JAKARTA (SUARABARU.ID) – Jangan biarkan pengorbanan puluhan ribu warga yang telah rela melakukan transmigrasi Bedol Desa, akhirnya sirna oleh cepatnya laju sedimentasi (endapan) lumpur yang terjadi di perairan Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Demikian dikedepankan Anggota Komisi V DPR-RI, Dr H Hamid Noor Yasin MM, saat menyoroti terjadinya akselerasi (percepatan) laju sedimentasi (pengendapan) lumpur di perairan Bendungan Serba Guna Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri. Yang dampaknya, mendangkalkan wilayah perairan dan mengancam usia teknis Waduk Gajah Mungkur.
Kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Hamid, Anggota Fraksi PKS DPR-RI, kembali mengingatkan tentang kondisi kritis Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, yang disebabkan oleh percepatan laju sedimnetasi. Yang itu, perlu segera untuk dilakukan percepatan antisipasi penangannya.
Dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Menteri PU, politisi senior PKS itu, menyampaikan aspirasi mendesak mengenai langkah percepatan pengendalian laju sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Hal ini mendesak perlu dilakukan, agar umur ekonomis waduk yang legendaris tersebut, dapat diperpanjang, dan fungsi utama teknis pengendali banjir dapat dipertahankan.
Hamid, Wakil Rakyat Tingkat Pusat dari Dapil IV Provinsi Jateng (Wonogiri, Karanganyar, Sragen), mengingatkan, pembangunan Waduk Gajah Mungkur itu dapat diwujudkan atas sikap heroisme pengorbanan puluhan ribu warga Wonogiri. Mereka rela meninggalkan kampung halamannya, demi menjalani transmigrasi Bedol Desa ke Sumatera.
Dunia
Peran mereka, tercatat sebagai sejarah pemindahan warga sipil terbesar satu-satunya yang pernah terjadi di dunia. Di dunia, hanya ada dua kali perpindahan penduduk dalam jumlah besar. Pertama, perpindahan orang Belanda dalam jumlah besar dengan komando militer, saat Belanda menjajah Nusantara,
Kedua, transmigrasi Bedol Desa dengan jumlah sekitar 67 ribu warga masyarakat Kabupaten Wonogiri. Mereka ditransmigrasikan dengan cara pendekatan sipil ke Pulau Sumatera. Itu dilakukan, demi mewujudkan pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan sebanyak 51 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Terdiri atas Kecamatan Wonogiri, Ngadirojo, Nguntoronadi, Baturetno, Giriwoyo, Eromoko, dan Kecamatan Wuryantoro.
Sinyal darurat bahwa pengorbanan para transmigran Bedol Desa akan berakhir sia-sia, dapat terjadi karena disebabkan oleh derasnya laju sedimentasi pada Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. ”Kini hanya menyisakan usia waduk tinggal 5-6 tahun lagi,” ujar Hamid.
Waduk Gajah Mungkur, dibangun di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Pembangunannya dimulai Tahun 1974 dengan membangun Bendung Serba Guna Wonogiri. Bentang maindam (bendung utama), berada di pertemuan Kali Keduwang dengan alur Sungai Solo Hulu, lokasinya di Somohulun, Kecamatan Wonogiri Kota.
Fungsi utama dibangunnya Waduk Gajah Mungkur, dalam rangka mengendalikan banjir Bengawan Solo, yang kerap merendam Kota Solo, wilayah Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, Sragen dan daerah-daerah yang berada di bagian hilir.
Sejarah mencatat, banjir besar Bengawan Solo, terjadi pada Maret 1966, yang dampaknya menenggelamkan Kota Solo. Juga menimbulkan kerugian sangat besar, karena menghanyutkan sejumlah infrastruktur jembatan, memutuskan hubungan darat, merusak lahan pertanian, menenggelamkan wilayah pemukiman.
“Pak Menteri, ini perlu dilakukan kajian serius, untuk mengatasi sedimentasi yang membuat kondisi Waduk Gajah Mungkur yang makin kritis dan parah,” tegas Hamid. Saat ini, tambahnya, Waduk Gajah Mungkur (WGM) tidak saja berfungsi sebagai pengendali banjir. Tapi juga mampu memberikan irigasi pada ribuan Hektare (Ha) sawah, menghasilkan listrik tenaga air melalui turbin PLTA.
Multiplier Efect
Juga memberikan manfaat sebagai destinasi wisata, yang mampu memberikan multiplier effect. Termasuk mampu mendorong terwujudnya pertumbuhan ekonomi di sekitar Waduk Gajah Mungkur.
Berakitan itu, Hamid, minta, agar ada percepatan penanganan pada upaya penyelamatan Waduk Gajah Mungkur. ”Agar keberadaannya sekarang, tidak menjadi ancaman bagi generasi selanjutnya,” tegas Hamid.
Hal darurat yang perlu dilakukan, adalah mencegah laju sedimentasi dari 9 anak sungai yang bermuara ke perairan Waduk Gajah Mungkur. Terutama pencegahan sedimentasi dari Sungai Keduang yang berhulu dari Wonogiri timur, dan Sungai Wiroko yang berhulu dari Kecamatan Tirtomoyo.
Hamid, menyatakan, menurut data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, laju sedimentasi aktual kini mencapai 4,6 juta meter kubik (M³) per tahun, atau setara tiga kali lipat batas aman desain. Akibatnya, fungsi pengendali banjir terus tergerus, karena kapasitas tampung banjir, turun dari 220 juta M³ (1980) menjadi hanya 153,9 juta M³ (2011). Dampaknya, sekarang banjir klasik di wilayah Solo dan sekitarnya, kambuh kembali.
Di sisi lain, produksi listrik PLTA Waduk Gajah Mungkur pun menjadi merosot. Pada hal semula produksi listriknya mencapai sebanyak 12,4 MW dan terinterkonksi sebagai penyuplai kistrik di jaringan Jawa-Bali. Bahkan di musim kemarau, PLTA Gajah Mungkur terancam tidak dapat berproduksi.
Di sisi lain, tambah Hamid, fungsi irigasi sekitar seluas 23.200 Ha lahan sawah terancam tidak dapat difungsikan. Juga ribuan nelayan dan petani pembudidaya ikan dengan keramba jaring apung diambang kolaps.
Menyikapi beragam dampak buruk tersebut, Hamid, minta untuk dilakukan pengerukan sedimentasi lumpur di perairan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Bersamaan itu, perlu segera dilakukan pembangunan beberapa chekdam penahan lumpur dan reboisasi lahan di wilayah tangkapan air (chatment area).(Bambang Pur)













