blank
Ustadz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., ME dalam Ngaji Posonan 1447 H yang digelar di RSI Sultan Hadlirin Jepara, Selasa (3/3/2026).. Foto: Manan

JEPARA (SUARABARU.ID)– Fenomena tingginya kasus gangguan kesehatan jiwa di Jawa Tengah menjadi refleksi serius dalam Ngaji Posonan 1447 H yang digelar di RSI Sultan Hadlirin Jepara, Selasa (3/3/2026). Dalam kajian tersebut, Ustadz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., ME mengangkat tema tajam: “Rumah Sakit: Ladang Amal atau Fatamorgana?”

Kegiatan yang diikuti tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit itu menjadi momentum refleksi spiritual di bulan Ramadan, terutama terkait makna kerja dan orientasi hidup.

Tertinggi di Indonesia

Dalam pemaparannya, Ahmad Fajar menyinggung data klaim layanan kesehatan jiwa BPJS Kesehatan periode 2020–2024 di Jawa Tengah yang mencapai 3,48 juta kasus—tertinggi secara nasional. Angka tersebut menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental bukan isu pinggiran.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat depresi dan gangguan kecemasan menyebabkan kerugian ekonomi hingga 1 triliun dolar AS per tahun. Artinya, persoalan jiwa berdampak luas, bukan hanya pada individu, tetapi juga produktivitas dan stabilitas ekonomi.

blank
Ngaji Posonan 1447 H yang digelar di RSI Sultan Hadlirin Jepara, Selasa (3/3/2026) menghadirkan pembicara Ustadz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., ME mengangkat tema tajam: “Rumah Sakit: Ladang Amal atau Fatamorgana?”. Foto. Manan

“Profesi apa pun memiliki stresor. Rumah sakit adalah ruang pengabdian, tetapi juga ruang ujian,” ujar Ahmad Fajar dalam kajian tersebut.

Ia mengingatkan, kesibukan kerja tidak selalu identik dengan nilai ibadah. “Bisa saja seseorang terlihat sibuk setiap hari, tetapi kosong makna. Itulah yang saya sebut sebagai fatamorgana produktivitas,” tegasnya.

Fatamorgana dalam Perspektif Al-Qur’an

Ahmad Fajar mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 200 tentang manusia yang hanya berorientasi pada kebaikan dunia tanpa memikirkan akhirat. Ia juga menyinggung perumpamaan amal tanpa iman yang diibaratkan seperti fatamorgana—tampak ada, namun hampa.

“Pertanyaannya, aktivitas kita di rumah sakit ini menjadi ladang amal atau justru fatamorgana?” katanya kepada peserta.

Menurutnya, orientasi kerja yang hanya berhenti pada capaian materi atau rutinitas administratif berpotensi kehilangan nilai ukhrawi jika tidak dilandasi niat yang benar.

Tiga Pilar Agar Kerja Bernilai Ibadah

Dalam kajian tersebut, Ahmad Fajar merumuskan tiga pilar agar profesi di rumah sakit bernilai ibadah.

  1. Niat

Ia mengutip hadis riwayat Shahih Bukhari tentang pentingnya niat dalam setiap amal.

“Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Kalau bekerja diniatkan ibadah dan pelayanan kemanusiaan, maka rutinitas berubah menjadi pahala,” jelasnya.

  1. Ikhsan

Pilar kedua adalah ikhsan, yakni bekerja dengan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi.

“Ketelitian dalam tindakan medis, kesungguhan administrasi, dan kejujuran pelayanan itu bagian dari ikhsan. Ramadan adalah momentum terbaik untuk menguatkan itu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengawasan Allah tidak terbatas ruang dan waktu, sehingga profesionalisme dan spiritualitas harus berjalan beriringan.

  1. Empati

Pilar ketiga adalah empati. Menurutnya, puasa melatih kepekaan sosial dengan merasakan lapar agar peduli pada yang lapar.

“Obat bisa dibeli, tetapi empati tidak dijual,” tegas Ahmad Fajar.

Ia menilai pelayanan kesehatan tidak hanya menyembuhkan fisik, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin bagi pasien. Empati menjadi ruh pelayanan sejati di rumah sakit.

Bersyukur Tanpa Sombong

Di akhir kajian, Ahmad Fajar mengingatkan pentingnya syukur yang proporsional. Bersyukur, katanya, bukan berarti membusungkan dada, melainkan menyadari bahwa profesi dan kemampuan adalah amanah dari Allah.

“Kita tidak pernah sendirian. Dalam setiap interaksi dengan pasien dan rekan kerja, Allah selalu hadir,” ungkapnya.

Melalui momentum Ramadan, ia mengajak seluruh tenaga kesehatan menjadikan rumah sakit sebagai ladang amal yang bernilai abadi, bukan sekadar tempat bekerja yang berujung pada fatamorgana akhirat.

Hadepe – Manan