SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Bulan Sura, sesuai pemahaman Kejawen, identik dengan ritual jamasan pusaka. Demikian halnya dengan Sura Tahun Be 1960 (2026 M) saat ini. Jamasan pusaka di Bulan Sura, biasa dilakukan oleh Keraton Kasunanan dan Praja Mangkunegaran di Surakarta, Jawa Tengah, serta Keraton Kasultanan di Yogyakarta.
Bahkan terhitung mulai Tanggal 23 sampai dengan 25 Juni 2026, jamasan yang dirangkai pameran pusaka digelar di Asta Buju Agung, di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep Madura, Provinsi Jawa Timur. Aeng Tong Tong, terkenal sebagai desa dengan Empu (pembuat) keris terbanyak di dunia yang telah diakui oleh UNESCO.
Yang keberadaannya, menjadi salah satu dari 50 Desa Wisata terbaik di Tanah Air, sebagai penerima Anugerah Desa Wisata Indonesia ADWI. Aeng Tong Tong, dalam bahasa Madura berasal dari kata aeng yang berarti air, sementara tong-tong adalah bejana tempat air semacam genthong.
Desa Aeng Tong Tong terkenal sebagai desa industri kreatif pembuatan keris terbesar, dengan empu keris terbanyak di dunia. Ini yang kemudian menjadikan Sumenep dikenal dengan Kota Keris. Budaya penempaan keris, dimulai pada masa Aria Wiraraja, yakni Bangsawan Wengker yang dipindah tugaskan ke ujung Pulau Madura, dengan membawa serta orang-orang Wengker yang pandai membuat Keris.
Pada Tahun 2014, Aeng Tong Tong dinobatkan oleh UNESCO sebagai desa dengan perajin (empu) keris terbanyak di dunia. Terdapat ratusan empu aktif (disebutkan ada sebanyak 640 orang empu) yang melestarikan tradisi pembuatan keris secara turun-temurun. Keberadaan mereka yang begitu banyak, menjadikan Aeng Tong Tong dinobatkan sebagai desa wisata dengan predikat memiliki pembuat (empu) keris terbanyak di dunia.
Tradisi pembuatan keris di Sumenep telah mendapat pengakuan internasional oleh UNESCO sebagai Intangible cultural heritage (ICH), yakni Warisan Budaya Tak Benda. Sejarah panjang tradisi penempaan keris di Sumenep merupakan warisan leluhur yang telah ada sejak zaman Kerajaan Sumenep, dan mengalami perkembangan pesat pada masa pemerintahan Pangeran Joko Tole di abad Ke-XIV.
Merawat
Terkait dengan jamasan pusaka di Bulan Sura, Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, itu menjadi kegiatan rutin tahunan sebagai upaya merawat pusaka. Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta ini, menyatakan, tradisi jamasan pusaka dituliskan pada halaman 257-260 dalam Ensiklopedi Kejawen Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa (Drs R Harmanto Bratasiswara, Yayasan Suryasumirat Jakarta 2000).

Pusaka yang dijamas pada Bulan Sura, meliputi wesi aji seperti keris, tombak, cundrik dan patrem. Juga benda-benda warisan lain yang memiliki nilai tinggi dan dipercayai memiliki tuah. Termasuk, kereta kencana milik raja, serta perabotan lain seperti gamelan (bendhe) milik keraton.
Jamasan dilakukan sebagai wujud perawatan, pemeliharaan dan pelestarian warisan leluhur. Yang teknisnya dilakukan secara adat, disertai kelengkapan aneka sesaji, doa dan puasa, sebagaimana dilakukan turun temurun dari kakek moyang.
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pernah punya agenda wisata budaya jamasan pusaka milik Pangeran Sambernyawa. Tapi sejak pandemi Covid-19, agenda tahunan di Objek Wisata Tirta Waduk Gajah Mungkur tersebut ditiadakan. Ritual jamasan tetap diadakan oleh Tim Pusaka dari Praja Mangkunegaran, tapi tempatnya dipindahkan kembali ke Pendapa Kecamatan Selogiri, yang berdekatan dengan Tugu Ireng sebagai monumen penyimpanan pusaka Pangeran Sambernyawa.
Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogri Drs Sriyanto MM, menyatakan, jamasan pusaka Pangeran Sambernyawa Bulan Sura Tahun Be 1960 (2026 M), akan dilakukan Kamis (21/7/26) mendatang. ”Tempatnya di Pendapa Kabupaten Wonogiri,” jelasnya.(Bambang Pur)













