blank
Kepala BNNP Jateng, Tonton Rasyid saat kunjungan di RSJD dr. Amino Gondohutomo Kota Semarang. Foto: Dok/Humas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN), tercatat sebanyak 195.081 orang di Jawa Tengah terpapar dan memerlukan layanan rehabilitasi.

Namun, kapasitas layanan rehabilitasi yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum sebanding dengan jumlah kebutuhan penanganan. Kondisi tersebut menjadi latar belakang audiensi dan koordinasi strategis yang dilakukan Kepala BNNP Jawa Tengah dengan jajaran manajemen RSJD dr. Amino Gondohutomo di Kota Semarang.

Pertemuan tersebut untuk memperkuat kolaborasi dalam peningkatan kapasitas dan kualitas layanan rehabilitasi narkotika di Jawa Tengah.

“Data prevalensi menunjukkan adanya peningkatan penyalahgunaan narkoba. Di Jawa Tengah, jumlahnya mencapai 195.081 orang. Sementara kemampuan layanan rehabilitasi, baik rawat jalan maupun rawat inap, saat ini baru mampu menangani sekitar 600 orang per tahun. Ini tentu menjadi tantangan besar yang harus kita jawab bersama,” kata Kepala BNNP Jateng, Tonton Rasyid, baru-baru ini.

Ia juga menyoroti bahwa pola peredaran gelap narkoba kini semakin terbuka dan masif, dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial sebagai sarana promosi, komunikasi, hingga transaksi.

“Peredaran narkoba tidak lagi terbatas pada jaringan konvensional, melainkan telah masuk ke ruang-ruang privat masyarakat melalui gawai dan internet, sehingga akses terhadap narkoba menjadi semakin mudah dan cepat. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena berdampak langsung pada kalangan generasi muda yang merupakan pengguna aktif media sosial. Remaja dan pelajar menjadi kelompok rentan, baik sebagai sasaran pasar maupun pihak yang dimanfaatkan sebagai perantara dengan iming-iming keuntungan instan,” ungkapnya.

BNNP Jawa Tengah berharap RSJD dr. Amino Gondohutomo dapat meningkatkan jumlah tempat tidur (bed) rehabilitasi rawat inap, sehingga mampu menjadi salah satu rujukan utama dalam layanan rehabilitasi narkotika.

“Dengan keterbatasan kapasitas yang ada saat ini, penguatan kolaborasi menjadi kunci. Kami berharap ke depan tersedia ruang rehabilitasi yang lebih memadai untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Direktur Utama RSJD dr. Amino Gondohutomo, Alex Yusran menyambut baik kunjungan tersebut dan menegaskan komitmen rumah sakit dalam mendukung upaya rehabilitasi narkotika.

“Kami berharap kerja sama ini semakin serasi dan berkelanjutan. Salah satu program unggulan kami saat ini adalah penanganan NAPZA. Kami siap memberikan pelayanan yang lebih baik dan komprehensif,” ungkapnya.