blank
Sutarno/dok

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dana masih menjadi kendala bagi pembinaan sepak bola Kabupaten Banyumas. Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Banyumas Sutarno mengakui kondisi Persibas Banyumas saat ini menurun. Tim kebanggaan warga ngapak itu berada di Liga 3.

Butuh perjuangan berat untuk paling tidak promosi ke Liga 2. ”Problem terbesar Persibas adalah dana, karena sangat tergantung kucuran dari APBD. Di Banyumas, untuk menggalang dana tak mudah, tidak seperti di Cilacap,” ujar Sutarno, kemarin.

Kendati Persibas terpuruk, secara umum kondisi persepakbolaan di Banyumas tetap bagus. Dari catatan resmi, ada 400-an SSB. Selain itu, kabupaten ini memiliki banyak lapangan bola yang pantas pakai. ”Di Banyumas terdapat 331 desa di mana setiap desa minimal punya satu lapangan bola. Ukuran lapangannya standar nasional dan memiliki rumput yang bagus,” tutur komite keamanan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jateng ini.

Sebelum pandemi Covid-19, kompetisi lokal diputar setiap tahun yang terbagi dalam tiga divisi. Divisi I ditempati 16 klub, Divisi II (20 klub), dan Divisi III (30 klub). Dari sisi pembibitan, Banyumas punya banyak pemain muda berbakat. ”Soal dana masih menjadi masalah klise. Ke depan, kami berharap mendapat anggaran yang ideal, yakni Rp 2,5 miliar. Sekarang kami baru diberi anggaran Rp 400 juta,” ungkapnya.

Meski terkendala dengan pendanaan, pihaknya tetap bersemangat untuk melahirkan pemain-pemain berkualitas yang nanti bisa menembus tim nasional. Hanya panggilan jiwa yang membuat orang mau berkorban demi memajukan sepak bola di daerahnya. ”Kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pemkab dan KONI Banyumas yang selalu mendukung Persibas dan PSSI Banyumas. Semoga kerja sama baik ini bisa dipertahankan,” tegasnya.

Bagi Sutarno, ada kebanggaan luar biasa sepanjang berkecimpung dalam sepak bola. Kebanggaan itu adalah dua kali membawa tim sepak bola Banyumas dua kali juara Porprov Jateng. Dalam kapasitasnya sebagai manajer tim, polisi berpangkat Kompol ini memenangi medali emas Porprov 2013 dan 2018.

Baru Banyumas yang mampu melakukannya dua kali berturut-turut. ‘’Pengalaman itu sungguh nikmat tiada tara. Saya menyebutnya foya-foya selama mengurus sepak bola,’’ jelas pria 56 tahun yang bertugas di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jateng ini.

Sutarno memang gila bola. Sebagai mantan pemain, dia punya sertifikat pelatih dan pengawas pertandingan (PP). Seabrek jabatan pun dipegangnya. Dia menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) pada 1988.

Kemudian memimpin IM Purwokerto, ketua PS POP, dan manajer tim Persibas Banyumas dari 2002 hingga 2010. Ketua Persibas dijabatnya mulai 2005 sampai 2012. Pada 2016, pria yang sekarang suka bermain tenis ini dipercaya sebagai ketua PSSI Banyumas. Jabatan di Askab PSSI akan habis pada Desember nanti.

”Saya sudah mengurus bola selama 32 tahun. Bersama Persibas, pengalaman terindah saat membawa tim bermain di kompetisi Divisi I Nasional 2003 dan 2004,” papar ayah enam anak dan suami dari Sri Eni Murdianti ini.

rr