blank
Ilustrasi ayam kampung. Insert: Bupati Blora. Foto: Reka SB.ID

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID) – Kebutuhan ayam kampung yang tinggi belum mampu dipenuhi produksi lokal di daerah Blora. Hal ini mendorong Pemerintah Kabupaten Blora menggagas pengembangan Blora sebagai sentra produksi ayam kampung.

Gagasan tersebut dibahas langsung Bupati Blora Arief Rohman bersama sejumlah guru besar UGM sebagai upaya membangun peternakan modern berbasis riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat, di Yogyakarta, Kamis (16/07/2026).
Pertemuan yang diunggah Bupati Blora Arief Rohman melalui akun Instagram pribadinya.

Arief Rohman bersama sejumlah Guru Besar UGM, yakni Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, DEA., IPU., Prof. Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.Sc., dan Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D.

Mereka sepakat mendorong lahirnya ekosistem peternakan ayam kampung yang modern, efisien, dan berkelanjutan agar mampu menjawab tingginya permintaan pasar sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Blora.

Arief mengatakan, selama ini Blora dikenal sebagai salah satu daerah dengan populasi sapi terbesar di Indonesia. Namun, pemerintah daerah juga melihat peluang besar pada sektor ayam kampung karena tingginya permintaan pasar yang belum mampu dipenuhi oleh produksi lokal.

“Blora butuh pasokan ayam kampung sangat banyak. Untuk kebutuhan sate, opor ayam, ayam bakar, ayam goreng, dan berbagai kuliner lainnya, pasokan yang ada masih kurang. Karena itu kami sepakat dengan para profesor untuk mendesain bagaimana Blora menjadi sentra produksi ayam kampung,” ujar Mas Arief.

Menurut Mas Arief, pengembangan ayam kampung tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.

Karena itu, pemerintah akan melibatkan desa-desa sebagai basis produksi melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. “Jadi untuk desa siap-siap ya,” kata Mas Arief.

Secara teknis, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto menjelaskan, ayam kampung memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik terhadap lingkungan. Jika dipelihara secara intensif dengan manajemen yang tepat, produktivitasnya dapat meningkat signifikan.

Enam Bulan Panen

Prof. Bambang menyampaikan, selama ini ayam kampung umumnya baru dipasarkan setelah berumur sekitar satu tahun. Padahal, melalui sistem budi daya yang lebih modern dan terkontrol, ayam sudah dapat dipanen pada usia sekitar enam bulan.

“Secara teknis ayam kampung itu mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika dikelola secara intensif, hasilnya juga akan lebih baik. Yang terpenting adalah bagaimana mengendalikan penyakitnya, karena itulah tantangan utama dalam pemeliharaan ayam kampung,” jelas Prof.Bambang.

Menurut Prof.Bambang, pengembangan ayam kampung sangat cocok diterapkan melalui pemberdayaan masyarakat di pedesaan. Warga dapat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lokasi budidaya dengan sistem pemeliharaan yang lebih intensif.

Prof.Bambang menegaskan, selama tersedia pasar yang jelas dan pendampingan teknis berjalan baik, usaha ayam kampung memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan.

“Kalau pasarnya sudah ada, sebenarnya tidak ada masalah. Soal bibit pun nanti bisa kita siapkan bersama-sama,” tambah Prof.Bambang.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Ambar Pertiwiningrum menilai, keberhasilan program tersebut harus ditopang oleh kelembagaan ekonomi desa. Ia mengusulkan agar potensi peternakan ayam kampung diintegrasikan dengan koperasi desa sehingga memiliki kepastian pasar.

“Untuk desa dan koperasinya dihubungkan dengan potensi desa. Koperasi Merah Putih harus menjadi off taker dari potensi lokal,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Blora dan para akademisi UGM, pengembangan sentra ayam kampung diharapkan menjadi model peternakan rakyat berbasis riset, teknologi, dan kelembagaan ekonomi desa.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi ayam kampung, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendongkrak perekonomian masyarakat Blora secara berkelanjutan.

Konsep ini juga selaras dengan berbagai inovasi UGM dalam pengembangan ayam kampung unggul dan sistem peternakan berkelanjutan berbasis teknologi.

El Nyunanto