WONOSOBO (SUARABARU.ID)-KH Khairullah Al Mujtaba alias Gus Itab mengaku bersedia menjadi Ketua DPC PPP Kabupaten Wonosobo di periode kedua karena didukung 15 Pimpinan Anak Cabang (PAC) setempat dan didawuhi para Kiai.
“Saya mau menjadi Ketua DPC PPP Wonosobo lagi karena atas permintaan 15 PAC PPP dan didawuhi oleh para Kiai. Sebelum Muscab saya sowan KH Mahmud Ismail (Gus Mail) Tempelsari Maduretno Kalikajar, dan didawuhi untuk jadi Ketua DPC PPP lagi,” katanya.
Mandat itulah, lanjut Gus Itab, yang membuat dirinya bersedia untuk mengemban amanah sebagai orang nomer satu di partai berlambang Kakbah di Wonosobo untuk periode kedua kalinya itu. 15 PAC mendukung, artinya semua sepakat Gus Itab menakhodai DPC PPP Wonosobo kembali.
Meski didukung 15 PAC, direstui Kiai dan dipilih Tim Formatur Muscab, dalam perkembanganya, justru Gus Itab tidak ditetapkan oleh DPP PPP sebagai Ketua DPC PPP Wonosobo periode 2026-2031. SK DPP PPP justru menunjuk M Farid sebagai Ketua DPC PPP Wonosobo.
Ketua DPW PPP Jateng Suyono berdalih Gus Itab tidak ditetapkan kembali sebagai Ketua DPC PPP Wonosobo karena dinilai gagal mempertahakan kursi PPP di DPRD dan menaikan suara PPP di Pemilu 2024 di wilayahnya. Namun, Gus Itab membantah pernyataan Ketua DPW PPP Jaten Suyono tersebut.
“Tidak benar jika dikatakan perolehan PPP Wonosobo di Pemilu 2024 anjlok. Mari lihat data, pada Pemilu 2019 PPP dapat 28.416 suara sedang di Pemilu 2024 naik menjadi 31.423. Di Pilkada 2024 paslon Gus Itab-Sidqi juga memperoleh 13.425 suara, lebih besar dari perolehan suara PPP di pemilu legislatif,” bebernya.
Perihal pengurangan kursi di DPRD Wonosobo turun dari 3 kursi menjadi 2 kursi, kata Gus Itab, itu karena 3 calon anggota legislatif incumbent gagal semua untuk mempertahankan kursi di Dapil-nya Masing-masing. Dua kursi yang didapat PPP justru berasal dari kader pendatang baru.
“Humam Hasani di Dapil Kejajar, Garung dan Mojotengah, Udik Ridawan di Dapil Kertek Kalikajar serta Muhammad Farid di Dapil Kalibawang, Kaliwiro dan Wadaslintang, justru kursinya tumbang. Yang jadi malah kader baru yakni Ma’arif dan Husnul Majazi,” tegasnya.
Inisiatif Kader

Maka, lanjut Gus Itab, tidak fair jika pencopotan dirinya dari posisi Ketua DPC PPP Wonosobo atas alasan jika perolehan suara dan kursi PPP di wilayahnya turun alias anjlok. Perolehan kursi PPP di DPRD Jawa Tengah juga turun dari 9 kursi jadi 6 kursi di Pemilu 2024.
“Saat itu, Suyono menjabat sebagai Sekretaris DPW PPP Jateng. Penurunan suara dan kursi PPP juga berlaku secara nasional. Itu kalau mau dievaluasi secara keseluruhan. Jika alasan pencopotan saya dari jabatan Ketua DPC PPP karena perolehan suara pemilu turun, itu sungguh sangat mengada-ada,” tandasnya.
Gus Itab mengaku tidak tahu alasan sebenarnya kenapa dirinya tidak diberi SK sebagai Ketua DPC PPP Wonosobo di periode keduanya. Dia sendiri justru heran, katanya ada evaluasi tapi Ketua DPW PPP Jateng Suyono, tidak pernah turun ke bawah untuk melakukan konsolidasi partai.
“Intinya bahwa DPP dan DPW PPP Jateng tidak suka pada saya menjadi Ketua DPC PPP Wonosobo tanpa alasan yang jelas. Padahal, saya sejak awal berjuang di PPP demi berkhikmad pada ulama. Saya selama ini telah berjuang sekuat tenaga, pikiran dan material demi untuk membesarkan PPP sebagai warisan para ulama,” paparnya.
Menurut Gus Itab, keterpilihannya sebagai Ketua DPC PPP Wonosobo di periode kedua, juga melalui proses yang legal sesuai AD/ART PPP. Dimulai dari usulan ditingkat PAC PPP, melalui proses Muscab dan dipilih oleh Tim Formatur hasil Muscab DPC PPP di PP Al Asy’ariyyah Kalibeber Mojotengah Wonosobo.
“Muscab PPP Dapil VI juga diikuti 5 DPC PPP wilayah Kedu. Semua datang. Muscab bersama tersebut dihadiri langsung dan dibuka pula oleh Ketua DPW PPP Jateng, Suyono. Jadi kurang apa saya ini. Semua proses sudah dilalui. Kalo memang ada evaluasi ya juga harus dievaluasi semua dari tingkat DPP, DPW dan DPC PPP secara keseluruhan,” ujarnya.
Menyinggung soal menggembokan dan pensegelan Kantor DPC PPP Wonosobo, aku Gus Itab, tidak dilakukan oleh dirinya. Penutupan kantor partai dilakukan secara spontan oleh kader dan Satgas GPK, yang kecewa dengan sikap serta keputusan DPP PPP/DPW PPP Jawa Tengah tidak mengakomodasi hasil Muscab.
“Mestinya, di tengah situasi politik PPP secara nasional terpuruk, DPP PPP dan DPW PPP Jateng melakukan instropeksi dan evaluasi diri. Kenapa PPP di Pemilu 2024 lalu jatuh? Suara akar rumput PPP perlu didengar dan diperhatikan. Jangan hanya karena kepentingan elit, kader partai di bawah yang dikorbankan,” tandasnya.
Muharno Zarka












