blank
Pep Guardiola berfoto bersama sejumlah trofi yang didapatnya, saat melatih Manchester City. Foto: dok/manchestercity

blankOleh: Amir Machmud NS

// tak ada yang abadi/ begitulah kehidupan ini bergerak/ sebagai keniscyaan/ begitu pun Pep Guardiola/ dia sadar yang abadi hanya rasa/ dan, ia hanya meninggalkan cinta/ untuk Manchester City/ yang juga membangun rekatan/ dengan rasa yang baru//
(Sajak “Pep Guardiola”, 2026)

BENAR kata Pep Guardiola, “Tidak ada yang abadi. Jika ada, aku pasti sudah di sini. Yang abadi adalah perasaan, orang-orang, kenangan, dan cinta yang kumiliki untuk Manchester City-ku…”

Kalimat filosofis itu juga tergubah sebagai ungkapan keniscayaan dalam salah satu lagu Ariel (waktu itu masih di album Peterpan “Sebuah Nama, Sebuah Cerita”, 2008), Tak Ada yang Abadi. Simaklah ini, //Takkan selamanya tanganku mendekapmu/ Takkan selamanya raga ini menjagamu/ Seperti alunan detak jantungku/ Tak bertahan melawan waktu…//

Begitulah narasi indah Pep untuk mengungkapkan makna perpisahan. “Betapa indah waktu yang telah kita lalui bersama, Jangan tanya alasan kepergianku. Tidak ada alasan, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini waktuku…”

Sepuluh tahun. Mungkin bukan waktu yang lama, tetapi itulah durasi paling panjang dalam jejak kepelatihan Pep di sebuah klub, mulai dari Barcelona (2008-2012), hingga Bayern Muenchen (2013-2016). Dan, di klub itulah dia membendaharakan 20 trofi mulai dari Liga Primer, Piala FA, Community Shield, Piala Liga, Liga Champions, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Dia tak kalah berjajar dengan manajer legendaris Manchester United Alex Ferguson.

Cepat atau Lambat
Cepat atau lambat, momen perpisahan itu pasti akan terjadi. Sejak pertengahan musim lalu, sudah beredar rumor Pep Guardiola akan meninggalkan Etihad. Panggantinya juga sudah disebut-sebut, Enzo Maresca yang waktu itu diberhentikan oleh Chelsea. Maresca bukan nama baru bagi City, karena dia pernah menjadi staf kepelatihan Pep di Manchester Biru.

Kebetulan, prestasi Maresca juga tidak buruk saat dipecat The Blues. Dia mengantar Chelsea meraih Liga Konferensi UEFA 2024-2025 dan Piala Dunia Antarklkub FIFA 2025. Hanya karena disharmoni dengan manajemen, dia digantikan oleh Liam Rosenior yang hanya bertahan sekitar 100 hari di Stamford Bridge.

Bukan tidak mungkin, posisi Pep akan diisi oleh Enzo Maresca, atau nama yang juga muncul, Vincent Kompany. Dengan demikian, The Citizens tidak akan mengalami turbulensi adaptasi taktik, karena racikan Maresca juga senada dengan filosofi Pep, dan Kompany memahami inti taktik Pep Guardiola.

Seharusnya, Pep masih menyisakan kontrak selama setahun di Etihad, namun dia memutuskan berhenti lebih cepat. Entah ke mana nanti dia bakal berlabuh. Santer disebut dia bakal menuju Liga Pro Arab Saudi, atau banyak juga yang memperkirakan dia tertarik menerima tawaran melatih tim nasional Italia.

Yang pasti, dia adalah legenda hidup. Di klub mana pun baik Barcelona, Bayern Muenchen, maupun Manchester City, dia merevolusi permainan menjadi serasa “ideologi”. Basis taktik penguasaan bola (ball possession) dan pressing tinggi, serta penempatan posisi yang mewujud indah sebagai “koreografi” tiki-taka menjadi ciri khas Pe Guardiola.

Hanya di Bayern Muenchen dia dikritik tidak cocok dengan filosofi sepak bola Jerman yang lebih condong ke speed and power game. Gaya ini dinilai tidak cocok dengan mentalitas Bundesliga, dianggap memperlambat tempo dan rentan terhadap serangan balik. Toh bukankah sesungguhya Pep juga tidak bisa dipandang gagal di Bayern, karena mendominasi trofi domestik (tujuh gelar), dan hanya tidak berhasil mengangkat trofi Eropa?

Sebelumnya, di Barcelona dia menyempurnakan attacking football warisan sang “ideolog” Akademi La Masia Johan Cruyff dengan pressing dan dominasi penguasaan bola.

Filosofinya berpusat pada dominasi ball possession, dan permainan posisional. Tim Pep mengontrol pertandingan melalui operan pendek yang akurat, melakukan pressing ketat saat kehilangan bola, dan mendoktrinkan formasi cair untuk membongkar pertahanan lawan sekaligus menciptakan estetika bermain, semacam orkestrasi. Pada masanya, Barcelona menjadi gambaran sentuhan taktik Pep.

Pada pertengahan musim 2025-2026 Liga Primer, The Citizens sempat kehilangan kendali permainan, dan beberapa kali mengalami kekalahan dari lawan “yang tidak-tidak”. Namun haruslah diakui kemampuan Pep Guardiola dalam memulihkan mentalitas tim. Hingga menjelang pekan-pekan pamungkas liga, City bisa bangkit bahkan bersaing dengan Arsenal dalam perpacuan gelar, sampai akhirnya, selisih poin yang tipis menyelamatkan Meriam London untuk meraih trofi.

Musim ini, City memang gagal di liga, namun membendaharakan dua trofi: Piala FA dengan mengalahkan Chelsea di final, dan Piala Liga (Carabao Cup), menundukkan Arsenal.

Vincent Kompany
Selain Maresca, figur lain yang banyak disebut menjadi calon pengganti Pep adalah Vincent Kompany, eks kapten yang kini mengarsiteki Bayern Muenchen. Pada saat aktif sebagai pemain, dia pernah terpilih sebagai Pemain Terbaik 2012 Liga Primer. Juga menempati urutan ke-23 dari 100 pemain terbaik dunia yang dirilis oleh The Guardian.

Berkat 11 tahun memperkuat City dari 2008 hingga 2019, Kompany paham betul kultur dan lekak-lekuk Manchester Biru. Dia membawa Bayern hingga ke semifinal Liga Champions sebelum dikalahkan oleh Paris St Germain. Karismanya mampu mengatasi ego para bintang di ruang ganti.

Pelatih kelahiran Brussel, Belgia ini dikenal kaya variasi taktik. Dia juga visioner, memahami skema permainan yang diwariskan Pep Guardiola untuk dikembangkan sebagai metode taktik ala Kompany.

Siapa pun yang dipilih manajemen City, tentu dengan kalkulasi matang untuk meneruskan jejak matang Pep Guardiola.

Tak ada yang abadi. Cepat atau lambat, tidak bisa tidak, orang terbaik pasti akan berlalu. Kenangan Pep Guardiola tak akan terhapus di Etihad. Jejak itu terukir pada 20 tanda yang menghias lemari perbendaharaan trofi Manchester City. Dia telah menjadi legenda, yang mungkin bahkan tak tersamai…

— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id