blank
Ilustrasi foto AI

KUDUS (SUARABARU.ID) – Keterlambatan respons layanan darurat ambulans 112 di Kabupaten Kudus diduga berakibat fatal. Seorang warga bernama Jayadi alias Jayeng (±50), warga RT 04 RW 03 Desa Pedawang, Kecamatan Bae, meninggal dunia setelah sempat tak sadarkan diri dan terlambat mendapat penanganan medis, Ahad (28/12/2025) sore.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.35 WIB di sekitar Masjid At Taqwa, Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, tepatnya di selatan traffic light Perempatan Johar. Saat itu, korban dilaporkan mendadak tidak sadarkan diri sehingga warga sekitar segera menghubungi layanan darurat 112 untuk meminta ambulans.

Namun, menurut keterangan saksi mata M Haris, warga Wergu Wetan, panggilan ke 112 tidak langsung direspons dengan pengiriman ambulans. Warga justru diarahkan untuk menghubungi PSC 119, dengan alasan korban sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.

“Warga sudah menelpon 112 minta ambulans secepatnya. Tapi dari 112 dilempar ke PSC 119. Saat itu justru ditanya data pasien seperti nama dan alamat, padahal warga sekitar tidak mengetahui identitas korban,” ujar Haris.

Akibat proses tersebut, ambulans dari PSC 119 tidak kunjung tiba. Di tengah kondisi darurat, warga kemudian membagikan informasi dan foto korban melalui grup WhatsApp komunitas. Respons cepat datang dari anggota grup yang kemudian menghubungi RS Aisyiyah Kudus karena jaraknya lebih dekat dari lokasi kejadian.

Sekitar pukul 15.54 WIB, ambulans RS Aisyiyah Kudus akhirnya tiba di lokasi dan segera mengevakuasi korban ke rumah sakit. Namun, setibanya di RS Aisyiyah Kudus sekitar pukul 16.00 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya.

Haris menambahkan, berdasarkan cerita teman korban yang berada di lokasi, sebelum kejadian Jayadi sempat berada di kawasan pabrik atau GOR JARUM Tanjung. Korban meminta diantar pulang karena merasa tidak enak badan, namun di tengah perjalanan kondisinya semakin melemah hingga akhirnya tidak sanggup melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor.

“Sesampainya di Wergu Wetan, korban bilang sudah tidak kuat. Karena tidak bisa lagi dibonceng, akhirnya warga berinisiatif menelpon ambulans,” jelasnya.

Warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut menyayangkan lambannya respons layanan darurat, khususnya dari jalur 112. Mereka menilai, apabila ambulans dapat tiba lebih cepat, peluang korban untuk mendapatkan pertolongan medis masih terbuka.

“Kalau responsnya cepat, kemungkinan masih bisa tertolong. Ini yang sangat disesalkan warga di lokasi,” pungkas Haris.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Kudus terkait evaluasi respons layanan ambulans 112 atas kejadian tersebut.

Ali Bustomi