membina pelaku usaha kecil agar mereka menjadi lebih tangguh dan mandiri.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan menerapkan lima prioritas utama, yaitu fokus pada dampak nyata, perbaikan tata kelola, pemanfaatan teknologi, keterlibatan karyawan, dan penguatan kolaborasi.
Selanjutnya, pelaksanaan program ini juga berorientasi pada pencapaian 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Pertamina menggunakan pedoman ISO 26000 sebagai standar global dalam mengeksekusi program pemberdayaan masyarakat.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Menteri BUMN yang meminta program CSR berfokus pada tiga bidang utama, yakni pendidikan, lingkungan hidup, dan pengembangan UMK kelokalan.
Berkat konsistensi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) sukses meraih berbagai penghargaan bergengsi. Pada awal 2024, mereka menyabet dua penghargaan dalam ajang Energy & Mining Editor Society (E2S) Award.
Penghargaan tersebut mengapresiasi inovasi sosial dan keterlibatan komunitas yang mereka bangun di wilayah operasional Jawa Tengah.
Inovasi Sosial Sektor Energi di Jawa Tengah
Area Manager Communication, Relations, & CSR JBT PT Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho, menyambut baik apresiasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi besar bagi timnya untuk bekerja lebih baik.
Prestasi ini terwujud karena regional JBT berhasil menaikkan jumlah capaian PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup secara signifikan.
“Kami berhasil meningkatkan raihan PROPER Emas di wilayah Jateng dan DIY. Dari empat lokasi pada tahun 2021, jumlahnya bertambah menjadi lima lokasi pada 2022, dan mencapai enam lokasi pada 2023,” ujar Brasto.
Salah satu program unggulan yang meraih penghargaan emas adalah Program Penderes Badeg Karangsari (Pendekar) dari Fuel Terminal Maos di Cilacap.
Program Pendekar berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pengadaan sarana produksi gula semut sejak tahun 2020. Selain itu, Pertamina juga mengelola Program Difabel Preneur di Fuel Terminal Boyolali.
Program ini memberikan ruang bagi kelompok disabilitas untuk berwirausaha secara mandiri dan produktif.
Tidak kalah menarik, Pertamina juga mengembangkan program Tanjungsari Agroculture untuk memberdayakan kelompok rentan perempuan. Mereka mengubah lahan kosong menjadi area pertanian hidroponik yang produktif.
Dari hasil panen tersebut, kelompok ini mampu menggerakkan program sedekah sayur bagi warga yang membutuhkan.
Kemudian, ada pula program SRIWEDARI yang sukses menanggulangi pencemaran enceng gondok di Waduk Cengklik. Masyarakat sekitar berhasil mengolah gulma tersebut menjadi energi alternatif biogas untuk memasak serta pupuk organik.
Berkat pengelolaan lingkungan yang rapi, DPPU Adi Sumarmo pun berhasil meraih prestasi tertinggi di level nasional.
Akselerasi Kurikulum Digital lewat UMK Academy
Selain pencapaian di bidang lingkungan, Pertamina juga sukses menggelar program bertajuk UMK Academy 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk meng-upgrade ilmu dan kapasitas 133 pelaku usaha kecil di wilayah Jateng dan DIY.
Program intensif ini berlangsung sejak awal Juni hingga akhir Juli 2024 dengan melibatkan mentor profesional.
Brasto menjelaskan bahwa UMK Academy tahun ini memiliki konsep yang berbeda dari periode sebelumnya. Jika sebelumnya peserta hanya berasal dari mitra binaan internal, kini Pertamina membuka kesempatan bagi pelaku usaha umum non-mitra. Program berjalan melalui dua fase utama, yaitu skala regional dan skala nasional.
Pada skala regional, para peserta wajib mengikuti delapan sesi kelas pelatihan intensif. Materi pelatihan berfokus pada empat kurikulum utama, yaitu Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global.
Metode pengajaran menekankan aspek praktis, dengan porsi 20 persen teori dan 80 persen aktivitas diskusi kelompok serta konsultasi langsung.
Para pemilik usaha kecil mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan sistematis ini. Eny Salima, pemilik usaha fesyen Fashionable is you asal Sleman, menyatakan bahwa materi pelatihan menyegarkan kembali pemahaman bisnisnya.
“Ilmunya sangat bermanfaat bagi perkembangan usaha kami,” katanya.
Hal senada disampaikan Danang, pemilik Global Agro Jaya dari Wonosobo, yang merasa lebih siap menghadapi pasar bebas.
Sebagai bentuk apresiasi, Pertamina mengadakan sayembara untuk memilih lima peserta terbaik untuk mendapatkan bantuan pameran. UMK yang terpilih antara lain Kub Global Agro Jaya, Kirana Ecoprint Borobudur, Batik Bengok, Batik Jinggar, dan Alfa Mabruk.
Pendampingan Izin Legalitas dan Sertifikasi Produk
Lebih dari sekadar pelatihan pemasaran, Pertamina juga mendorong legalitas usaha melalui sertifikasi Halal dan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Pertamina Patra Niaga Regional JBT memfasilitasi pendampingan ini secara intensif selama enam bulan bagi mitra binaan terpilih di Jateng dan DIY.
Senior Supervisor CSR & SMEPP JBT PT Pertamina Patra Niaga, Kevin Kurnia Gumilang, menegaskan bahwa langkah ini merupakan wujud komitmen BUMN. Pihaknya menyaring 12 mitra binaan terbaik melalui proses seleksi yang ketat untuk mengikuti program standarisasi produk ini.
Harapannya, kualitas produk mereka meningkat sehingga usaha mereka bisa naik kelas dengan cepat.
“Pertamina terus berupaya memberikan dampak nyata yang sejalan dengan visi perusahaan. Kami ingin membantu membangun perekonomian bangsa yang lebih sejahtera, mandiri, dan berdaya saing tinggi,” ungkap Kevin.
Menurutnya, program pendampingan ini terbukti membuahkan hasil manis bagi perkembangan usaha para mitra binaan dari nol.
Kisah sukses ini terlihat nyata pada bisnis kue kering dengan merek N&N Snack asal Kota Salatiga. Usaha ini didirikan oleh Sanyata, seorang pria berusia 53 tahun yang memiliki semangat juang tinggi. Sanyata berhasil bangkit dari keterpurukan masa lalu setelah usahanya sempat bangkrut total pada tahun 2004 silam.
Saat mengalami kebangkrutan 20 tahun lalu, Sanyata terpaksa menjual rumah dan kendaraan satu-satunya demi menutup kerugian. Ia sempat menyambung hidup sebagai buruh pabrik dengan penghasilan pas-pasan.
Namun, himpitan ekonomi justru memicu keberaniannya untuk merintis kembali usaha baru di bidang kuliner.
Kisah Inspiratif Bangkit dari Titik Terendah
Sanyata melihat peluang besar pada bisnis kue kering karena hidangan ini selalu ada di setiap rumah saat hari raya. Dengan modal nekat, ia mulai mempelajari cara memproduksi kue kering berkualitas secara otodidak dari rumahnya.
Dirinya berkomitmen penuh untuk menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil saat ia meraih penghargaan Best Influence Entrepreneur dari SMESCO pada 2017. Guna memperluas skala bisnisnya, Sanyata kemudian bergabung menjadi mitra binaan Pertamina pada tahun 2019.
Melalui Program Pendanaan UMK (PPUMK), ia mendapatkan suntikan modal usaha serta program pembinaan terarah.
Pertamina kemudian memfasilitasi N&N Snack untuk mengikuti ajang pameran bergengsi seperti SMEXPO Semarang pada akhir 2023. Fasilitas pameran ini berhasil mendongkrak omzet penjualan produknya secara signifikan.
Kini, produk N&N Snack telah bertengger di 30 pusat oleh-oleh ternama di Jawa Tengah dengan omzet mencapai belasan juta rupiah per bulan.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Firman Setiyaji, seorang pemuda berusia 33 tahun asal Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Firman sukses mendirikan Bengok Craft pada tahun 2019 untuk mengolah tanaman eceng gondok di Danau Rawa Pening.
Dirinya menyulap tanaman yang semula menjadi gulma merugikan tersebut menjadi aneka kerajinan tangan bernilai estetika tinggi.
“Kami mendirikan Bengok Craft dengan tiga tujuan utama. Kami ingin meningkatkan ekonomi warga, memberdayakan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan Rawa Pening,” kata Firman.
Saat ini, usaha kreatif tersebut telah berhasil mempekerjakan 20 orang warga sekitar yang didominasi oleh kelompok lansia dan ibu-ibu.
Perluasan Akses Pasar Menuju Tingkat Nasional
Para perajin Bengok Craft mengombinasikan berbagai teknik anyaman untuk menciptakan produk seperti tas, sandal, topi, dan keranjang. Untuk memperkuat manajemen bisnisnya, Firman memutuskan mendaftar dalam program Pertamina UMK Academy 2024.
Melalui pelatihan daring dan interaktif, ia memperoleh banyak ilmu baru mengenai inovasi produk dan strategi pemasaran modern. Keaktifan dan keunggulan inovasi yang dihadirkan Firman berhasil membawa Bengok Craft lolos ke tingkat nasional.
Brasto Galih Nugroho menambahkan bahwa seleksi UMK Academy ini berlangsung sangat ketat secara nasional. Dari total 8.000 pendaftar di seluruh Indonesia, hanya 5.500 peserta yang lolos ke tahap regional.
Khusus untuk Regional Jawa Bagian Tengah, tercatat 45 dari 133 peserta yang sukses menembus fase nasional pada bulan September. Peserta yang lolos akan mendapatkan program pendampingan lanjutan yang jauh lebih intensif.
Selain kelas daring, Pertamina juga menggelar pertemuan luring bertajuk Kopi Darat di kota Semarang, Solo, dan Yogyakarta.
Dua contoh nyata dari Sanyata dan Firman Setiyaji menegaskan keberhasilan Program TJSL Pertamina dalam menyentuh akar rumput.
Pertamina tidak sekadar memberikan bantuan dana bergulir secara cuma-cuma kepada para pelaku usaha mikro di Indonesia. Namun, mereka memberikan paket pembinaan komprehensif mulai dari pelatihan mental, legalitas, hingga akses pasar global.













