“Karenanya, maklum jika nomor induk mahasiswa beliau saat itu adalah 933. Dua tahun mengenyam bangku kuliah, beliau dinikahkan dengan Kiai Sahal Mahfudh yang sebenarnya masih terhitung saudara dari garis mbah kakungnya, Kiai Bisri Syansuri,” terang Ning Tutik.

Menurut Ning Tutik, Nyai Nafisah sangat beruntung karena menikah dengan Kiai Sahal Mahfudh yang memberikan kesempatan untuk melanjutkan kuliah hingga tuntas. Kiai Sahal pun terus membersamai. Kedua pasangan ini saling mendukung dan menguatkan dalam membangun rumah tangga, mendidik anak bangsa, serta berkiprah di masyarakat.

Saat kuliah, Nyai Nafisah sempat diajar oleh Prof Hasbi Ash-Shiddieqy dan KH Ali Maksum Krapyak. Ning Tutik menceritakan satu hal yang sangat berkesan, saat Nyai Nafisah diajar oleh Kiai Ali Maksum pada mata kuliah tafsir, tepatnya ketika tiba ujian semester

Berbagai Perjuangan

Kiprah Nyai Nafisah Nyai Nafisah Sahal memiliki kiprah di berbagai bidang perjuangan. Baik dalam bidang pendidikan, politik, maupun organisasi sosial keagamaan. Di ranah politik, Nyai Nafisah pernah tercatat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Di ranah pendidikan, Nyai Nafisah adalah pendiri Pesantren Putri Al-Badi’iyyah, Lembaga Pendidikan Terpadu Sekolah An-Nismah, Guru di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, dan Penggagas Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri (Hismawati).

“Sedangkan di ranah organisasi sosial kemasyarakatan, Nyai Nafisah tercatat pernah menjadi ketua Pengurus Cabang Muslimat NU Kabupaten Pati, Ketua Pengurus Wilayah Muslimat NU Provinsi Jawa Tengah, Dewan Pakar Pengurus Pusat Muslimat NU, dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” terang Ning Tutik.

Di era kepemimpinan KH Said Aqil Siroj, Nyai Nafisah juga tercatat sebagai salah satu dari tiga ulama perempuan yang berada dalam jajaran Mustasyar PBNU, bersama Nyai Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Prof (almh) Huzaeman Tahido Yanggo.

**-wied