Oleh : Muhammad Syarif Hidayat
Lahir di Mutih Kulon, Demak, pada 10 Januari 1959, Khammad merupakan sosok sederhana yang telah melalui beragam perjalanan hidup, dari bertani dan menenun hingga mengabdikan diri sebagai guru ngaji. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia dikenal sebagai pribadi yang tegas namun penyabar dan dermawan.
Khammad menjalani keseharian dengan kecintaan pada ilmu agama, mengaji kitab, serta berziarah ke makam para wali. Keteguhan dan kesederhanaannya menjadikan sosok Khammad tidak hanya dikenal sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pribadi yang membawa nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan.
Sebelum mengabdikan diri sebagai guru ngaji, anak kedua dari enam bersaudara ini pernah menjalani kehidupan sebagai petani dan menekuni pekerjaan menenun. Di tengah kesibukannya, ia senang mengaji kitab dan berziarah ke makam para wali, dua hal yang mencerminkan kecintaannya terhadap ilmu agama dan kehidupan spiritual.
Perjalanan hidup Khammad dalam menuntut ilmu agama tidak berhenti pada pendidikan formal yang ia tempuh hingga jenjang SMP di MTs Al Islah. Rasa hausnya terhadap ilmu justru membawanya menempuh perjalanan yang lebih panjang. Ia pernah mondok di Mutih Kulon dan terus mencari sosok guru yang dapat menjadi tempatnya belajar dan memperdalam ilmu agama.

Dalam perjalanan tersebut, langkahnya membawanya hingga ke Jepara, tepatnya di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat itu, ia bertemu dengan H. Anwar, ayah dari Mbah Sobib. Pertemuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan keilmuannya. Khammad akhirnya berguru kepada Mbah Sobib dan semakin mendalami ilmu agama yang kelak menjadi bekal utama dalam kehidupannya.
Ilmu yang diperolehnya tidak hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. Sebelum menikah, Khammad telah mulai mengabdikan diri sebagai guru ngaji di wilayah Troso. Di tengah masyarakat, ia mengajarkan ilmu agama dan membimbing anak-anak maupun orang-orang yang ingin belajar mengaji. Dari sinilah perannya sebagai seorang guru ngaji dan kyai mulai dikenal. Pengabdiannya tumbuh dari kecintaan terhadap ilmu yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun dalam perjalanan mencari guru dan menuntut ilmu.
Bagi Khammad, menjadi guru ngaji dan kyai bukan sekadar pekerjaan atau kedudukan, melainkan sebuah bentuk pengabdian. Perjalanan panjangnya dalam mencari ilmu, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berguru, hingga akhirnya mengajarkan ilmu kepada masyarakat menjadi bukti bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak pernah membatasi semangatnya untuk terus belajar. Justru melalui perjalanan itulah, Khammad menemukan jalan hidupnya: menuntut ilmu, mengamalkannya, dan membagikannya kepada orang lain.

Dalam perjalanan pengabdiannya tersebut, Khammad kemudian bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya, Siti Fatimah. Keduanya bertemu pada tahun 1988 dan kemudian membangun kehidupan rumah tangga bersama. Pertemuan tersebut menjadi babak baru dalam kehidupan Khammad. Dari seorang pencari ilmu dan guru ngaji yang mengabdikan diri di tengah masyarakat, ia kemudian menjalani peran yang lebih besar sebagai seorang suami, ayah, sekaligus tokoh agama yang terus memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Bersama istrinya, Siti Fatimah, Khammad membangun keluarga sederhana yang penuh dengan perjuangan dan kasih sayang. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Ummi Lutfiyah, Ilham Luthfi, dan Siti Khotijah. Kehidupan keluarga mereka tidak selalu berjalan mudah. Khammad dan keluarganya pernah menjalani kehidupan yang serba pas-pasan dan penuh keterbatasan. Namun, keadaan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Dengan kesabaran dan ketekunan, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.
Seiring berjalannya waktu, perjuangan panjang Khammad mulai membuahkan hasil. Salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya adalah mampu membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga berhasil meraih gelar sarjana. Selain keberhasilan dalam keluarga, Khammad juga merasa bersyukur karena dapat mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar, terutama kepada anak-anak kecil yang belajar mengaji.
Dari kehidupan yang dahulu serba kekurangan, perlahan kondisi keluarganya menjadi lebih berkecukupan. Bagi Khammad, keberhasilan tersebut bukan hanya tentang perubahan kondisi ekonomi, tetapi juga tentang kesempatan untuk melihat anak-anaknya tumbuh, mengenyam pendidikan tinggi, serta dapat memberikan ilmu dan manfaat kepada orang-orang di sekitarnya.
Dalam menjalani kehidupan, Khammad memegang prinsip sederhana yang sarat makna. Pesannya, “Nko lha reti dewe,” yang artinya kita akan tahu sesuatu yang seharusnya kita tahu pada saat waktu yang tepat, dan “Wong bener durung tentu selamet, dadi ngalaho supoyo selamet. Wong urip iku golek keselametan,” menjadi gambaran pandangan hidupnya bahwa kehidupan bukan sekadar tentang menjadi yang paling benar atau unggul, melainkan tentang bagaimana seseorang senantiasa mencari keselamatan dan kebaikan.
Prinsip lillahi ta’ala menjadi motivasi yang mengiringi langkahnya. Ia memilih hidup sederhana, tidak berlebihan mencintai dunia, serta menjalani setiap pengabdian dengan kesabaran, keikhlasan, dan niat karena Allah.
Namun karena kehendak Allah, pada 10 Mei 2026, Khammad kembali kepada Sang Khaliq setelah beberapa waktu berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya. Kepergiannya menjadi akhir dari perjalanan panjang seorang sosok yang telah mengabdikan hidupnya dalam kesederhanaan, keteguhan, dan kebaikan.
Kepergian almarhum tidak pernah benar-benar menghapus jejak kebaikan yang telah ia tinggalkan. Ilmu yang ia ajarkan, nasihat yang ia sampaikan, serta keteladanan hidupnya akan terus dikenang oleh keluarga, murid-murid, dan masyarakat yang pernah mengenalnya.
Kisah hidup Khammad menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Dalam kesederhanaannya, ia telah meninggalkan warisan yang begitu berarti: ilmu, pendidikan, kebaikan, dan teladan hidup yang akan terus hidup dalam doa, kenangan, serta hati orang-orang yang ditinggalkannya. (*)













