SUKOHARJO (SUARABARU.ID) – Menyongsong Hari Raya Idul Adha 1447 H (2026 M), Ustadz Drs H Suroto, tampil menyampaikan kajian dengan tema Qurban. Membeberkan tentang pengertian dan waktu pelaksanaannya. Juga tentang syariat, hakekat dan rasa bersyukur menjadi manusia.
Disebutkan, qurban secara bahasa artinya mendekatkan diri. Secara syariat, menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu, dengan niat ibadah kepada Allah SWT. Kemudian mengenai waktu, pelaksanaannya terbatas, tidak bisa kapan dilakukan kapan saja. Yakni setelah sholat Idul Adha Tanggal 10 Dzulhijjah sampai sebelum matahari terbenam Tanggal 13 Dzulhijjah. Waktunya selama 4 hari, yaitu Tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, yakni waktu yang disebut Hari Tasyrik.
Tokoh masyarakat Begug SW, mengabarkan, kajian mengenai bahasan tentang kurban tersebut, berlangsung Rabu sore (20/5/26) dalam pengajian ba’da Maghrib di Masjid Al-Falah, Kampung Madyorejo, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kabupaten Sukoharjo.
Adapun syariat qurban ada 4 syarat utama, agar ibadah qurban sah. Ini meliputi hewan qurban, bisa unta, sapi, kerbau, kambing atau domba. Yang sudah memenuhi usia untuk kambing 1 tahun, sapi 2 tahun, unta 5 tahun. Hewan harus dalam keadaan sehat, tidak cacat yang jelas (buta, sakit parah, pincang, kurus kering).
Mengenai pembagian daging qurban, 1/3 untuk yang berkurban dan keluarga (Muqorib), 1/3 untuk kerabat dan tetangga, dan 1/3 untuk fakir miskin. Pembagian ini sebagai yang utama, tapi boleh dibagi lebih banyak ke fakir miskin.
Hakikat
Sedangkan hakikat qurban, bukan sekadar menyembelih hewan. Allah menegaskan: ”Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
Jadi hakikat qurban antarala lain untuk meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail, yang tunduk total pada perintah Allah, bahkan mengorbankan yang paling dicintai. Untuk melatih ketakwaan, yaitu dengan mengorbankan harta, waktu dan ego untuk taat kepada Allah. Menjadi bentuk kepedulian sosial, demi berbagi kebahagiaan dengan orang lain, terutama yang jarang makan daging. Ditegaskan, qurban yang diterima yang disertai hati ikhlas dan takwa, bukan banyaknya daging.
Qurban merupakan manifestasi bersyukur menjadi manusia. Ditegaskan, Allah memilih kita jadi manusia, diberi akal, harta dan kesempatan beribadah. Qurban adalah salah satu bentuk syukur. Melalui qurban, kita dapat bersyukur dengan harta, rela mengeluarkan sebagian rezeki untuk Allah.
Bersyukur dengan tenaga untuk membantu proses qurban dan pembagiannya. ”Juga bersyukur dengan hati, merasa cukup, tidak kikir dan yakin Allah akan mengganti,” tegas Ustadz Suroto.(Bambang Pur)













