blank
Perwakilan siswa SDN Panggang 1 saat menerima hadiah Lomba Kentrung Se-kabupaten Jepara 2026 yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Jepara Muh. Ibnu Hajar. Foto: Fauzan.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Suara lantang itu tak lahir begitu saja. Ia ditempa dari sore-sore yang panjang di ruang kelas, dari tawa yang sesekali pecah di sela latihan, dan dari kesabaran pelatih yang terus mengulang irama hingga sempurna.

Ketika nama SDN 1 Panggang diumumkan sebagai Juara I Lomba Kentrung Tingkat Kabupaten Jepara di Pendopo Kabupaten Jepara pada Sabtu malam (20/06/2026). Suara riuh dan pelukan hangat menyambut sesaat sebelum naik ke panggung.

blank
Penampilan SDN Panggang 1 Saat Grand Final Lomba Kentrung Se-Kabupaten Jepara. Foto: Fauzan.

Kemenangan itu menjadi puncak dari perjalanan yang tak sederhana Radya Satya Aryasena, Salma Atiqoh, dan Haikal Muhammad Al Fares yang tampil sangat percaya diri.

Mereka bukan sekadar membawakan sebuah seni pertunjukan kentrung. Namun mereka sedang mencoba menghidupkan kembali budaya seni tutur tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Jepara, Kesenian Kentrung.

Di balik penampilan yang memikat itu, tersimpan kesabaran proses latihan berhari-hari di sela kegiatan belajar mereka.

blank
Foto bersama Guru dan Pelatih. Foto: Fauzan,

Seusai pelajaran usai, ketiganya kembali berkumpul. Mereka menghafal parikan (syair khas Kentrung), menyesuaikan intonasi, menjaga tempo rebana yang di mainkan, hingga belajar menghayati setiap cerita yang dibawakan.

Perjalanan yang didampingi pelatih Aminan Basyari ini,  tidak hanya berlatih teknik bertutur, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa Kentrung bukan sekadar perlombaan.

“Seni itu adalah warisan yang harus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman, semoga anak-anak selalu menikmati proses dan tidak patah semangat” ujar Aminan.

Semangat itu pula yang dirasakan Kepala SDN 1 Panggang, Anif Asmaudin. Baginya, trofi juara hanyalah simbol. Nilai terbesar justru terletak pada proses yang dijalani anak-anak hingga mampu mencintai budaya daerahnya sendiri yaitu Jepara.

“Alhamdulillahirabbil’alamin atas prestasi Juara I Lomba Kentrung Tingkat Kabupaten. Saya sangat bangga dan terharu melihat anak-anak hebat kami membawakan seni tradisional Kentrung dengan begitu menjiwai,” ungkapnya.

Menurut Anif, kemenangan tersebut bukan sesuatu yang datang secara instan. Ada kerja keras para siswa yang rela menyisihkan waktu bermain demi berlatih. Ada guru, pembina, dan pelatih yang sabar mengarahkan setiap gerakan dan lantunan cerita.

Ada pula orang tua dan Komite Sekolah yang tanpa lelah memberikan dukungan, mulai dari mengantar latihan hingga memberi semangat ketika rasa lelah datang. “Kemenangan ini bukan instan, melainkan buah dari kerja keras tim kami,” katanya.

Di tengah derasnya arus budaya populer yang begitu mudah diakses melalui gawai, memilih Kentrung sebagai ruang berekspresi mungkin terasa berbeda. Namun justru di situlah makna kemenangan SDN 1 Panggang.

Seluruh warga sekolah ini membuktikan bahwa anak-anak masa kini tetap mampu mencintai tradisi ketika diberi kesempatan untuk mengenalnya.

Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk membangun karakter, menanamkan kecintaan terhadap budaya, dan membentuk rasa percaya diri melalui seni.

Anif menegaskan komitmen sekolah untuk terus menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari pendidikan karakter.

“Kami, keluarga besar SDN 1 Panggang, berkomitmen untuk terus merawat tradisi budaya Jepara sekaligus mencetak generasi yang berprestasi dan berkarakter. Terima kasih atas doa dan dukungan seluruh warga sekolah serta masyarakat Jepara. SDN 1 Panggang, maju bersama, mengukir prestasi,” tuturnya.

Harapannya prestasi ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh elemen sekolah. “Kami ingin pergerakan siswa tidak berhenti di sini, tetapi harus tetap terus mengasah kemampuannya,” ujarnya.

Malam itu, trofi juara memang dibawa pulang ke sekolah. Namun yang sesungguhnya dibawa pulang oleh Radya, Salma, dan Haikal jauh lebih berharga.

Pesan Kepala Sekolah ini, tetap rendah hati karena menjadi juara adalah awal, namun tantangan di tingkat selanjutnya tentu akan lebih besar. Sehingga terus Berlatih dan tidak cepat puas menjadi kuncinya.

Malam itu, ketiga anak ini sukses membawa nama sekolah dengan keyakinan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di hati generasi muda.

Dan selama masih ada anak-anak yang bersedia belajar, guru yang sabar membimbing, serta sekolah yang percaya pada kekuatan tradisi, suara Kentrung akan terus bergema, mengisahkan Jepara kepada masa depan.

Septiana W