WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Ngumpulke balung pisah, adalah upaya menyatukan kembali keluarga besar (trah) kekerabatan. Yakni kerabat yang ada kaitannya dengan garis silsilah keturunan.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Trah Eyang Kariyodikromo-Parinem (TEKP) dalam wadah Paguyuban Manunggal Wonogiri misalnya. Minggu (9/10), mereka menggelar pertemuan trah untuk mempererat tali silaturahmi agar tidak terputus persaudaraannya.
Pertemuan digelar di rumah Lasno-Ny Suwarni, di Lingkungan Joho Lor, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Salah satu anggota trah, Suwarman, mengatakan, upaya ngumpulke balung pisah kali ini merupakan yang keenamkalinya. Pertemuan sempat terhenti karena ada pandemi Covid-19. Pertemuan rutin, akan diadakan kembali setiap dua bulan sekali pada Minggu Kedua.
Pembentukan paguyuban digagas oleh Suwarman-Ny Purwanti, didukung keluarga tua Sardiyatmo, dengan maksud menyatukan trah dari Warinem (Alm),
Wardi Warsodikromo (Alm), Paimo Parsono (Alm), Wariyo Kadir dan Ny Warini.
Saling Mengenal
Pada pertemuan tersebut, keluarga dari Warino (Alm) serta Gono Suwarmin (Alm) belum bisa hadir karena bermukim di Lampung dan Jakarta.
Ketua Paguyuban Manunggal, Sardiyatmo, mengajak semua yang hadir untuk mendoakan Almarhum Eyang Kariyodikromo dan Almarhumah Eyang Parinem sebagai induk leluhur, agar diberi ampunan atas dosa kesalahannya dan dianugerahi surga di sisi Allah SWT.
Tujuan dibentuknya paguyuban, tandas Sardiyatmo, untuk menjalin tali silaturahmi ben ora kepaten obor (agar tetap saling mengenal, maksudnya). ”Siapapun yang masih terhubung tali kekerabatan trah, wajib melestarikannya secara turun temurun,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, diisi siraman rohani oleh Sularno. Kepada semua anggota trah, diingatkan agar jangan sombong atau merasa paling baik, paling benar atau paling bisa. ”Kedepankan rasa syukur. Bila rezekinya berlebih, harus tetap berhemat dan membiasakan menabung,” ujarnya.
Kepada semua anggota trah, diajak untuk tidak menghambur-hamburkan harta dan menghindarkan sikap konsumerisme.
Bambang Pur













