blank
Wali Kota Bogor Bima Arya (kelima dari kiri) bersama Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim (keempat dari kiri) dalam peringatan ke-57 Hari Kesehatan Nasional bersama jajarannya. Foto: Ant

BOGOR (SUARABARU.ID)  – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengingatkan bahwa saat ini persoalan kesehatan bukan hanya covid-19, melainkan kanker, gizi kronis atau kekerdilan, Open Defection Free (ODF) atau stop buang air besar sembarangan dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang perlu terus ditangani.

“Jika semua kerja keras dan bersama-sama tidak ada yang tidak bisa dicapai. Jangan terkuras isu pandemi covid-19 yang menguras hati, sisakan ruang-ruang kesiapan kita untuk menangani kesehatan dari hulu ke hilir,” katanya di Kota Bogor, Sabtu.

Tantangan Kota Bogor, kata Bima, target 2024 yang ditetapkan seharusnya kekerdilan lebih rendah dari 10,7, bahkan lima persen. Pada Puncak Hari Kesehatan Nasional ke-57 tingkat Kota Bogor di Puri Begawan, Jumat (10/12), ia meminta Dinas Kesehatan jangan hanya kuratif dan rehabilitative.

“Dinkes harus preventif, promotif juga penting untuk mengajak semua bergerak menerapkan pola hidup bersih, menggelorakan semangat olahraga menjadikan Kota Bogor sebagai kota peduli kesehatan sesuai turunan dari visi Kota Bogor,” kata Bima Arya.

Bima menyampaikan ada tiga hal yang dilakukan Kota Bogor dalam menghadapi dan menangani bidang kesehatan, khususnya di masa pandemi covid-19, yakni kolaborasi, indahnya inovasi dan kesabaran tanpa henti dari semua pihak.

“Kata kuncinya, ketika bertugas adalah melampaui tupoksi, berpikir melampaui tupoksi, bekerja sama, berkolaborasi dan terus melakukan inovasi,” kata Bima Arya.

Pada kesempatan itu, Ketua Satgas COVID-19 Kota Bogor ini menyampaikan apresiasi secara khusus kepada Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro dan Dandim 0606/Kota Bogor Kolonel Inf Roby Bulan atas kegigihannya melakukan inovasi membantu menangani pandemi di kota ini.

Menurut Bima, hasil yang didapat tidak hanya bermanfaat bagi Kota Bogor, tetapi juga menjadi bench marking bagi daerah lain di Indonesia, di antaranya penerapan Ganjil Genap, pelantikan para kepala dinas menjadi direktur vaksin berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Hari ini situasinya berbeda, tapi harus disyukuri, jadikan masa sulit yang kita lewati menjadi pembelajaran bagi kita semua. Ini adalah hasil kesabaran semua, tapi semua tetap harus antisipasi dan tidak boleh lengah,” tegasnya.

57 Tahun

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno menyampaikan 57 tahun bukan waktu singkat, telah banyak upaya kesehatan yang dilakukan untuk mewujudkan Kota Bogor yang sehat.

Namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi bersama, tidak hanya covid-19, tetapi juga beban ganda penyakit, seperti masih tingginya penyakit menular dan tidak menular. Penyakit degeneratif, hipertensi, jantung, kardiovaskuler, stroke, dan kanker yang angkanya semakin meningkat.

Selain itu, tengkes, status gizi, sanitasi, kesehatan lingkungan, dan menurunkan angka kematian ibu serta bayi yang menjadi program prioritas nasional maupun Kota Bogor. “PR bersama lainnya adalah sanitasi, kesehatan lingkungan dan ODF,” sebutnya.

Retno menuturkan rangkaian kegiatan Hari Kesehatan Nasional ke-57 Tingkat Kota Bogor dilaksanakan selama November 2021 dengan seluruh jajaran fasilitas kesehatan dan seluruh organisasi profesi kesehatan. Mulai dari penyuluhan kesehatan, Geber covid-19, sidak KTR, talkshow terkait sehat dalam masa pandemi, pengabdian masyarakat, pemberian sarana prokes, donor darah, pencanangan komitmen cegah kekerdilan.

“Peringatan ini menjadi momentum untuk bersyukur, karena kondisinya sudah cukup melandai dibanding kasus bulan Juli 2021. Bahkan, Sabtu dan Minggu lalu nol kasus, harus dipertahankan. Capaian vaksinasi mencapai 89,43 persen, namun 460 nakes di kota ini terpapar covid-19varian delta,” katanya.

Ant