blank
BNNP Jateng dan Kemensos salurkan bantuan atensi pada masyarakat PPKS. Foto: Dok/Humas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng memperkuat sinergi lintas instansi dalam upaya pemulihan sosial dan ekonomi bagi eks klien penyalahgunaan narkotika.

Bersama Kementerian Sosial RI melalui Sentra Terpadu Kartini Temanggung, serta Balai Pemasyarakatan Kelas I Semarang dan Dinas Sosial Kota Semarang, BNNP Jateng menyalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) bagi masyarakat Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), Kamis (5/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Rumah Layanan Autis Dinas Sosial Kota Semarang ini menjadi bagian dari penguatan layanan pascarehabilitasi, guna memastikan proses pemulihan klien narkoba tidak berhenti pada aspek kesehatan semata, tetapi juga mencakup penguatan kemandirian ekonomi.

Sebanyak 36 penerima manfaat dari klien rehabilitasi BNNP Jawa Tengah dan klien pemasyarakatan Bapas Semarang, menerima bantuan berupa paket pemenuhan hidup layak serta dukungan modal kewirausahaan.

Kepala BNNP Jawa Tengah, Toton Rasyid menegaskan pentingnya menghapus stigma terhadap eks klien penyalahgunaan narkoba.

“Bagi kami, klien yang pernah terlibat narkoba tidak boleh terus-menerus diberi stigma negatif, seolah hidupnya telah berakhir. Pemulihan mereka adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, M. Agus Junaidi, yang menilai bantuan tersebut sangat penting bagi masyarakat rentan. Menurutnya, di Kota Semarang terdapat sekitar 141 ribu jiwa yang masuk kategori desil 1 hingga desil 5, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

“Bantuan dari BNNP dan Kementerian Sosial ini sangat berarti, karena tidak semua kebutuhan masyarakat rentan dapat sepenuhnya dipenuhi melalui APBD,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bapas Kelas I Semarang, Totok Budiyanto menilai dukungan ekonomi merupakan faktor penting dalam mencegah kekambuhan atau relapse pada eks pengguna narkoba.

“Permasalahan narkoba sering kali berkaitan erat dengan persoalan ekonomi. Tanpa kemandirian ekonomi, risiko seseorang untuk kembali terjerumus sangat besar. Bantuan modal usaha ini menjadi langkah konkret agar mereka dapat kembali hidup mandiri di tengah masyarakat,” ujarnya.