blank
Sajian tari dan lagu di lapangan Lumbini, Borobudur, Selasa (30/12/25) malam. Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –
Pagelaran tari kolosal: Sabang Merauke Hanya Indonesia yang Punya, di Lapangan Lumbini Taman Wisata Candi Borobudur berlangsung mempesona, Selasa (30/12/25) malam. Kolaborasi InJourney Destination Management (IDM) dan iForte itu dalam rangka pergantian tahun 2025-2026.

Koreografi megah dengan sorotan lampu warna warni yang mengusung pesan budaya dari Sabang sampai Merauke itu
diawali dengan doa lintas agama yang dipimpin lima pemuka agama. Mendoakan warga Aceh dan Sumatra yang terkena musibah, yang kehilangan anggota keluarga dan hartanya. Setelah itu disusul lantunan lagu: Ibu Pertiwi dan pengumuman adanya penggalangan dana bagi korban bencana alam.

Pagelaran tari dan lagu dimulai sekitar pukul 20.30 dengan ciri khas keserempakan gerakan. Formasi yang dinamis, menyuguhkan tontonan spektakuler.

Tarian indah pun mulai disuguhkan, disusul dengan lantunan lagu Butet. Tak lama berselang tampil tokoh Malin Kundang. Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat.

Pada pagelaran itu selanjutnya mengisahkan penggunaan kapal Samudra Raksa yang membawa warga ke tanah Jawa. Perlu diketahui, di Candi Borobudur ada relief Kapal Samudra Raksa.

blank
Sajian akhir tahun di Borobudur, Selasa (30/12/25) malam. Foto: eko

Tarian dengan musik Sunda pun berkumandang, disambung dengan tarian dan lagu Manuk Dadali. Dalam sajian malam itu dilanjutkan dengan tari Banyuwangi dan
Reog Ponorogo. Selanjutnya ada lantunan merdu, lagu: Yen ing Tawang Ono Lintang yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Waldjinah.

Sajian seni elok malam itu ditutup dengan tari kolosal yang selesai sekitar pukul 21.50. Tepuk tangan meriah terdengar dari ratusan penonton yang menempati dua tenda mewah.

Tiga Bulan

Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM), Gistang Panutur, ketika ditemui usai pertunjukan mengatakan, persiapan untuk menyajikan pagelaran tersebut sekitar tiga bulan. Dia bangga karena bisa menyajikan sebuah mahakarya yang memang bisa dinikmati. Menurut dia pagelaran itu relevan dengan Candi Borobudur, yang tidak hanya untuk spiritual tapi juga budaya.

“Persiapannya kurang dari tiga bulan. Kami menargetkan sekitar seribu penonton, hari ini mungkin ada sekitar 90 persennya,” tuturnya.

Salah satu penonton, Ripno (59), warga Sendangmulyo, Semarang, mengaku menyempatkan diri untuk menikmati sajian seni di Borobudur itu. Dia datang bersama anggota keluarganya. “Saya sengaja datang untuk melihat even ini,” tuturnya.

Eko Priyono