blank
Rapat Koordinasi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah oleh  Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kementrian ATR/BPN di Kota Semarang. Kamis 4 Juni 2026. Foto: Humas Blora
𝗕𝗟𝗢𝗥𝗔 (SUARABARU.ID) — Kabupaten Blora memenuhi target nasional penetapan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), sehingga bisa  memberikan kepastian bagi sejumlah program strategis daerah, mulai dari pendirian Kampus Program Studi diluar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hingga pengembangan investasi.
Hal tersebut disampaikan Bupati Blora usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kementrian ATR/BPN di hotel Gumaya, Kota Semarang, Kamis 4 Juni 2026.
Bupati Blora, Arief Rohman mengatakan bahwa capaian Blora yang masuk dalam kelompok 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan persentase LP2B di atas 87 persen menjadi kabar baik bagi sejumlah agenda pembangunan daerah.
“Dengan masuknya Blora dalam 13 kabupaten/kota yang sudah memenuhi target LSD, kita berada pada angka sekitar 88 persen sehingga masuk kategori aman dan tidak terkena pembatasan,” kata Bupati Blora.
Menurut Bupati Blora, kepastian tersebut turut mendukung penyelesaian berbagai persyaratan perizinan strategis, termasuk pendirian PSDKU UNY di Kabupaten Blora.
“Izin pendirian PSDKU UNY di Blora akhirnya tuntas. Status Blora masuk dalam 13 kabupaten/kota yang sudah di atas 87 persen. Kita LP2B-nya sekitar 88 persen. Ini menjadi syarat penting untuk perizinan LSD, Sekolah Rakyat, maupun pendirian kampus UNY,” ucap Bupati Blora.
Bupati Blora menegaskan bahwa lahan yang telah ditetapkan sebagai LP2B tidak boleh dialihfungsikan karena menjadi bagian dari komitmen menjaga ketahanan pangan nasional.
Bupati Blora telah menerima dua SK terkait penggunaan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat tercatat dengan nomor 689/SK-PP.04.03/V/2026, dan SK penggunaan lahan untuk pembangunan Kampus PSDKU UNY bernomor 688/SK-PP.04.03/V/2026.
“Kami juga sudah menerima SK Menteri ATR/BPN tentang Rekomendasi Perubahan Penggunaan Tanah pada Lahan Sawah Dilindungi sudah keluar. Diserahkan oleh Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang, Pak Lampri,” ujar Bupati Blora.
Selain mendukung sektor pendidikan, penetapan LP2B juga dinilai memberikan kepastian bagi investasi dan menjadi dasar dalam peninjauan kembali Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Blora.
“Dengan kepastian ini, kran investasi semakin terbuka lebar. Penetapan LP2B juga menjadi dasar untuk peninjauan kembali Perda RTRW yang masa berlakunya berakhir pada 2021,” jelas Bupati Blora.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa Kabupaten Blora berdasarkan data pengendalian Lahan Baku Sawah tahun 2026, telah mengusulkan penetapan sekitar 61.006 hektare lahan sebagai LP2B atau mencapai 88,23 persen dari total Lahan Baku Sawah seluas 69.145 hektare.
“Angka tersebut melampaui target nasional minimal 87 persen,” kata Gubernur Jawa Tengah.
Disampaikan, bagi Blora, capaian LP2B sebesar 88,23 persen dan dua SK Mentri ATR/BPN tidak hanya menunjukkan komitmen menjaga ketahanan pangan, tetapi juga membuka ruang percepatan pembangunan sektor pendidikan, investasi, dan penataan ruang wilayah secara lebih terarah.
“Dengan kepastian status lahan tersebut, sejumlah proyek strategis daerah kini memiliki landasan hukum yang lebih kuat untuk direalisasikan,” tandas Gubernur Jawa Tengah.
Sementara itu, Wakil Menteri ATR/BPN,  Ossy Dermawan mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang melibatkan seluruh kepala daerah dalam percepatan penetapan luas baku sawah.
Secara regional, kata Ossy Dermawan, luas Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) yang telah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jawa Tengah mencapai sekitar 825 ribu hektare. Adapun luas baku sawah yang telah terdata mencapai sekitar 970 ribu hektare atau setara 85,11 persen dari target nasional.
“Jawa Tengah termasuk daerah yang progresif. Tinggal sedikit lagi yang harus dikejar agar mencapai target nasional,” ujar Wakil Menteri ATR/BPN.
Kudnadi Saputro