<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Mahasiswa Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/opini/suara-mahasiswa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Apr 2026 14:57:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>Suara Mahasiswa Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>IKADIM Unissula Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Strategis</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/22/ikadim-unissula-perkuat-silaturahmi-dan-kolaborasi-strategis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 10:37:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Unissula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555455</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID : Ikatan Alumni Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) FEB Unissula menyelenggarakan Halal Bi Halal di Hotel Horison Ultima Sentraland. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi serta memperkuat kolaborasi strategis antaralumni, civitas akademika, dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM), Rabu (22/4/2026). Acara dihadiri oleh pimpinan fakultas, guru besar, dosen, alumni, serta mahasiswa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/ikadim-unissula-perkuat-silaturahmi-dan-kolaborasi-strategis">IKADIM Unissula Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Strategis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID :</strong> Ikatan Alumni Doktor Ilmu Manajemen (IKADIM) FEB Unissula menyelenggarakan Halal Bi Halal di Hotel Horison Ultima Sentraland. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi serta memperkuat kolaborasi strategis antaralumni, civitas akademika, dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM), Rabu (22/4/2026).</p>
<p>Acara dihadiri oleh pimpinan fakultas, guru besar, dosen, alumni, serta mahasiswa PDIM dari berbagai angkatan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang refleksi dan konsolidasi peran alumni dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.</p>
<p>Ketua IKADIM FEB Unissula, MA Irfan Rahmana menegaskan bahwa Halal Bi Halal bukan sekadar tradisi tahunan. Melainkan sarana untuk memperkuat ukhuwah, membangun jejaring intelektual, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.</p>
<p>Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan alumni yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini. “Momentum ini harus kita maknai sebagai titik awal untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi. Alumni bukan hanya jejaring nostalgia, tetapi jejaring strategis yang mampu menciptakan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.</p>
<p>Lebih lanjut, ia memaparkan berbagai program dan kegiatan IKADIM sejak pelantikan pengurus pada Oktober 2025. Diantaranya pelantikan pengurus, webinar internasional bertajuk <em>Unlocking Scopus for Publication</em>, lomba desain logo IKADIM, program sosial bagi nelayan terdampak cuaca ekstrem, serta pengabdian masyarakat melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk UMKM.</p>
<p>Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan komitmen IKADIM sebagai komunitas intelektual yang aktif, adaptif, dan berorientasi pada kontribusi nyata. Selain itu, kehadiran mahasiswa PDIM dari berbagai angkatan turut memberikan energi baru bagi penguatan organisasi alumni ke depan.</p>
<p>Mengusung tema <em>“Silaturahmi Ilmiah, Kolaborasi Strategis, Kontribusi Nyata untuk Bangsa,”</em> kegiatan ini menegaskan pentingnya peran alumni sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintahan.</p>
<p>Melalui kegiatan ini, IKADIM FEB Unissula diharapkan semakin solid dan visioner dalam membangun jejaring kolaboratif, mendorong riset dan inovasi, serta berkontribusi dalam pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/ikadim-unissula-perkuat-silaturahmi-dan-kolaborasi-strategis">IKADIM Unissula Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Strategis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Unissula Sambut Delegasi Cross Border Program 2026 dari San Pedro College Filipina</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/22/unissula-sambut-delegasi-cross-border-program-2026-dari-san-pedro-college-filipina</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 08:12:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Unissula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555379</guid>

					<description><![CDATA[<p>Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menerima kunjungan delegasi San Pedro College (SPC) Filipina dalam program Cross Border Program 2026. Bersama program tersebut juga berlangsung pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, dan praktik mengajar internasional pada 18 – 25 April 2026. Delegasi SPC terdiri atas dosen pembimbing Dr Vivien Grace Jubahib beserta 3 mahasiswa yakni Alyssa Ayad, Shekinah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/unissula-sambut-delegasi-cross-border-program-2026-dari-san-pedro-college-filipina">Unissula Sambut Delegasi Cross Border Program 2026 dari San Pedro College Filipina</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Universitas Islam Sultan Agung (<a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a>) menerima kunjungan delegasi San Pedro College (SPC) Filipina dalam program Cross Border Program 2026. Bersama program tersebut juga berlangsung pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, dan praktik mengajar internasional pada 18 – 25 April 2026. Delegasi SPC terdiri atas dosen pembimbing Dr Vivien Grace Jubahib beserta 3 mahasiswa yakni Alyssa Ayad, Shekinah Latiada, dan Eloisa Carta.</p>
<p>Dr Vivien mengungkapkan apresiasi mendalam untuk <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> yang telah berkenan menerima delegasi SPC.</p>
<p>Ia menambahkan, kerja sama antara <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> dan SPC telah membawa dampak positif yang signifikan bagi internasionalisasi di SPC. Hal tersebut tercermin dari animo dosen dan mahasiswa SPC yang berencana akan datang dan berkolaborasi dengan civitas academika <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a>.</p>
<p>Adapun dalam kegiatan Cross Border Program 2026, pihaknya akan menjadi dosen tamu di Fakultas Bahasa, Sastra, dan Budaya (FBSB) dan Fakultas Agama Islam (FAI).</p>
<p>Selain itu, dirinya juga akan mengikuti diskusi matchmaking penelitian bersama, dan juga pengabdian masyarakat internasional.</p>
<p>Sementara ketiga mahasiswa SPC akan mengikuti berbagai kegiatan seperti Sit in Program, praktik mengajar internasional di SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang, sharing session dengan organisasi mahasiswa, serta pengenalan budaya Indonesia.</p>
<p>Kunjungan SPC Filipina menjadi salah satu bukti keunggulan reputasi internasional serta kualitas pendidikan <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> sebagai <em>world class Islamic university</em>. <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> juga secara aktif terus meningkatkan kualitas internasionalisasi dalam rangka mencetak lulusan yang berkualitas global.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/unissula-sambut-delegasi-cross-border-program-2026-dari-san-pedro-college-filipina">Unissula Sambut Delegasi Cross Border Program 2026 dari San Pedro College Filipina</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>FIK Unissula Siapkan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/22/fik-unissula-siapkan-spesialis-keperawatan-medikal-bedah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 07:45:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita utama]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Unissula]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=555366</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Unissula menerima evaluasi lapangan atas usul pembukaan program spesialis keperawatan medikal bedah, Selasa (21/4/2026). “Terimakasih atas kehadiran tim evaluator lapangan di FIK Unissula. Adapun nanti jika ada perbaikan-perbaikan dari tim evaluator saya selaku rektor untuk sesegera mungkin memperbaikinya. Karena cita-cita kami bersama FIK sangat tinggi untuk melahirkan program studi baru, yaitu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/fik-unissula-siapkan-spesialis-keperawatan-medikal-bedah">FIK Unissula Siapkan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> menerima evaluasi lapangan atas usul pembukaan program spesialis keperawatan medikal bedah, Selasa (21/4/2026). “Terimakasih atas kehadiran tim evaluator lapangan di FIK <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a>. Adapun nanti jika ada perbaikan-perbaikan dari tim evaluator saya selaku rektor untuk sesegera mungkin memperbaikinya. Karena cita-cita kami bersama FIK sangat tinggi untuk melahirkan program studi baru, yaitu Spesialis Keperawatan Medikal Bedah,” ungkap Rektor <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> Prof Dr Gunarto SH MH.</p>
<p>Lebih lanjut pihaknya mengungkap, Rektor bersama Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) akan segera mungkin melakukan perbaikan apabila ada masukan dari tim evaluasi lapangan.</p>
<p>“Sebagai rektor saya melihat mengimplementasikan visi Universitas dengan visi fakultas dan jurusan sudah selaras. Program studi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah ini menginginkan akreditasi Unggul yang berbasis pada syariah dan inovasi,” jelasnya.</p>
<p>Adapun saat ini di FIK <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> telah memiliki lima dosen dengan spesialis medikal bedah. Dan dua diantaranya bergelar doktor. Disamping itu juga telah terakreditasi Unggul. “Semoga Allah memberikan keberkahan, sehingga Prodi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah untuk tahun ini diridhoi untuk bisa dibuka dalam rangka memberikan pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara,” ungkapnya.</p>
<p>Direktorat Kelembagaan Kemdiktisaintek Lingga Kresna Adiputra SKom mengapresiasi langkah FIK <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> membuka prodi Spesialis Keperawatan Medikal Bedah. “Kami menerima laporan kalau mahasiswa sampai berebut dan waitinglist. Karena di Indonesia saat ini baru ada enam Spesialis Keperawatan Medikal Bedah. Dan dua diantaranya dimiliki PTS. Sehingga kami mengapresiasi rencana <a href="https://unissula.ac.id/">Unissula</a> membuka program spesialis keperawatan,” ungkapnya.</p>
<p>Pihaknya juga menjelaskan ada tiga variable penilaian, sehingga program studi tersebut dinyatakan layak untuk dibuka. Diantaranya adalah kurikulum dan visi keilmuan, SDM, hingga sarana dan prasarananya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/22/fik-unissula-siapkan-spesialis-keperawatan-medikal-bedah">FIK Unissula Siapkan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Label  Galak pada Najwa Shihab dan Bias Gender </title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/13/label-galak-pada-najwa-shihab-dan-bias-gender</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2026 08:50:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=539143</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG   SUARABARU.ID: Jurnalis TV   Najwa Shihab kembali menjadi sorotan publik akibat gaya bertanyanya yang dinilai tegas dan kritis dalam sejumlah wawancara dengan pejabat publik. Di berbagai platform media sosial, sebagian warganet melabeli Najwa dengan sebutan seperti “galak”, “terlalu menyerang”, hingga “nyolot”. Label tersebut muncul seiring dengan karakter wawancara Najwa yang dikenal langsung pada pokok persoalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/13/label-galak-pada-najwa-shihab-dan-bias-gender">Label  Galak pada Najwa Shihab dan Bias Gender </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG   SUARABARU.ID:</strong> Jurnalis TV   Najwa Shihab kembali menjadi sorotan publik akibat gaya bertanyanya yang dinilai tegas dan kritis dalam sejumlah wawancara dengan pejabat publik. Di berbagai platform media sosial, sebagian warganet melabeli Najwa dengan sebutan seperti “galak”, “terlalu menyerang”, hingga “nyolot”.</p>
<p>Label tersebut muncul seiring dengan karakter wawancara Najwa yang dikenal langsung pada pokok persoalan dan menuntut kejelasan dari narasumber. Namun, gaya komunikasi serupa yang ditampilkan jurnalis laki-laki kerap dipersepsikan berbeda dan justru dianggap sebagai bentuk ketegasan serta profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.</p>
<p><img loading="lazy" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260113-WA0083-400x267.jpg" alt="" width="400" height="267" /></p>
<p>Pengamat komunikasi menilai perbedaan respons publik ini mencerminkan adanya bias gender dalam penilaian terhadap cara berbahasa figur publik, khususnya perempuan. Di ruang publik, perempuan masih sering dihadapkan pada ekspektasi untuk berbicara dengan cara yang lebih halus, tidak konfrontatif, dan menjaga kesopanan. Najwa Shihab selama ini dikenal konsisten mempertahankan prinsip jurnalistik yang berpihak pada kepentingan publik. Melalui pertanyaan yang kritis, ia berupaya mendorong transparansi dan akuntabilitas pejabat publik atas kebijakan yang diambil.</p>
<p>Fenomena ini kembali memunculkan diskusi mengenai peran bahasa dalam membentuk persepsi publik serta pentingnya penilaian yang setara terhadap jurnalis tanpa memandang gender.<br />
Teori language and gender memandang bahasa sebagai praktik sosial yang tidak terlepas dari norma dan konstruksi gender dalam masyarakat. Dalam konteks kasus Najwa Shihab, perbedaan penilaian terhadap gaya bertanya jurnalis perempuan dan laki-laki menunjukkan adanya standar ganda dalam penggunaan dan penerimaan bahasa di ruang publik.</p>
<p>Label seperti “galak” atau “terlalu menyerang” yang dilekatkan pada Najwa mencerminkan ekspektasi sosial bahwa perempuan seharusnya menggunakan bahasa yang lembut, suportif, dan tidak menantang. Ketika perempuan berbicara secara tegas dan kritis, gaya bahasa tersebut dianggap melanggar norma femininitas yang telah dibangun secara sosial. Sebaliknya, dalam kerangka yang sama, laki-laki yang menggunakan bahasa langsung dan konfrontatif sering kali diasosiasikan dengan ketegasan, kewibawaan, dan kepemimpinan.</p>
<p>Hal ini menunjukkan bahwa makna suatu gaya bahasa sangat dipengaruhi oleh gender penuturnya, bukan semata oleh isi pesan yang disampaikan.<br />
Melalui perspektif language and gender, kritik terhadap gaya komunikasi Najwa Shihab tidak hanya berkaitan dengan persoalan jurnalistik, tetapi juga mencerminkan relasi kuasa dan bias gender yang masih kuat dalam budaya media Indonesia. Bahasa, dalam hal ini, berfungsi sebagai alat yang mereproduksi ketimpangan gender di ruang publik</p>
<p><strong>Penulis  : Daffa Alghifari</strong></p>
<p>Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/13/label-galak-pada-najwa-shihab-dan-bias-gender">Label  Galak pada Najwa Shihab dan Bias Gender </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Fashion Y2K Kembali Berkuasa dan Media Diam Diam Membentuk Selera Masyarakat</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/12/ketika-fashion-y2k-kembali-berkuasa-dan-media-diam-diam-membentuk-selera-masyarakat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2026 12:31:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=539000</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID  : Beberapa tahun terakhir, linimasa media sosial dipenuhi oleh gaya berpakaian yang 0terasa akrab namun juga asing. Celana rendah pinggang, atasan mini, tas mungil, kacamata warna warni, dan estetika mencolok ala awal 2000-an kembali mendominasi. Fashion Y2K kembali berkuasa, kali ini bukan lewat majalah mode atau televisi, melainkan melalui TikTok dan Instagram. Yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/12/ketika-fashion-y2k-kembali-berkuasa-dan-media-diam-diam-membentuk-selera-masyarakat">Ketika Fashion Y2K Kembali Berkuasa dan Media Diam Diam Membentuk Selera Masyarakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID  :</strong> Beberapa tahun terakhir, linimasa media sosial dipenuhi oleh gaya berpakaian yang 0terasa akrab namun juga asing. Celana rendah pinggang, atasan mini, tas mungil, kacamata warna warni, dan estetika mencolok ala awal 2000-an kembali mendominasi.</p>
<p>Fashion Y2K kembali berkuasa, kali ini bukan lewat majalah mode atau televisi, melainkan melalui TikTok dan Instagram. Yang menarik, tren ini justru digandrungi generasi yang tidak pernah benar-benar hidup di era tersebut. Pertanyaannya, mengapa gaya lama ini terasa begitu relevan bagi generasi hari ini.</p>
<p>Jawabannya tidak sesederhana nostalgia. Dalam konteks masyarakat digital, selera berpakaian tidak lagi tumbuh secara organik, melainkan dikonstruksi melalui paparan media yang berulang. Di sinilah Teori Kultivasi menjadi relevan untuk membaca fenomena fashion Y2K. George Gerbner menjelaskan bahwa media memiliki kekuatan untuk membentuk persepsi realitas melalui paparan jangka panjang yang konsisten. Media tidak memaksa audiens untuk berpikir tertentu, tetapi secara perlahan menanamkan gambaran tentang apa yang normal, menarik, dan pantas ditiru (Gerbner &amp; Gross, 1976).</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-539003" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0071-317x400.jpg" alt="" width="317" height="400" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0071-317x400.jpg 317w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0071-119x150.jpg 119w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0071.jpg 539w" sizes="(max-width: 317px) 100vw, 317px" /></p>
<p>Media sosial hari ini bekerja dengan logika yang bahkan lebih kuat dibanding televisi. Konten fashion Y2K muncul secara terus-menerus dalam bentuk OOTD, haul, referensi selebritas, hingga video transformasi gaya. Paparan visual yang berulang ini menciptakan ilusi bahwa Y2K adalah standar estetika masa kini. Ketika gaya yang sama terus hadir di layar, audiens mulai memandangnya sebagai realitas sosial yang wajar. Inilah proses kultivasi bekerja secara halus namun efektif.</p>
<p>Fenomena ini sejalan dengan pandangan Morgan, Shanahan, dan Signorielli yang menyebut bahwa teori kultivasi tetap relevan di era media baru, terutama ketika audiens terpapar konten homogen dalam jangka waktu lama (Morgan et al., 2015). Dalam konteks fashion Y2K, algoritma media sosial mempersempit pilihan visual dan memperkuat tren tertentu, sehingga gaya tersebut terasa dominan dan tak terelakkan.</p>
<p>Masalahnya, versi Y2K yang dikultivasi media bukanlah representasi utuh dari era 2000-an. Media hanya menampilkan sisi yang estetis dan menguntungkan secara komersial. Standar tubuh kurus ekstrem, pakaian minim, dan citra selebritas glamor kembali dinormalisasi tanpa konteks kritis. Penelitian Tiggemann dan Slater menunjukkan bahwa paparan intens terhadap citra tubuh ideal di media sosial berkorelasi dengan meningkatnya ketidakpuasan tubuh, terutama pada generasi muda (Tiggemann &amp; Slater, 2014). Dengan kata lain, fashion Y2K tidak hanya memengaruhi gaya berpakaian, tetapi juga cara individu memandang tubuh dan dirinya sendiri.</p>
<p>Fashion sejatinya adalah sistem makna sosial. Crane menegaskan bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol yang diproduksi dan disebarkan melalui media untuk membangun identitas dan diferensiasi sosial (Crane, 2012). Ketika Y2K terus dikultivasi sebagai simbol gaya yang keren dan relevan, generasi muda terdorong untuk mengadopsinya sebagai bagian dari identitas sosial mereka, sering kali tanpa menyadari bahwa pilihan tersebut telah lebih dulu diarahkan oleh media.</p>
<p>Algoritma media sosial memperparah efek ini. Pariser menyebut kondisi ini sebagai filter bubble, di mana pengguna terus disuguhi konten serupa berdasarkan preferensi sebelumnya (Pariser, 2011). Ketika seseorang menyukai satu konten Y2K, maka linimasanya akan dibanjiri gaya serupa. Akibatnya, pilihan fashion terasa bebas, padahal sebenarnya dibatasi oleh logika algoritmik.</p>
<p>Kembalinya fashion Y2K seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tren gaya, tetapi sebagai cermin bagaimana media membentuk selera kolektif secara diam-diam. Teori kultivasi membantu kita memahami bahwa apa yang kita anggap sebagai preferensi pribadi sering kali merupakan hasil dari paparan media yang panjang dan konsisten.</p>
<p>Di tengah derasnya arus tren, sikap kritis menjadi penting. Menyukai fashion Y2K bukanlah masalah, namun menyadari bagaimana dan mengapa kita menyukainya adalah langkah awal untuk menjadi audiens yang lebih sadar. Jika tidak, kita berisiko terus mengulang siklus tren tanpa pernah benar-benar memilihnya secara reflektif.</p>
<p><strong>Penulis</strong>: Chalifian</p>
<p>Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/12/ketika-fashion-y2k-kembali-berkuasa-dan-media-diam-diam-membentuk-selera-masyarakat">Ketika Fashion Y2K Kembali Berkuasa dan Media Diam Diam Membentuk Selera Masyarakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Stigma Musik Metal dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/12/stigma-musik-metal-dalam-perspektif-teori-interaksionisme-simbolik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2026 11:32:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538981</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID: Musik metal merupakan salah satu genre musik yang paling sering mengalami pelabelan negatif dalam sejarah budaya populer modern. Sejak kemunculannya, musik ini kerap diasosiasikan dengan kekerasan, pemberontakan tanpa arah, satanisme, hingga penyimpangan moral. Di berbagai konteks sosial—mulai dari lingkungan keluarga, institusi pendidikan, hingga wacana media arus utama—musik metal sering diposisikan sebagai bentuk ekspresi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/12/stigma-musik-metal-dalam-perspektif-teori-interaksionisme-simbolik">Stigma Musik Metal dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID:</strong> Musik metal merupakan salah satu genre musik yang paling sering mengalami pelabelan negatif dalam sejarah budaya populer modern. Sejak kemunculannya, musik ini kerap diasosiasikan dengan kekerasan, pemberontakan tanpa arah, satanisme, hingga penyimpangan moral. Di berbagai konteks sosial—mulai dari lingkungan keluarga, institusi pendidikan, hingga wacana media arus utama—musik metal sering diposisikan sebagai bentuk ekspresi yang menyimpang dari norma dominan.</p>
<p>Stigma tersebut tidak hanya menempel pada musik sebagai produk budaya, tetapi juga melekat pada individu dan komunitas yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari subkultur metal. Untuk memahami bagaimana stigma ini terbentuk dan mengakar kuat dalam masyarakat, teori interaksionisme simbolik menawarkan sudut pandang yang relevan dan kritis.</p>
<p>Teori interaksionisme simbolik berangkat dari asumsi dasar bahwa realitas sosial tidak bersifat objektif dan given, melainkan dibangun melalui proses interaksi sosial yang terus berlangsung. Manusia tidak merespons dunia secara langsung, tetapi melalui makna yang mereka berikan terhadap simbol-simbol tertentu. Makna tersebut muncul dari interaksi sosial dan terus dimodifikasi melalui proses interpretasi.</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-538987" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0053-400x267.jpg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0053-400x267.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0053-150x100.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0053-537x360.jpg 537w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260112-WA0053.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></p>
<p>Herbert Blumer menegaskan bahwa makna tidak melekat secara intrinsik pada suatu objek, melainkan merupakan hasil kesepakatan sosial. Dengan demikian, stigma terhadap musik metal bukanlah konsekuensi alamiah dari karakter musik itu sendiri, melainkan hasil konstruksi makna yang dibentuk dan direproduksi dalam interaksi sosial.</p>
<p>Dalam konteks musik metal, simbol-simbol yang digunakan sering kali menjadi sumber utama kesalahpahaman. Distorsi gitar yang keras, tempo cepat, vokal growl atau scream, serta lirik yang gelap kerap dimaknai secara simplistik sebagai simbol kemarahan dan kekerasan. Estetika visual metal—seperti dominasi warna hitam, ilustrasi tengkorak, logo bertipografi tajam, hingga performa panggung yang ekstrem—semakin menguatkan asosiasi negatif tersebut. Melalui proses interaksi simbolik, simbol-simbol ini kemudian ditafsirkan oleh masyarakat luas sebagai representasi ancaman terhadap nilai moral, ketertiban, dan religiositas.</p>
<p>Media massa memiliki peran sentral dalam memperkuat dan melegitimasi penafsiran negatif ini. Musik metal sering diberitakan dalam konteks yang problematis, seperti kerusuhan konser, konflik sosial, atau perilaku menyimpang sebagian kecil penggemarnya. Representasi semacam ini membentuk wacana dominan yang menyederhanakan realitas subkultur metal. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, media berfungsi sebagai arena produksi makna, di mana simbol-simbol metal direduksi menjadi tanda-tanda deviasi sosial. Masyarakat yang tidak memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan komunitas metal cenderung mengadopsi makna tersebut tanpa proses refleksi kritis.</p>
<p>Namun, makna simbolik musik metal tidaklah tunggal dan homogen. Di dalam komunitas metal sendiri, simbol-simbol yang dianggap negatif oleh masyarakat luar justru dimaknai secara berbeda.</p>
<p>Distorsi dan agresivitas musikal dipahami sebagai bentuk kejujuran emosional dan sarana katarsis atas tekanan psikologis dan sosial. Lirik-lirik metal sering kali memuat kritik terhadap ketidakadilan struktural, kekerasan negara, eksploitasi ekonomi, hingga krisis eksistensial manusia modern. Melalui interaksi intens di dalam komunitas, musik metal dimaknai sebagai medium komunikasi simbolik yang merepresentasikan perlawanan, solidaritas, dan pencarian makna hidup.</p>
<p>Perbedaan penafsiran antara masyarakat umum dan komunitas metal inilah yang melahirkan stigma. Dalam kerangka interaksionisme simbolik, stigma muncul ketika makna yang dibangun oleh kelompok dominan bertabrakan dengan makna yang dimiliki oleh kelompok minoritas. Kelompok dominan—yang didukung oleh institusi sosial seperti media, pendidikan, dan norma agama—memiliki kuasa simbolik untuk menentukan makna yang dianggap sah. Akibatnya, makna alternatif yang dibangun oleh komunitas metal sering kali didelegitimasi dan diposisikan sebagai penyimpangan.</p>
<p>Stigma terhadap musik metal juga berdampak signifikan pada pembentukan identitas sosial penggemarnya. Individu yang mengidentifikasi diri sebagai metalhead kerap mengalami pelabelan sosial yang memengaruhi cara mereka dipersepsikan dan diperlakukan. Preferensi musik dan penampilan fisik sering dijadikan dasar penilaian moral dan psikologis. Dalam banyak kasus, penggemar metal dipaksa untuk menegosiasikan identitasnya di ruang sosial. Sebagian memilih menyembunyikan identitas metalnya demi menghindari diskriminasi, sementara sebagian lain justru menginternalisasi stigma tersebut dan menggunakannya sebagai simbol resistensi terhadap nilai-nilai arus utama.</p>
<p>Proses negosiasi identitas ini menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis dan esensial, melainkan hasil dari interaksi simbolik yang dinamis. Identitas metal terbentuk melalui dialog antara konsep diri individu dan cerminan sosial yang diberikan oleh masyarakat. Ketika stigma terus direproduksi, identitas metal semakin mengeras sebagai bentuk perlawanan simbolik. Dalam konteks ini, musik metal berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana artikulasi politik dan kultural.</p>
<p>Lebih jauh, stigma terhadap musik metal mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk menolak ekspresi budaya yang tidak sesuai dengan norma dominan. Musik metal, dengan estetika dan narasi yang konfrontatif, menantang kenyamanan simbolik masyarakat. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, penolakan ini dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan stabilitas makna yang sudah mapan. Simbol-simbol metal dianggap mengganggu tatanan makna tersebut, sehingga harus dikontrol, dilabeli, dan dimarginalkan.</p>
<p>Melalui lensa interaksionisme simbolik, stigma musik metal seharusnya dilihat sebagai konstruksi sosial yang dapat dipertanyakan dan diubah. Mengurai stigma berarti membuka ruang dialog antar-makna, di mana simbol-simbol budaya tidak lagi dimonopoli oleh tafsir dominan. Pendekatan ini menuntut kesediaan untuk memahami musik metal dari sudut pandang pelaku dan komunitasnya, bukan sekadar dari representasi media yang parsial dan bias.</p>
<p>Pada akhirnya, musik metal bukanlah ancaman terhadap tatanan sosial, melainkan refleksi dari kegelisahan, kemarahan, dan kritik yang hidup dalam masyarakat itu sendiri. Stigma terhadap musik metal justru mengungkap ketakutan sosial terhadap ekspresi yang jujur dan konfrontatif. Dengan memahami musik metal melalui perspektif interaksionisme simbolik, kita diajak untuk lebih kritis terhadap proses pembentukan makna, kuasa simbolik, dan dinamika identitas dalam kehidupan sosial. Pendekatan ini membuka kemungkinan bagi pembacaan budaya yang lebih adil, reflektif, dan inklusif, sekaligus menempatkan musik metal sebagai bagian sah dari komunikasi sosial dan ekspresi kultural manusia modern.</p>
<p><strong>Penulis</strong> : Novenda Tegar                              Mahasiswa Ilmu Komunikasi        Universitas Dian Nuswantoro</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/12/stigma-musik-metal-dalam-perspektif-teori-interaksionisme-simbolik">Stigma Musik Metal dalam Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengulik Fenomena Prompt Gemini AI dalam Budaya Kreativitas dan Kolaborasi Media Sosial</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/08/mengulik-fenomena-prompt-gemini-ai-dalam-budaya-kreativitas-dan-kolaborasi-media-sosial</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2026 09:04:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538370</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID  : Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi unggahan foto hasil edit berbasis kecerdasan buatan. Mulai dari foto bergaya sinematik, versi miniatur, potret profesional, hingga visual estetik ala majalah, semuanya dibuat hanya dengan satu kunci utama: prompt. Tren penggunaan prompt Gemini AI untuk mengedit foto dengan cepat menyebar luas di platform seperti TikTok [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/08/mengulik-fenomena-prompt-gemini-ai-dalam-budaya-kreativitas-dan-kolaborasi-media-sosial">Mengulik Fenomena Prompt Gemini AI dalam Budaya Kreativitas dan Kolaborasi Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID</strong>  : Belakangan ini, lini masa media sosial dipenuhi unggahan foto hasil edit berbasis kecerdasan buatan. Mulai dari foto bergaya sinematik, versi miniatur, potret profesional, hingga visual estetik ala majalah, semuanya dibuat hanya dengan satu kunci utama: prompt. Tren penggunaan prompt Gemini AI untuk mengedit foto dengan cepat menyebar luas di platform seperti TikTok dan Instagram. Banyak pengguna membagikan template prompt yang sama, lengkap dengan contoh hasilnya, lalu mendorong pengguna lain untuk mencoba dan membagikan versi mereka sendiri. Dalam waktu singkat, media sosial berubah menjadi ruang pamer kolektif yang dipenuhi karya visual berbasis AI. Fenomena ini ramai diberitakan di media daring yang menyoroti prompt Gemini AI viral untuk mengedit foto estetik, dan ada juga yang menampilkan prompt viral untuk foto pantai di Instagram. Hal ini menunjukkan bagaimana tren prompt AI tidak hanya viral, tetapi juga mendorong partisipasi masif warganet untuk bereksperimen dengan kreativitas digital mereka.</p>
<p>Tren ini menarik karena memperlihatkan bagaimana teknologi tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang rumit dan eksklusif. Gemini AI hadir sebagai alat yang “ramah” bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang desain atau fotografi. Dengan menyalin prompt yang sudah beredar, pengguna bisa menghasilkan visual yang terlihat profesional dan estetik. Pola ini membuat proses kreatif menjadi lebih terbuka dan mudah diakses, sekaligus mendorong partisipasi masif dari warganet. Media sosial tidak hanya menjadi tempat konsumsi konten, tetapi juga ruang produksi visual yang dilakukan secara bersama-sama, yang membuktikan bahwa audiens kini bisa berperan aktif dalam memproduksi dan membentuk tren kreatif digital.</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-538374" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0058-400x267.jpg" alt="" width="400" height="267" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0058-400x267.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0058-150x100.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0058-537x360.jpg 537w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0058.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></p>
<p>Jika dilihat lebih jauh, tren ini tidak sekadar soal teknologi baru atau gaya edit foto yang sedang populer. Ia mencerminkan perubahan cara audiens berinteraksi dengan media. Dalam kajian komunikasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep Participatory Culture atau budaya partisipatif yang diperkenalkan oleh Henry Jenkins. Teori ini menekankan bahwa audiens modern tidak lagi pasif, tetapi aktif terlibat dalam produksi, distribusi, dan pengembangan makna sebuah konten. Hambatan untuk berkreasi semakin rendah, sementara kesempatan untuk berpartisipasi semakin luas. Jenkins menekankan empat ciri penting budaya partisipatif: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi konten, yang semua terlihat jelas dalam praktik warganet menggunakan prompt Gemini AI (Jenkins, 2006).</p>
<p>Penjelasan ini diperkuat oleh penelitian lokal yang relevan dalam jurnal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, yang menyatakan bahwa media digital mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produsen dan penyebar konten. Partisipasi aktif ini terlihat melalui aktivitas berbagi, meniru, memodifikasi, dan mendistribusikan ulang konten sesuai kreativitas masing-masing individu. Jurnal tersebut menegaskan bahwa media sosial telah membentuk ruang kolaboratif, di mana pengguna saling terhubung dan memengaruhi satu sama lain dalam proses produksi pesan (Muthmainah, Sjafirah, &amp; Saputra, 2024). Dalam konteks tren prompt Gemini AI, pengguna bukan sekadar menyalin prompt, tetapi menyesuaikan hasilnya dengan preferensi, identitas, dan gaya mereka masing-masing, sehingga setiap karya tetap unik meski lahir dari formula yang sama.</p>
<p>Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana budaya partisipatif bekerja dalam praktik nyata. Satu unggahan prompt dapat memicu ribuan unggahan lain dengan versi visual yang berbeda-beda. Pengguna tidak hanya menonton atau menyukai konten, tetapi ikut mempraktikkan, mengadaptasi, dan membagikan kembali hasilnya. Proses ini menciptakan sirkulasi konten yang aktif dan berulang, sekaligus menimbulkan perasaan “ikut bagian dari tren”. Kreativitas di sini tidak hanya soal orisinalitas prompt, tetapi juga kemampuan individu untuk menafsirkan dan mengekspresikan kembali hasil AI dengan cara yang sesuai dengan karakter mereka.</p>
<p>Meski begitu, penulis melihat sisi yang perlu diperhatikan. Ketergantungan pada prompt yang sama bisa membuat produksi visual menjadi seragam, sementara aspek refleksi kritis terhadap penggunaan teknologi menjadi minim. Budaya partisipatif seharusnya tidak hanya mendorong partisipasi masal, tetapi juga kesadaran kreatif dan etis pengguna. AI adalah alat, bukan pengganti kreativitas manusia, sehingga pengguna tetap perlu mengontrol dan memaknai hasil karyanya. Tren ini mengingatkan bahwa kolaborasi teknologi dan manusia harus tetap berpijak pada tujuan ekspresif yang sehat.</p>
<p>Menurut penulis, tren prompt Gemini AI harus dibaca sebagai peluang, bukan sekadar hiburan atau viral sesaat. Media sosial bisa menjadi ruang belajar kreatif, di mana siapa pun bisa mengekspresikan diri, mencoba ide baru, dan berinteraksi dengan karya orang lain. AI hanya memperluas kemungkinan tersebut, tetapi keputusan kreatif tetap berada di tangan pengguna. Dengan kesadaran ini, budaya partisipatif dapat berkembang menjadi praktik kreatif yang sehat, edukatif, dan inklusif, bukan sekadar tren digital yang cepat berlalu.</p>
<p>Pada akhirnya, pengalaman warganet dengan prompt Gemini AI menunjukkan bagaimana media sosial dan teknologi AI membentuk komunikasi digital yang partisipatif dan kolaboratif. Bagaimana pengguna memanfaatkan, menafsirkan, dan membagikan karya mereka menunjukkan potensi manusia untuk tetap kreatif di era digital, sekaligus menekankan pentingnya kesadaran kritis dalam penggunaan teknologi. Penulis percaya bahwa tren seperti ini, jika dimaknai dengan tepat, dapat menjadi ruang ekspresi yang memperkaya budaya digital Indonesia dan memotivasi generasi muda untuk terus berinovasi secara kreatif, etis, dan bermakna.</p>
<p><strong>Penulis</strong> : Binfilio Andri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/08/mengulik-fenomena-prompt-gemini-ai-dalam-budaya-kreativitas-dan-kolaborasi-media-sosial">Mengulik Fenomena Prompt Gemini AI dalam Budaya Kreativitas dan Kolaborasi Media Sosial</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemberitaan Perselingkuhan di Indonesia dan Peran Media dalam Menentukan Agenda Publik</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/08/pemberitaan-perselingkuhan-di-indonesia-dan-peran-media-dalam-menentukan-agenda-publik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2026 03:17:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538294</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID: Pemberitaan mengenai perselingkuhan semakin sering muncul di media daring Indonesia dan kerap melibatkan figur publik, mulai dari selebritas, tokoh politik, hingga influencer media sosial. Kasus-kasus tersebut tidak hanya muncul sebagai berita selingan, tetapi sering menjadi tajuk utama di berbagai portal berita daring dan terus diperbincangkan di media sosial. Intensitas pemberitaan yang tinggi membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/08/pemberitaan-perselingkuhan-di-indonesia-dan-peran-media-dalam-menentukan-agenda-publik">Pemberitaan Perselingkuhan di Indonesia dan Peran Media dalam Menentukan Agenda Publik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID:</strong> Pemberitaan mengenai perselingkuhan semakin sering muncul di media daring Indonesia dan kerap melibatkan figur publik, mulai dari selebritas, tokoh politik, hingga influencer media sosial. Kasus-kasus tersebut tidak hanya muncul sebagai berita selingan, tetapi sering menjadi tajuk utama di berbagai portal berita daring dan terus diperbincangkan di media sosial. Intensitas pemberitaan yang tinggi membuat isu perselingkuhan seolah menjadi fenomena sosial yang selalu relevan untuk dikonsumsi publik.</p>
<p>Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting : apakah meningkatnya perhatian publik terhadap isu perselingkuhan mencerminkan urgensi sosial yang nyata, atau merupakan hasil dari konstruksi media yang secara konsisten menempatkan isu tersebut sebagai agenda utama? Di sinilah peran teori komunikasi, khususnya Agenda Setting Theory, menjadi relevan untuk memahami bagaimana media berkontribusi dalam membentuk fokus perhatian masyarakat.</p>
<p>Pemberitaan perselingkuhan di Indonesia tidak hanya hadir sebagai berita hiburan, tetapi kerap disajikan secara berulang dan intens. Perselingkuhan sebagai isu pribadi sejatinya merupakan peristiwa yang normatif terjadi di ranah privat, namun di era digital setiap gejolak kehidupan pribadi seseorang dapat menjadi narasi publik yang meluas. Informasi tentang dugaan perselingkuhan bukan hanya muncul di rubrik hiburan, tetapi sering kali dipublikasikan di portal berita besar, media sosial, dan saluran berita daring yang memiliki jutaan pembaca.</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-538297" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0039-400x266.jpg" alt="" width="400" height="266" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0039-400x266.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0039-150x100.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260108-WA0039.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></p>
<p>Pemberitaan yang dilakukan secara berulang terhadap kasus perselingkuhan berpotensi membentuk persepsi publik mengenai relasi rumah tangga dan moral sosial. Dalam praktiknya, intensitas liputan tersebut juga cenderung mendorong sensasionalisme berita, di mana aspek dramatis lebih ditonjolkan dibandingkan fungsi edukatif media. Di sisi lain, fokus pemberitaan yang berlebihan kerap mengabaikan implikasi psikologis, sosial, dan etika yang menyertai fenomena perselingkuhan, baik bagi individu yang terlibat maupun masyarakat secara luas.</p>
<p>Fenomena ini menunjukkan bahwa isu perselingkuhan sering kali menjadi topik prioritas dalam pemberitaan media secara konsisten, dan bukan sekadar representasi fakta belaka, tetapi juga cerminan dari dinamika komunikasi sosial yang lebih luas.</p>
<p>Agenda Setting Theory adalah kerangka teori dalam komunikasi massa yang menjelaskan bagaimana media massa memiliki kekuatan untuk menentukan isu-isu mana yang menjadi fokus perhatian publik. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw pada 1972, yang menyatakan bahwa media tidak selalu memberitahukan kepada masyarakat apa yang harus dipikirkan, tetapi media sangat memengaruhi apa yang dipikirkan masyarakat.</p>
<p>Dalam konteks komunikasi, media berperan sebagai gatekeeper yang memilah, memilih, dan memberikan porsi/penekanan tertentu pada sesuatu isu, sehingga isu tersebut menjadi penting dan menonjol dalam benak publik. Semakin sering dan dominan media membahas suatu isu, semakin besar kemungkinan publik menganggap isu itu penting dan layak dibicarakan.</p>
<p>Dalam perkembangan teorinya, Agenda Setting terbagi ke dalam beberapa level. First-level agenda setting berfokus pada penentuan isu apa yang dianggap penting, sedangkan second-level agenda setting atau attribute agenda setting menekankan bagaimana media membingkai aspek tertentu dari sebuah isu. Artinya, media tidak hanya memilih topik, tetapi juga menentukan sudut pandang, narasi, dan karakteristik yang dilekatkan pada isu tersebut.</p>
<p>Di era digital, teori Agenda Setting mengalami perluasan makna. Media sosial mempercepat interaksi antara agenda media dan agenda publik. Isu yang ramai dibicarakan warganet sering diangkat kembali oleh media arus utama, sementara pemberitaan media juga memicu diskusi lanjutan di media sosial. Proses ini menciptakan siklus agenda yang saling memperkuat, di mana batas antara produsen dan konsumen informasi menjadi semakin kabur.</p>
<p>Ketika media massa menampilkan isu perselingkuhan secara terus-menerus dan menonjol, masyarakat cenderung melihat isu tersebut sebagai sesuatu yang penting dan serius. Teori Agenda Setting menunjukkan bahwa media mampu “mengatur perhatian” publik melalui kuantitas (berapa banyak berita) dan kualitas pemberitaan (bagaimana berita diwakili).</p>
<p>Misalnya, pemberitaan viral mengenai dugaan perselingkuhan publik figur sering tampil sebagai berita utama di portal berita daring, kemudian disebarkan ke media sosial yang secara otomatis memperluas jangkauan berita tersebut. Kasus ini bukan hanya menjadi “informasi yang dilihat”, tetapi diprioritaskan sehingga publik merasa isu ini adalah sesuatu yang perlu diperhatikan dan dibahas.</p>
<p>Pada level pertama agenda setting, media menentukan bahwa perselingkuhan adalah isu yang layak mendapatkan perhatian luas. Hal ini terlihat dari frekuensi pemberitaan yang tinggi serta penempatan berita pada kanal utama. Publik yang terpapar secara terus-menerus akhirnya menganggap isu tersebut penting dan relevan untuk dibicarakan.</p>
<p>Pada level kedua agenda setting, media juga membentuk cara pandang publik terhadap perselingkuhan. Pemberitaan sering kali menyoroti aspek konflik, drama, dan reaksi emosional, sehingga membingkai perselingkuhan sebagai skandal moral dan konflik sosial, bukan sekadar persoalan personal. Bingkai ini memengaruhi emosi publik, mendorong opini, serta memicu diskursus yang cenderung reaktif di media sosial.</p>
<p>Media sosial kemudian memperkuat agenda media arus utama. Ketika isu perselingkuhan ramai dibicarakan warganet, media kembali mengangkatnya karena dianggap memiliki nilai berita tinggi. Siklus ini menciptakan hubungan timbal balik antara media dan publik yang semakin memperkuat dominasi isu perselingkuhan dalam ruang publik.</p>
<p>Menurut penulis, fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan media dalam menentukan agenda publik perlu disertai tanggung jawab etis yang besar. Perselingkuhan memang memiliki nilai berita, terutama jika melibatkan figur publik, namun dominasi isu ini dalam pemberitaan berpotensi mengaburkan batas antara kepentingan publik dan konsumsi sensasi.</p>
<p>Media seharusnya tidak hanya mempertimbangkan daya tarik isu, tetapi juga dampak sosial dari pemberitaan yang berulang. Ketika isu privat menjadi agenda publik tanpa konteks edukatif yang memadai, masyarakat berisiko terjebak dalam budaya konsumsi konflik dan drama, alih-alih diskursus yang konstruktif.</p>
<p>Di sisi lain, publik juga perlu meningkatkan literasi media agar mampu memahami bahwa apa yang sering diberitakan belum tentu mencerminkan isu yang paling berdampak bagi kehidupan sosial secara luas.</p>
<p>Maraknya pemberitaan perselingkuhan di Indonesia dapat dipahami sebagai hasil dari mekanisme agenda setting media. Melalui pemilihan dan penekanan isu tertentu, media berperan besar dalam membentuk fokus perhatian publik. Agenda Setting Theory membantu menjelaskan bagaimana isu privat dapat berubah menjadi agenda publik yang dominan.</p>
<p>Sebagai pembaca dan konsumen berita, kita juga perlu mengembangkan literasi media yang kritis, sehingga tidak hanya “terbawa arus pemberitaan”, tetapi mampu memahami konteks luas di balik isu-isu yang dibangkitkan oleh media. Oleh karena itu, baik media maupun publik memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang komunikasi yang sehat, berimbang, dan reflektif di tengah derasnya arus informasi digital.</p>
<p>Penulis : Nabila Permata Putri Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/08/pemberitaan-perselingkuhan-di-indonesia-dan-peran-media-dalam-menentukan-agenda-publik">Pemberitaan Perselingkuhan di Indonesia dan Peran Media dalam Menentukan Agenda Publik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tanpa Disadari, TikTok Menggandeng Cara Individu Menilai Isu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/01/07/tanpa-disadari-tiktok-menggandeng-cara-individu-menilai-isu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2026 08:24:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=538175</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG SUARABARU.ID  : Setiap hari, individu berhadapan dengan arus informasi yang datang tanpa henti. Dari layar ponsel hingga linimasa media sosial, berita dan potongan narasi silih berganti dalam waktu singkat, sering kali dikonsumsi tanpa proses membaca yang mendalam. Dalam situasi seperti ini, membaca informasi tidak selalu dilakukan secara utuh. Judul, cuplikan video, atau narasi singkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/07/tanpa-disadari-tiktok-menggandeng-cara-individu-menilai-isu">Tanpa Disadari, TikTok Menggandeng Cara Individu Menilai Isu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG SUARABARU.ID  :</strong> Setiap hari, individu berhadapan dengan arus informasi yang datang tanpa henti. Dari layar ponsel hingga linimasa media sosial, berita dan potongan narasi silih berganti dalam waktu singkat, sering kali dikonsumsi tanpa proses membaca yang mendalam.</p>
<p>Dalam situasi seperti ini, membaca informasi tidak selalu dilakukan secara utuh. Judul, cuplikan video, atau narasi singkat kerap dijadikan pegangan utama dalam memahami suatu peristiwa. Penilaian awal sering kali terbentuk bahkan sebelum individu menelusuri isi informasi secara lengkap.</p>
<p><img loading="lazy" class="alignnone size-medium wp-image-538177" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260107-WA0151-400x225.jpg" alt="" width="400" height="225" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260107-WA0151-400x225.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260107-WA0151-150x84.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260107-WA0151.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></p>
<p>Kondisi tersebut semakin kuat dengan kehadiran media sosial, terutama TikTok. Platform ini menyajikan informasi dalam bentuk video singkat dengan visual yang menarik, ritme cepat, dan narasi padat. Dalam hitungan detik, individu sudah diarahkan pada emosi, sudut pandang, dan kesimpulan tertentu mengenai suatu isu.</p>
<p>Penelitian Akbar, Hasyim, dan Asmurti (2024) menunjukkan bahwa TikTok dimanfaatkan oleh Generasi Z sebagai sumber informasi karena dianggap praktis, mudah diakses, dan relevan dengan keseharian. Karakter visual dan durasi singkat membuat informasi terasa ringan dan mudah dipahami.</p>
<p>Namun, kemudahan tersebut menyimpan konsekuensi. Informasi yang diterima secara instan sering kali tidak diiringi dengan upaya mencari konteks atau sumber lain. Individu cenderung merasa sudah mengetahui suatu isu hanya dari satu atau dua video yang muncul di linimasa.</p>
<p>Kebiasaan ini membuat proses penilaian berlangsung sangat cepat. Opini terbentuk bahkan sebelum informasi dipahami secara menyeluruh. Dalam banyak kasus, opini yang terbentuk sejak awal menjadi sulit diubah, terutama ketika diperkuat oleh konten serupa yang terus muncul secara berulang.</p>
<p>Fenomena ini semakin jelas ketika satu isu yang sama hadir dalam berbagai konten TikTok dengan sudut pandang yang berbeda. Fakta yang disampaikan dapat serupa, tetapi cara bercerita, pilihan visual, dan fokus narasi yang digunakan kreator tidak selalu sama.</p>
<p>Safitri dan Trianita (2024) menemukan bahwa konten TikTok memiliki pengaruh signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan informasi audiens. Pengaruh tersebut tidak hanya berasal dari isi pesan, tetapi juga dari cara pesan dikemas secara menarik dan emosional.</p>
<p>Satu konten dapat membingkai peristiwa sebagai masalah serius yang memicu kekhawatiran. Konten lain dapat menampilkan isu serupa sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dibesarbesarkan. Individu kemudian menilai peristiwa bukan hanya berdasarkan apa yang terjadi, melainkan berdasarkan bagaimana peristiwa itu dikisahkan.</p>
<p>Perbedaan cara penyajian ini menunjukkan bahwa TikTok tidak sekadar menyampaikan realitas. Konten yang beredar turut membentuk cara individu memandang dan menilai realitas tersebut. Pilihan visual, musik latar, intonasi suara, dan ekspresi kreator menjadi bagian dari proses pembentukan makna.</p>
<p>Pengaruh ini jarang hadir dalam bentuk ajakan eksplisit. Ia bekerja secara halus melalui penekanan emosi, pemilihan sudut pandang tertentu, serta pengulangan narasi yang konsisten. Tanpa disadari, individu diarahkan untuk memperhatikan satu sisi realitas dan mengabaikan sisi lainnya.</p>
<p>Ketika suatu isu terus muncul dengan sudut pandang yang sama, kerangka tersebut perlahan dianggap sebagai kebenaran umum. Narasi yang berulang membentuk pola pikir bersama yang digunakan individu dalam berdiskusi, berkomentar, dan mengambil sikap.</p>
<p>Dalam kajian ilmu komunikasi, proses ini dikenal sebagai framing media. Framing menjelaskan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk cara fakta tersebut dimaknai oleh audiens.</p>
<p>Salah satu kerangka framing yang banyak digunakan adalah Model Framing Robert N. Entman. Model ini menekankan bahwa framing merupakan proses selektif, di mana media memilih aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan, sementara aspek lain dikesampingkan.</p>
<p>Menurut Entman, framing bekerja melalui empat fungsi utama. Media mendefinisikan masalah, menjelaskan penyebab, memberikan penilaian moral, dan mengusulkan solusi. Keempat fungsi ini membantu memahami bagaimana suatu pesan disusun secara sistematis.</p>
<p>Pendefinisian masalah menentukan apakah suatu peristiwa diposisikan sebagai krisis, ancaman, atau sekadar dinamika biasa. Penjelasan penyebab mengarahkan perhatian pada pihak atau faktor tertentu yang dianggap bertanggung jawab.</p>
<p>Penilaian moral membangun kesan tentang mana yang dianggap benar, salah, pantas, atau bermasalah. Sementara itu, solusi memberi isyarat mengenai tindakan atau sikap yang dianggap paling masuk akal.</p>
<p>Dalam TikTok, keempat fungsi tersebut sering kali hadir secara implisit. Konten dikemas ringan, menghibur, dan personal, sehingga framing terasa alami dan tidak dipersepsikan sebagai upaya memengaruhi.</p>
<p>Berbagai penelitian menunjukkan bahwa TikTok kini juga menjadi ruang penyebaran informasi kesehatan. Saputra dan Rakhmawati (2025) menemukan bahwa konten edukasi kesehatan di TikTok mampu meningkatkan ketertarikan audiens, tetapi sangat bergantung pada gaya komunikasi kreator.</p>
<p>Masalah muncul ketika gaya komunikasi yang persuasif tidak selalu diiringi dengan akurasi informasi. Penelitian Han, Lyu, dan Ling (2025) menunjukkan bahwa banyak konten populer di TikTok mengandung informasi menyesatkan, namun tetap dipercaya karena dikemas secara meyakinkan dan mudah dipahami.</p>
<p>Arus informasi yang terlalu padat membuat individu rentan mengalami kebingungan informasi. Dalam kondisi ini, individu cenderung mengandalkan kesan awal daripada melakukan penelusuran lanjutan terhadap sumber yang lebih kredibel.</p>
<p>TikTok kemudian tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga arena pembentukan opini publik. Framing yang terjadi di dalamnya ikut menentukan isu mana yang dianggap penting dan mana yang terpinggirkan.</p>
<p>Penting untuk dipahami bahwa framing tidak selalu berarti manipulasi. Setiap proses komunikasi niscaya melibatkan seleksi dan penekanan. Kreator konten bekerja dalam keterbatasan durasi, algoritma, dan tuntutan perhatian audiens.</p>
<p>Namun, kesadaran individu menjadi kunci dalam menghadapi realitas tersebut. Mengonsumsi informasi secara lebih kritis dan tidak berhenti pada satu konten dapat membantu memperluas sudut pandang.</p>
<p>Literasi media tidak berarti menolak TikTok sebagai sumber informasi. Literasi media mendorong individu untuk lebih sadar dalam memaknai konten yang dikonsumsi, mempertanyakan sumber, dan memahami konteks.</p>
<p>Pada akhirnya, TikTok akan terus menggandeng cara individu menilai isu melalui narasi yang dibangun. Yang menjadi penting adalah memastikan pengaruh tersebut disadari, bukan diterima begitu saja. Di tengah banjir informasi, kesadaran kritis menjadi fondasi bagi ruang publik yang lebih sehat.</p>
<p>Penulis: Auryn Azaria Putri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/01/07/tanpa-disadari-tiktok-menggandeng-cara-individu-menilai-isu">Tanpa Disadari, TikTok Menggandeng Cara Individu Menilai Isu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KKN MMK Posko 10 UIN Walisongo lakukan Kegiatan &#8220;Engage and Empower&#8221; Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Desa Candisari tentang Teknologi Pertanian Ozone</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/08/25/kkn-mmk-posko-10-uin-walisongo-lakukan-kegiatan-engage-and-empower-tingkatkan-kesadaran-masyarakat-desa-candisari-tentang-teknologi-pertanian-ozone</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2025 05:14:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=492474</guid>

					<description><![CDATA[<p>TEMANGGUNG SUARABARU.ID :  Sosialisasi bertajuk &#8220;Engage and Empower&#8221; sukses diselenggarakan di Tempat Pertemuan Masyarakat (TPM) Dusun Candisari, Desa Candisari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, pada Rabu (30/7/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya kelompok tani, mengenai pemanfaatan teknologi ozone dalam meningkatkan mutu dan memperpanjang umur simpan hasil pertanian hortikultura. Acara dihadiri oleh perangkat desa, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/25/kkn-mmk-posko-10-uin-walisongo-lakukan-kegiatan-engage-and-empower-tingkatkan-kesadaran-masyarakat-desa-candisari-tentang-teknologi-pertanian-ozone">KKN MMK Posko 10 UIN Walisongo lakukan Kegiatan &#8220;Engage and Empower&#8221; Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Desa Candisari tentang Teknologi Pertanian Ozone</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TEMANGGUNG SUARABARU.ID : </strong> Sosialisasi bertajuk &#8220;Engage and Empower&#8221; sukses diselenggarakan di Tempat Pertemuan Masyarakat (TPM) Dusun Candisari, Desa Candisari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, pada Rabu (30/7/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya kelompok tani, mengenai pemanfaatan teknologi ozone dalam meningkatkan mutu dan memperpanjang umur simpan hasil pertanian hortikultura.</p>
<p>Acara dihadiri oleh perangkat desa, ketua RT, serta seluruh ketua kelompok tani Desa Candisari. Kehadiran mereka menandakan dukungan penuh terhadap upaya pengembangan inovasi teknologi pertanian di wilayah pedesaan. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Panitia, Andi Ismail, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya penguasaan teknologi sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing petani di tengah tantangan modernisasi dan pasar global.</p>
<p>“Teknologi ozone mampu menjadi solusi bagi petani hortikultura. Selain untuk memperpanjang masa simpan hasil panen, penggunaan teknologi ini juga dapat meningkatkan kualitas produk sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Kami berharap masyarakat Desa Candisari dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan mengembangkan keterampilan dalam penerapan teknologi tersebut,” ujarnya.</p>
<p>Dalam kegiatan ini, panitia menghadirkan narasumber utama, Direktur PT Dipo, Azwar Awanta, S.E., M.M.. Dalam paparannya, Azwar menjelaskan secara detail fungsi dan manfaat alat D.Ozone yang dikembangkan perusahaannya. Menurutnya, sayuran yang direndam dengan air ber-ozone mampu mengurangi residu pestisida hingga 90 persen sekaligus memperpanjang umur simpan produk hortikultura.</p>
<p>“Tidak hanya itu, air bekas rendaman ozone ternyata masih bisa dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman. Hal ini tentu menjadi nilai tambah karena teknologi ini bersifat ramah lingkungan sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan,” terang Azwar dalam sesi presentasi.</p>
<p>Selain pemaparan materi, kegiatan Engage and Empower juga dilengkapi dengan sesi implementasi dan demonstrasi lapangan. Peserta diperlihatkan cara penggunaan alat D.Ozone secara langsung, sehingga mereka dapat memahami aplikasi teknologi tersebut dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Sesi diskusi interaktif pun berlangsung dinamis, dengan peserta yang aktif mengajukan pertanyaan seputar teknis penggunaan, biaya operasional, hingga potensi pasar produk hortikultura yang telah melalui proses ozonisasi.</p>
<p>Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari keterlibatan mereka sepanjang acara. Beberapa ketua kelompok tani bahkan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sosialisasi ini, karena memberikan wawasan baru sekaligus peluang untuk meningkatkan hasil panen. Salah satu peserta, Sutarto, ketua kelompok tani setempat, menyatakan bahwa informasi yang disampaikan sangat bermanfaat dan membuka wawasan para petani mengenai pentingnya inovasi dalam bidang uhm pertanian.</p>
<p>“Selama ini kami masih mengandalkan cara tradisional untuk menjaga kesegaran sayuran. Dengan adanya teknologi ini, kami melihat harapan baru agar produk hortikultura dari Desa Candisari bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkapnya.</p>
<p>Kegiatan ditutup dengan ajakan dari panitia agar para petani tidak hanya berhenti pada tahap pengetahuan, tetapi juga segera menerapkan hasil sosialisasi dalam praktik nyata. Dengan demikian, diharapkan teknologi ozone dapat menjadi langkah awal menuju peningkatan kesejahteraan petani sekaligus mendukung program pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian berkelanjutan.</p>
<p>Melalui Engage and Empower, Desa Candisari menunjukkan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menjadi pelopor inovasi pertanian di tingkat lokal</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/08/25/kkn-mmk-posko-10-uin-walisongo-lakukan-kegiatan-engage-and-empower-tingkatkan-kesadaran-masyarakat-desa-candisari-tentang-teknologi-pertanian-ozone">KKN MMK Posko 10 UIN Walisongo lakukan Kegiatan &#8220;Engage and Empower&#8221; Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Desa Candisari tentang Teknologi Pertanian Ozone</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>