JEPARA (SUARABARU.ID)- Tradisi santunan Yatama di tiap tanggal 10 Muharram selalu disambut gembira oleh anak-anak yang akan mendapatkan kebahagiaan di malam santunan. Bukan hanya anak yatim, para piatu dan dhuafa pun ikut mendapatkan berkah di malam santunan tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, kegiatan yang dilaksanakan di wilayah Tendoksari dan Gerjensari Tahunan ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 118.725.000,-. Menurut Ketua RW 06 Tendoksari, capaian panitia yang mampu mengumpulkan dana santunan sebesar 118 juta lebih itu merupakan rekor baru.
“Alhamdulillah, semangat berbagi warga terus meningkat. Ini menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masyarakat Tendoksari dan Gerjensari semakin kuat. Semoga keberkahan selalu menyertai seluruh donatur dan panitia,” ujar Suhartono dalam sambutan sekaligus laporan di hadapan jamaah yang hadir, Rabu, (24/6/2026).
Menurut Suhartono, dana tersebut dihimpun dari enam wilayah, yakni RT 1 hingga RT 5 RW 6 Tendoksari serta RT 5 RW 6 Gerjensari. Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 93.900.000. “Peningkatan ini menunjukkan semakin tumbuhnya kepedulian dan semangat gotong royong masyarakat”, ungkapnya.
Sementara itu, Petinggi Desa Tahunan, H. Muhadi, memberikan apresiasi atas semangat warga dalam berdonasi. Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil dari kerja sama dan kekompakan masyarakat yang patut dijadikan contoh bagi wilayah lain.
Muhadi juga mengapresiasi sistem pengelolaan dana yang dilakukan secara terbuka dan transparan. Seluruh perolehan dan penyaluran dana santunan dapat diketahui masyarakat melalui tautan yang disediakan panitia dan dibagikan secara luas oleh tim Tendoksari, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH Solikhin menyampaikan keutamaan memuliakan anak yatim. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa orang yang peduli terhadap anak yatim akan berada di surga bersama Nabi Muhammad SAW seperti dekatnya dua jari.
Kedekatan tersebut menggambarkan betapa besar pahala bagi orang yang mengasihi dan memperhatikan kehidupan anak-anak yatim. KH Solikhin menjelaskan bahwa pemberian santunan sejatinya bukan hanya kebutuhan anak yatim dan kaum dhuafa, tetapi juga menjadi kebutuhan bagi masyarakat yang ingin memperoleh rahmat Allah SWT.
Ia mengajak jamaah untuk memperbanyak sedekah sebagai salah satu ikhtiar menolak bala dan mendatangkan keberkahan, terutama melalui kepedulian kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa.
“Sedekah memiliki banyak fungsi dan manfaat. Jangan menunggu merasa ikhlas terlebih dahulu untuk berbagi, tetapi belajarlah dan biasakan diri untuk bersedekah. Dengan membiasakan diri membantu sesama, terutama anak yatim dan kaum dhuafa”, cetusnya.
“Insyaallah akan tumbuh keikhlasan dan rahmat Allah SWT akan senantiasa menyertai kehidupan kita,” pesan KH Solikhin menutup pengajian umum yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan.
ua













