blank
Salah satu peserta lomba di nomor tari, saat menyuguhkan tariannya yang memukau penonton dan dewan juri. Foto: dok/wurrysrie

TAWANGMANGU (SUARABARU.ID)– Dalam rangka memeriahkan Milad Aisyiyah ke-109 dan Hari Keluarga Nasional (Harganas), Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah menggelar kegiatan Jambore Dakwah Kemanusiaan.

Guna memeriahkan kegiatan ini, dilaksanakan lomba pentas seni yang diikuti sejumlah peserta dari berbagai perwakilan Aisyiyah yang ada di daerah. Acara ini diselenggarakan di Graha Sunan Lawu, Tawangmangu, belum lama ini.

Menurut Ketua Panitia Jambore Dakwah Kemanusiaan, Umi Barokah SH, acara berlangsung meriah. Salah satu agendanya, lomba pentas seni yang diikuti sejumlah perwakilan dengan beragam pertunjukan.

BACA JUGA: Unissula dan UNIBA Kolaborasi Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi

”Seni sering diartikan sebagai karya cipta yang lahir dari kepekaan pikir, indera, dan hati. Seni mengandung nilai keindahan dan kehalusan yang tinggi, sehingga kita bisa menikmatinya hampir setiap saat,” kata Umi dalam keterangan tertulisnya.

Ditambahkan dia, meski tidak semua orang mampu mengekspresikannya, bukan berarti seni hanya milik kaum tertentu atau segelintir seniman saja. Penikmat seni bisa siapa saja, begitu pula para pelakunya.

Adapun cabang yang dilombakan meliputi, gerak dan lagu atau tari, menyanyi atau olah vokal, dan parade puisi. Di lomba parade puisi, hampir semua pesertanya ibu-ibu dengan usia matang. Hanya pada lomba tari, terlihat beberapa peserta yang masih berusia lebih muda.

BACA JUGA: Kemenkum Jateng Dorong Pendaftaran IG Batik Girilayu, 105 PUD Karanganyar Menunggu Perlindungan

Momen paling memukau terjadi di lomba menyanyi. Penonton yang didominasi kaum ibu, dibuat terkesima. Dua peserta yang tampil duet, bahkan mampu menyuguhkan vokal yang menakjubkan. Suara mereka berpadu apik, dan berhasil membius dewan juri serta seluruh penonton.

”Lomba pentas seni malam itu berlangsung lancar dan sukses. Ini menjadi bukti, usia tak menghalangi semangat untuk terus kreatif dan inovatif. Berkesenian tidak memandang usia maupun jabatan. Berkesenian juga bukan monopoli kaum muda,” tukas Umi lagi.

Kontributor: Wurry Srie