blank
Bupati dr Mirna Annisa saat memberikan sambutan di salah satu acara.(FOTO:SB/Doc)

KENDAL(SUARABARU.ID)-Bupati Kendal dr. Mirna Annisa, akhirnya angkat bicara terkait simpang siur cerita yang berkembang di masyarakat, saat dirinya ngobrol bareng dengan Cabup Ustadz Ali Nurudin, di Alun- alun Kendal, beberapa hari lalu.

Bahkan, kabar yang berkembang, Mirna Annisa telah mengumpulkan para Camat, Kades dan perangkatnya untuk mempengaruhi memilih Cabup Ustadz Ali Nurudin, nomor urut dua(Nurani).

“Saya ini bukan tim sukses. Kalau saya nyuruh ASN, aku namanya bodoh. Saya hari Jumat(04/12/2020) sore, jalan- jalan terus tiba- tiba Ustadz Ali Nyusul saya. Padahal yang ngomong akan bertemu dengan saya bukan Ustadz Ali, demi Allah Rosullulloh. Bearti saya kan diakali to?, makanya saya senyum- senyum saja. Kalau saya menggiring kemana- mana rasanya tidak. Apalagi menyuruh untuk mencoblos nomor urut dua. Nggaklah. Aku bilange, salam cinta, supaya damai,”kata Mirna Annisa kepada sejumlah wartawan lewat daring, Sabtu(05/12/2020).
.
Sementara terkait dirinya dilaporkan ke Bawaslu oleh salah satu Ormas, dirinya mengaku, bahwa itu hak mereka orang untuk melapor. Cuma kapasitas mereka melapor itu apa?. Karena dirinya bertemu dengan Cabup sudah lepas jam dinas.

“Saya tidak memakai fasilitas pemerintah. Itu juga tempat umum. Bukan lingkungan pemerintah. Mereka datang juga sudah memakai masker, terus pelanggaran protokol kesehatannya dimana?,”tanya Mirna Annisa.

Mirna mengatakan, jika memang ada rekaman, ada gambar dan saksi juga ada, Mirna justru mempersilakan Bawaslu untuk mengusutnya. Itu tandanya, bahwa Paslon- paslon lain tidak percaya diri.

“Harusnya masyarakat Kendal cerdas saja. Sampai segitunya ngurusi saya yang jelas tidak bisa maju nyalon. Masak intervensinya berlebihan,”tegas Mirna.

Menurut Mirna, saat dirinya ngobrol dengan Ustadz Ali Nurudin dan ditemani oleh Ketua DPRD Kendal, Moh Makmun, hanya menyampaikan sudut pandang politik, dan sudut pandang Pilkada. Dan dirinya tidak memaksa orang- orang yang datang di lokasi untuk memilih atau menyebut nomor satu, dua dan tiga.

“Saya hanya menyebut, ketiganya itu saya kenal jauh sebelum mereka menjadi Calon untuk berlaga. Saya hanya berpesan, kepada PNS, sampai perangkat desa, dan jajaran di bawahnya, agar PKH tidak disangkutkan dengan hal hal seperti ini. Kasihan, apalagi ada laporan yang didatangi oleh tim sukses nomor urut satu. Dinas dinas itu ketakutan, karena diancam, jika tidak mendukung,” papar Mirna. Sp-mm