<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sedekah Bumi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/sedekah-bumi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Jun 2026 08:44:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Sedekah Bumi Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mahasiswa Ilkom USM Edukasi Generasi Muda tentang Tradisi Sedekah Bumi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/19/mahasiswa-ilkom-usm-edukasi-generasi-muda-tentang-tradisi-sedekah-bumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 08:44:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Suara USM]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gumi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kelompok Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[kota lama]]></category>
		<category><![CDATA[Program Studi]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Semarang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=565221</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID)&#8211; Kelompok mahasiswa Gumi Lestari dari program studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), memberikan edukasi tentang tradisi Sedekah Bumi, kepada generasi muda di kawasan wisata Kota Lama Semarang, pada Rabu (17/6/2026) malam. Kegiatan kreatif itu sebagai bentuk implementasi mata kuliah Komunikasi Budaya, yang diampu Ayang Fitrianti SS MIKom. Kegiatan menyasar para pengunjung dan generasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/19/mahasiswa-ilkom-usm-edukasi-generasi-muda-tentang-tradisi-sedekah-bumi">Mahasiswa Ilkom USM Edukasi Generasi Muda tentang Tradisi Sedekah Bumi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Kelompok mahasiswa Gumi Lestari dari program studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), memberikan edukasi tentang tradisi Sedekah Bumi, kepada generasi muda di kawasan wisata Kota Lama Semarang, pada Rabu (17/6/2026) malam.</p>
<p>Kegiatan kreatif itu sebagai bentuk implementasi mata kuliah Komunikasi Budaya, yang diampu Ayang Fitrianti SS MIKom. Kegiatan menyasar para pengunjung dan generasi muda perkotaan.</p>
<p>Dalam kegiatan itu, para mahasiswa mengajak pengunjung berinteraksi langsung secara spontan. Warga diminta menuliskan pemahaman mereka mengenai tradisi Sedekah Bumi di atas secarik kertas, yang telah disediakan tim mahasiswa.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/06/17/fakultas-ekonomi-usm-dan-indosat-semarang-jalin-kerja-sama">Fakultas Ekonomi USM dan Indosat Semarang Jalin Kerja Sama</a></strong></p>
<p>Anggota kelompok Gumi Lestari, Devica Ramadhani mengatakan, pemilihan Kota Lama Semarang sebagai lokasi kampanye, karena lokasinya strategis. Tempat ini merupakan titik kumpulnya para wisatawan dan generasi muda, dari berbagai latar belakang.</p>
<p>​&#8221;Kami sengaja membawa isu tradisi lokal ini ke ruang publik modern. Tujuannya, agar generasi muda di pusat keramaian kota tidak buta terhadap akar budaya dan filosofi luhur mereka sendiri,&#8221; kata Devica.</p>
<p>Berdasarkan hasil tulisan pengunjung di secarik kertas itu, mayoritas generasi muda mengaku tahu istilah Sedekah Bumi, namun belum memahami esensi mendalamnya sebagai simbol rasa syukur atas hasil alam.</p>
<p>Dia berharap, melalui metode pendekatan yang santai dan segar ini, pesan pelestarian warisan budaya takbenda khas Jawa Tengah, dapat lebih mudah diterima dan melekat di benak masyarakat urban.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/19/mahasiswa-ilkom-usm-edukasi-generasi-muda-tentang-tradisi-sedekah-bumi">Mahasiswa Ilkom USM Edukasi Generasi Muda tentang Tradisi Sedekah Bumi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sedekah Bumi Kodim Kudus, Dari Rasa Syukur hingga Pesan Kuat tentang Kerukunan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/23/sedekah-bumi-kodim-kudus-dari-rasa-syukur-hingga-pesan-kuat-tentang-kerukunan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 01:38:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Kodim 0722 kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah Bumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555607</guid>

					<description><![CDATA[<p>KUDUS (SUARABARU.ID) – Halaman Makodim 0722/Kudus tampak berbeda pada Rabu malam (22/4/2026). Nuansa tradisional begitu terasa, dihiasi panggung etnik dan deretan hasil bumi yang tersaji rapi. Dari pala kependem, ketela, kacang godog, hingga pisang, semuanya menjadi simbol rasa syukur dalam tradisi Sedekah Bumi yang digelar Kodim 0722/Kudus. Para undangan yang hadir tak hanya menikmati suasana, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/23/sedekah-bumi-kodim-kudus-dari-rasa-syukur-hingga-pesan-kuat-tentang-kerukunan">Sedekah Bumi Kodim Kudus, Dari Rasa Syukur hingga Pesan Kuat tentang Kerukunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUDUS (SUARABARU.ID) –</strong> Halaman Makodim 0722/Kudus tampak berbeda pada Rabu malam (22/4/2026). Nuansa tradisional begitu terasa, dihiasi panggung etnik dan deretan hasil bumi yang tersaji rapi. Dari pala kependem, ketela, kacang godog, hingga pisang, semuanya menjadi simbol rasa syukur dalam tradisi Sedekah Bumi yang digelar Kodim 0722/Kudus.</p>
<p>Para undangan yang hadir tak hanya menikmati suasana, tetapi juga larut dalam kebersamaan. Alunan musik etnik dari Suluk Tajug Menara mengalun, menambah khidmat sekaligus hangatnya acara yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat tersebut.</p>
<p>Di tengah suasana itu, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyampaikan pesan yang sederhana namun mendalam. Ia menegaskan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan sosial. Namun, cara menyikapinya menjadi kunci utama.</p>
<p>“Kalau komunikasi dan dialog berjalan, persoalan bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.</p>
<p>Menurutnya, Sedekah Bumi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang bertemunya berbagai latar belakang—lintas agama, organisasi, hingga generasi muda—dalam satu semangat kebersamaan. Ia pun mengapresiasi keterlibatan semua pihak yang turut menjaga harmoni di Kudus.</p>
<p>“Ini adalah wujud syukur sekaligus kearifan lokal yang sarat nilai sosial. Tradisi seperti ini penting untuk terus dilestarikan,” tambahnya.</p>
<p>Senada dengan itu, Komandan Kodim 0722/Kudus, Yusufa Allan Andriasie, melihat Sedekah Bumi dari sudut pandang yang lebih luas. Ia menekankan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya terletak pada militernya, tetapi juga pada kekuatan masyarakatnya.</p>
<p>“Negara bisa bertahan jika domestiknya kuat, lahannya subur, dan masyarakatnya makmur,” tegasnya.</p>
<p>Baginya, ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi masyarakat adalah fondasi penting dalam menjaga kedaulatan. Karena itu, kegiatan seperti Sedekah Bumi memiliki makna strategis—bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.</p>
<p>Acara tersebut turut dihadiri jajaran pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kudus, termasuk Kapolres Kudus. Selain itu, hadir pula para undangan dari kalangan budayawan, sejarawan, organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi mahasiswa, hingga berbagai lembaga kemasyarakatan yang ada di Kudus.</p>
<p>Kehadiran lintas unsur tersebut menjadi gambaran nyata sinergi yang terjalin di tengah masyarakat. Di tengah keberagaman yang ada, Sedekah Bumi di Makodim Kudus seolah menjadi pengingat bahwa kebersamaan, komunikasi, dan gotong royong tetap menjadi kunci menjaga kondusivitas daerah.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/23/sedekah-bumi-kodim-kudus-dari-rasa-syukur-hingga-pesan-kuat-tentang-kerukunan">Sedekah Bumi Kodim Kudus, Dari Rasa Syukur hingga Pesan Kuat tentang Kerukunan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tumbangnya Biang Onar Kabumi</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/07/23/tumbangnya-biang-onar-kabumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Jul 2023 06:22:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Jembul]]></category>
		<category><![CDATA[Kabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=354139</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerpen Karya: Wurry Srie MATAHARI pagi baru saja menampakkan diri, saat kubuka pintu rumahku yang sudah lama keropos pinggirnya dimakan rayap. Pintu yang hanya kubuka ketika aku di rumah. Sengaja kuambil cuti dua hari, karena ingin menyaksikan dengan jelas prosesi sedekah bumi di desaku kemarin. Hari ini, hari kedua cuti dan aku ingin di rumah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/23/tumbangnya-biang-onar-kabumi">Tumbangnya Biang Onar Kabumi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Cerpen Karya: Wurry Srie</strong></span></p>
<p><strong>MATAHARI</strong> pagi baru saja menampakkan diri, saat kubuka pintu rumahku yang sudah lama keropos pinggirnya dimakan rayap. Pintu yang hanya kubuka ketika aku di rumah. Sengaja kuambil cuti dua hari, karena ingin menyaksikan dengan jelas prosesi sedekah bumi di desaku kemarin. Hari ini, hari kedua cuti dan aku ingin di rumah saja.</p>
<p>Tidak biasanya jalan kecil depan rumahku sepi. Hanya satu dua motor yang lewat, padahal mbak sayur kampung sebelah dan para pekerja pabrik sepatu biasa lewat jam-jam segini. Pagi yang benar-benar sepi. Mungkin mbak sayur juga lagi libur sepertiku, dan para pekerja pabrik juga sedang ambil cuti demi sedekah bumi yang hanya ada setahun sekali.</p>
<p>Prosesi sedekah bumi atau biasa disebut &#8220;kabumi&#8221;, di desaku memang unik. Saking uniknya, banyak wartawan dari berbagai media datang meliput. Ada arak-arakan &#8220;jembul&#8221;, yaitu semacam gunungan yang terdiri dari susunan beberapa bilah bambu dipotong kecil-kecil, dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi seperti rambut keriting. Keunikan ini hampir tidak dijumpai di daerah lain. Ada beberapa jembul yang mewakili setiap dukuh yang ada. Tidak ketinggalan, pertunjukan wayang kulit digelar malam sebelumnya.</p>
<p>Bentuk jembul yang besar dibutuhkan sejumlah orang yang kuat dan tangguh untuk memikulnya menuju rumah kepala desa. Usai upacara, setiap jembul dibawa kembali ke dukuh masing-masing. Nah, di sini para penonton, pengiring maupun pemikul kadang tak<br />
bisa menguasai diri. Selalu ada insiden yang tidak bisa dicegah meski banyak aparat keamanan yang siap siaga. Dari yang bentrok sesama pemuda antar dukuh atau ada dendam lama yang sengaja dilampiaskan pada hari itu.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * * * *</strong></span></p>
<p>Udara pagi kali ini benar-benar dingin. Ada yang bilang, sedang musim bunga dan dinginnya membuatku malas kemana-mana. Kemarin belum sempat beres-beres kamar tidur sebelah, yang biasa dipakai abangku sekeluarga bila datang sebulan sekali. Ya, kami yatim piatu dua bersaudara. Berulangkali abang dan kakak ipar memintaku tinggal bersama mereka, tetapi aku tolak. Aku ingin mandiri dan menempati rumah peninggalan orang tua yang tak seberapa besar.</p>
<p>Pagi masih juga sepi dan belum tampak aktivitas warga yang berarti. Mungkin sebagian masih kecapekan dengan acara kabumi kemarin. Aku langkahkan satu kaki keluar pintu sambil menengok kiri kanan, tetap sepi. Hanya dalam hitungan detik sebelum aku<br />
membalikkan tubuh kembali masuk rumah, terdengar kegaduhan di kejauhan. Suara orang-orang bersahutan tidak jelas apa yang diomongkan. Seakan ada puluhan orang yang bicara bersamaan. Suara itu makin lama makin dekat, dan aku tergoda untuk mencari tahu ada apa gerangan.</p>
<p>Benar saja, suara ribut-ribut itu makin dekat dan tibalah di depan rumahku. Tak terhitung warga yang akhirnya keluar rumah, termasuk aku, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Terlihat seorang pemuda berkulit gelap digiring beberapa warga dalam keadaan tangan terikat di belakang. Ada lebam di dahi dan pipi kanan dengan topeng kain di rambut tampak habis dipakai. Mereka membawa pemuda tersebut ke rumah kepala desa yang ada di dekat jalan utama.</p>
<p>Dadaku berdegup kencang ketika aku dan tetangga mendekat ke barisan warga yang menggiring pemuda itu. Tepat ketika jarak tempatku berdiri dengan pemuda tersebut sangat dekat, dia melirik sekilas padaku. Walau sesaat, sorot matanya seolah mengancam yang membuat detak jantungku makin tak beraturan. Rambut gondrong dan jalannya sedikit pincang mengingatkan aku pada seseorang. Andai aku tak mampu menguasai diri, mungkin aku sudah lari dari lokasi saat kulihat ada tiga goresan luka di pipi kirinya yang masih memerah. Agar tak mengundang curiga, aku tetap di tempat bersama para tetangga hingga iring-iringan itu menjauh.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * * * *</strong></span></p>
<p>Malam itu, aku pulang dari tempat kerja di pabrik accu bersama teman-teman satu mobil antar jemput. Tepatnya hari terakhir sebelum kuambil cuti. Di tengah jalan tiba-tiba salah satu ban mobil bocor, sehingga kami serombongan agak kemalaman sampai rumah. Penumpang terakhir yang turun adalah aku. Itu pun tak sampai rumah karena gang sempit depan rumahku tak bisa dilalui mobil.</p>
<p>Sejauh ini keadaan desaku aman-aman saja. Belum pernah ada kejadian serius yang mengkhawatirkan. Kelompok ronda bapak-bapak masih tetap ada, tetapi lebih sering di lokasi dekat kelurahan. Badan yang letih dan kumal sepulang kerja membuatku ingin segera masuk rumah, mandi lalu tidur.</p>
<p>Tidak ada firasat apa-apa, dan dengan tenang aku pun membuka pintu yang masih terkunci seperti biasa. Baru dua langkah masuk rumah, tiba-tiba ada yang merangkul tubuhku dengan kasar dari belakang. Tangan kasar yang satunya mencoba membekap mulutku dengan sangat kuat. Ada aroma menyengat dari desah nafasnya. Aku sadar, aku dalam bahaya.</p>
<p>Tidak kusangka, seolah ada kekuatan tersembunyi dalam tubuh letihku. Aku tidak panik dan aku masih bisa berfikir jernih untuk membaca situasi. Dengan posisi tangan kirinya masih merangkulku sementara tangan kanan membungkam mulutku, ada celah yang sungguh tidak ia sadari. Aku coba sekuat tenaga melumpuhkan kakinya dengan cara menjegalnya sambil tangan kananku menyikut perutnya bagian bawah. Dia jatuh lalu bangun lagi berbalik menyerangku.</p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>* * * * *</strong></span></p>
<p>Kami duel hebat dan aku tahu dia mulai sempoyongan lantaran pengaruh minuman keras. Ini sangat menguntungkan bagiku. Serangannya kepadaku lebih banyak meleset dari sasaran. Persis ketika dia berusaha menindih tubuhku, kuraih topengnya dengan kekuatan penuh, sekaligus kucakar wajahnya. Dia spontan mengaduh lalu ambil langkah seribu sambil memegang pipi kirinya yang aku yakin terluka oleh kukuku.</p>
<p>Beberapa detik berikutnya, aku masih menata napas sembari berusaha berdiri menuju pintu dan menguncinya rapat. Kuhempaskan tubuhku di kursi lawas ruang tamu sambil mengucap syukur berulang-ulang. Sulit bagiku untuk percaya apa yang baru saja terjadi, tetapi ini nyata.</p>
<p>Malam itu aku tak mampu mengenali wajahnya dengan jelas karena bertopeng. Namun, cara jalannya yang sedikit pincang dan rambut gondrongnya masih melekat di ingatanku manakala dia lari. Tidak sia-sia aku belajar bela diri tapak suci sejak SMP. Dikaruniai tubuh tinggi, kuat, dan sehat tak henti-hentinya aku syukuri. Apa yang terjadi bukan karena aku yang hebat, tetapi semata-mata ada yang melindungi aku.</p>
<p>Setelah yakin iring-iringan sudah tak tampak, aku masuk rumah sambil masih deg-degan atas apa yang barusan kulihat. Sempat kudengar dari para tetangga, pemuda tersebut adalah penduduk kampung sebelah yang sudah lama menjadi incaran aparat kepolisian. Keonaran yang terjadi saat sedekah bumi kemarin tak lepas dari ulahnya. Para pemikul jembul yang kebanyakan pemuda telah ia racuni dengan miras bahkan sudah berani mengedarkan narkoba pula.</p>
<p><em><strong>&#8212; Juli 2023 &#8212;</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/07/23/tumbangnya-biang-onar-kabumi">Tumbangnya Biang Onar Kabumi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warga Kurahan Gelar Sedekah Bumi Uluwetu di Bukit Punthuk Setumbu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2020/11/16/warga-kurahan-gelar-sedekah-bumi-uluwetu-di-bukit-punthuk-setumbu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2020 11:06:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[punthuk setumbu]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=126062</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAGELANG (SUARABARU.ID) &#8211; Di tengah pandemi covid-19, warga Dusun Kurahan Desa Karangrejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang tetap menggelar “Sedekah Bumi Uluwetu”. Tradisi sedekah bumi yang dilakukan setiap dua tahun sekali tersebut dilaksanakan di salah satu destinasi wisata yang ada di sekitar Candi Borobudur,  sebagai bentuk rasa syukur warga atas kemakmuran yang diberikan Tuhan yang Mahakuasa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/11/16/warga-kurahan-gelar-sedekah-bumi-uluwetu-di-bukit-punthuk-setumbu">Warga Kurahan Gelar Sedekah Bumi Uluwetu di Bukit Punthuk Setumbu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAGELANG (SUARABARU.ID) &#8211; </strong>Di tengah pandemi covid-19, warga Dusun Kurahan Desa Karangrejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang tetap menggelar “Sedekah Bumi Uluwetu”.</p>
<p>Tradisi sedekah bumi yang dilakukan setiap dua tahun sekali tersebut dilaksanakan di salah satu destinasi wisata yang ada di sekitar Candi Borobudur,  sebagai bentuk rasa syukur warga atas kemakmuran yang diberikan Tuhan yang Mahakuasa.</p>
<p>Tradisi yang dilakukan bertepatan dengan Senin Legi di bulan Mulud, diawali dengan mengusapkan air dari <em>genthong</em> ke dahi sepasang lelaki dan perempuan di Kebun Buah yang ada di Dusun Kurahan. Pengusapan air tersebut dilakukan oleh sesepuh desa setempat Dul Rosyid.</p>
<p>Kemudian, diiringi alunan musik dari grup Kubra Siswa, masyarakat setempat sambil membawa <em> ulu wetu (</em>hasil bumi), seperti padi, ketela, jagung dan aneka sayuran menuju ke Bukit Punthuk Setumbu yang berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.</p>
<p>Tidak ketinggalan, dengan berpakaian adat Jawa yakni baju surjan lurik bagi kaum laki-laki dan kebaya bagi perempuan, mereka membawa nasi tumpeng dan makanan lainnya yang dimasukkan ke dalam tandu.</p>
<p>Dan, tandu tersebut dipanggul saat menaiki puluhan anak tangga menuju lokasi Bukit Punthuk Setumbu yang berada  sekitar dua kilometer sebelah Barat Candi Borobudur. Sesampainya  di puncak bukit tersebut, sesepuh desa setempat memanjatkan doa-doa, setelah itu tradisi sedekah bumi diakhiri dengan <em>kembul bujana</em> atau makan bersama.</p>
<p>Pada saat makan bersama, nasi dan segala macam sayur dan lauk-pauknya digelar bersama di atas beberapa lembar pelepah daun pisang dan warga yang mengikuti kegiatan tersebut memakan menggunakan  <em>pincuk</em> (tempat makan dari daun pisang).</p>
<p>Kepala Dusun Kurahan, NurYazid mengatakan, sedekah bumi yang dilakukan warga Dusun Kurahan tersebut, sebagai ungkapan syukur berkah yang dilimpahkan  Tuhan. Berupa, panenan hasil bumi dan juga objek wisata Punthuk Setumbu telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.</p>
<p>“Kegiatan ini merupakan ungkapan syukur masyarakat  yang sudah menikmati berkah dari Allah, bahwa Punthuk Setumbu bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.</p>
<p>Menurutnya, tradisi sedekah bumi tahun ini agak berbeda pelaksanaannya dibandingkan tahun -tahun sebelumnya. Yakni, hanya melibatkan warga Dusun Kurahan saja. Sedangkan di tahun-tahun sebelumnya beberapa warga desa lain terlibat.</p>
<p>Ia mengatakan, sedikitnya peserta yang terlibat pada tradisi sedekah bumi tersebut, karena juga dalam rangka menaati protokol kesehatan di saat pandemi covid-19.</p>
<p>“Biasanya kelompok kesenian yang ikut serta ada beberapa kelompok, dan tahun ini hanya satu kesenian saja yakni Kubra Siswa dari Dusun Kurahan,” ujarnya.</p>
<p>Nur Yazid menambahkan, bagi masyarakat Dusun Kurahan, tradisi sedekah bumi tersebut  merupakan tradisi yang dilakukan secara turun-temurun dan merupakan  bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rezeki yang diterima warga.</p>
<figure id="attachment_126066" aria-describedby="caption-attachment-126066" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img class="size-full wp-image-126066" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/11/kembul-bujana.jpg" alt="" width="640" height="360" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/11/kembul-bujana.jpg 640w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/11/kembul-bujana-400x225.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/11/kembul-bujana-150x84.jpg 150w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-126066" class="wp-caption-text">Mengakhiri tradisi sekedah bumi yang dilangsungkan di puncak Bukit Punthuk Setumbu, warga Dusun Kurahan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang melakukan kembul bujana (makan bersama). Foto: suarabaru.id/ yon.</figcaption></figure>
<p><strong>Angon Kewan</strong></p>
<p>Apalagi untuk saat ini, warga juga dimakmurkan dengan keberadaan Punthuk Setumbu yang menjadi destinasi wisata. Menurut Zazid yang juga ketua pengelola Punthuk Setumbu, warga banyak mendapat rezeki dari Punthuk Setumbu.</p>
<p>Menurutnya, Punthuk Setumbu  yang berada sekitar dua kilometer sisi barat  Candi Borobudur tersebut hanyalah sebuah  gundukan tanah yang  biasa digunakan untuk tempat <em>angon kewan</em> (menggembala hewan ternak)  seperti kambing, sapi dan kerbau.</p>
<p>“Setiap sepasar ( lima hari) sekali , , warga naik ke atas dengan membawa bekal kupat dan sayur untuk dimakan bersama-sama. Dan dari  puncak bukit tersebut, warga bisa memandang hamparan permadani hijau yang luas nan indah.  Selain itu, juga bisa  melihat keagungan Candi Borobudur serta  <em>sunrise</em>  (matahari terbit)  di tengah-tengah deretan Gunung Merapi Merbabu,” ujarnya.</p>
<p><strong>Yon-trs</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/11/16/warga-kurahan-gelar-sedekah-bumi-uluwetu-di-bukit-punthuk-setumbu">Warga Kurahan Gelar Sedekah Bumi Uluwetu di Bukit Punthuk Setumbu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sedekah Bumi dan Parade Pecing Jadi Daya Tarik Wisata Tematik Desa Bantarkulon</title>
		<link>https://suarabaru.id/2020/08/23/sedekah-bumi-dan-parade-pecing-jadi-daya-tarik-wisata-tematik-desa-bantarkulon</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2020 13:05:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Pantura Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bantarkulon]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Pekalongan]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak Barang]]></category>
		<category><![CDATA[Parade Pecing]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=107249</guid>

					<description><![CDATA[<p>PEKALONGAN (SUARABARU.ID)&#8211; Sedekah Bumi dan Parade Pecing (orang-orangan sawah) di area persawahan Desa Bantarkulon, Lebak Barang, Kabupaten Pekalongan, diyakini merupakan salah satu bagian dari daya tarik wisata tematik di daerah itu. Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pekalongan, Eko Ahmadi di Desa Bantarkulon, Minggu (23/8/2020) mengatakan, kegiatan ini antara lain bertujuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/08/23/sedekah-bumi-dan-parade-pecing-jadi-daya-tarik-wisata-tematik-desa-bantarkulon">Sedekah Bumi dan Parade Pecing Jadi Daya Tarik Wisata Tematik Desa Bantarkulon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PEKALONGAN (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Sedekah Bumi dan Parade Pecing (orang-orangan sawah) di area persawahan Desa Bantarkulon, Lebak Barang, Kabupaten Pekalongan, diyakini merupakan salah satu bagian dari daya tarik wisata tematik di daerah itu.</p>
<p>Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pekalongan, Eko Ahmadi di Desa Bantarkulon, Minggu (23/8/2020) mengatakan, kegiatan ini antara lain bertujuan untuk menggerakkan wilayah ini menjadi desa produksi dan wisata tematik.</p>
<p>&#8221;Selain untuk melestarikan tradisi yang sudah ada, melalui kegiatan seperti ini kami berharap agar kunjungan wisatawan ke Desa Bantarkulon bertambah. Kemudian lama tinggal pengunjung juga meningkat, sehingga berdampak pada kesejahteraan masyarakat,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>BACA JUGA :<a href="https://suarabaru.id/2020/08/23/kalau-sembilan-pejabat-pemkot-tegal-tak-kembalikan-tpp-akan-lanjut-penyidikan/"> Kalau Sembilan Pejabat Pemkot Tegal Tak Kembalikan TPP, Akan Lanjut Penyidikan</a></strong></p>
<p>Dia menambahkan, Desa Bantarkulon memiliki tiga bidang unggulan, yakni pertanian, industri olahan dan pariwisata. &#8221;Kami berharap, ketiganya bisa berkolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat,&#8221; ujar dia lagi.</p>
<p>Pada parade pecing (orang-orangan sawah untuk mengusir hama burung-<em>red</em>) yang dipasang berderet mengelilingi kompleks persawahan Desa Bantarkulon itu, sengaja dipamerkan setelah diarak keliling desa.</p>
<p>&#8221;Acara kali ini adalah soft launching desa wisata tematik, melalui sedekah bumi dan parade pecing. Keduanya merupakan tradisi yang harus tetap dilestarikan,&#8221; imbuh Kepala Desa Bantarkulon, Sumadri.</p>
<figure id="attachment_107254" aria-describedby="caption-attachment-107254" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-107254" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2020/08/WhatsApp-Image-2020-08-23-at-18.13.43-e1598187887648.jpeg" alt="" width="600" height="340" /><figcaption id="caption-attachment-107254" class="wp-caption-text">Sedekah Bumi dan Parade Pecing diharapkan oleh pemrakarsa akan menjadi daya tarik wisata untuk hadir di Desa Bantarkulon<br />. Foto: dok/ist</figcaption></figure>
<p><strong>Simbol Kehidupan</strong><br />
Dia menjelaskan, baik sedekah bumi maupun pecing, memiliki makna tersendiri. Sedekah bumi, dalam hal ini merupakan wujud syukur dari para petani atas panen yang telah dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada petani.</p>
<p>&#8221;Pembuatan tumpeng sedekah bumi dilakukan sebagai wujud syukur dan terima kasih petani, karena diberikan panen yang baik. Sedekah juga berati mengawali benih yang baik untuk pertanian selanjutnya,&#8221; terang dia.</p>
<p>Pecing katanya biasa digunakan para petani, untuk mengusir hama burung Pipit yang kerap memakan padi. Bentuk atau wujud dari pecing ini berbagai macam, tergantung selera pembuatnya.</p>
<p>&#8221;Khusus untuk parade pecing kali ini, kami membebaskan para peserta untuk membuat pecing dengan wujud dan bahan apa pun, sebagai simbol kehidupan dan makna keadaan petani, yang bukan lagi konsumen, namun wajib jadi produsen,&#8221; pungkasnya.</p>
<p><em><strong>Riyan-Sol</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2020/08/23/sedekah-bumi-dan-parade-pecing-jadi-daya-tarik-wisata-tematik-desa-bantarkulon">Sedekah Bumi dan Parade Pecing Jadi Daya Tarik Wisata Tematik Desa Bantarkulon</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>