blank
Kis Gantoro, warga RW II Wonodri Semarang, mengolah sampah organik rumah tangga menjadi media tanam ramah lingkungan. Foto : Istimewa

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Peran serta warga masyarakat dalam pengelolaan pengolahan limbah rumah tangga selalu berdampak positif bagi lingkungan sekitar, termasuk di Kota Semarang.

Pun karenanya pemerintah setempat juga selalu mendorong warganya untuk berinovasi mengolah sampah yang ada setiap hari, baik dengan membuat lomba kreasi ataupun sosialisasi pengembangan dan pelatihan pengolahan sampah.

Salah satu inovasi pengelolaan dan pengolahan sampah seperti yang diciptakan oleh Kis Gantoro, warga RT 05 RW II Wonodri, Semarang Selatan ini yang berhasil menciptakan inovasi produk pengolahan sampah organik.

“Saya mencoba mengolah sampah organik rumah tangga dengan teknologi sederhana yang harapannya bisa dimanfaatkan oleh warga,” ujarnya, Senin 7 Juli 2025.

Dengan memanfaatkan galon bekas air mineral, ragi dan tanah, sampah organik yang diolahnya diubah menjadi media tanam siap pakai.

Jika biasanya pengolahan sampah organik diubah menjadi kompos, namun di tangan lelaki lulusan Teknologi Pertanian UGM ini, diubah langsung menjadi media tanam.

“Jadi nanti tidak perlu pupuk lagi, cukup sampah organik atau sisa daun. Dan waktunya cukup pendek, sekitar 3 minggu sudah bisa dipanen,” imbuh Kis Gantoro yang juga merupakan Sekretaris RW II Wonodri ini.

Soal teknik pembuatan, tidak perlu risau karena memang didesain sangat sederhana dan simpel dipraktikkan oleh warga.

Awalnya, cukup siapkan bekas galon air mineral yang dipotong ujungnya namun dengan tetap menyisakan ujung sebagai tutup nantinya.

Setelah itu, masukkan sampah organik seperti sisa sayuran hasil olahan rumah tangga dan juga tulang-tulang kecil sisa ikan atau ayam, bisa juga sampah daun.

“Jangan tulang yang besar seperti tulang sapi atau kambing ya, karena akan lama proses penguraiannya,” tambahnya.

Kemudian, masukkan ragi khusus untuk sampah (Trichoderma dan Aspergillus niger) lalu tumpuk tanah di atasnya.

“Tidak perlu diaduk, biarkan saja selama tanahnya sudah menutup semua sampah di bawahnya,” imbuh Pak Kis, panggilan karibnya.

Menariknya, teknologi yang diciptakan Kis Gantoro ini tidak berbau, tidak berair dan tidak memunculkan maggot sehingga tidak akan dikerubuti lalat.

Atas upayanya mengkreasikan teknologi pengolahan sampah ini, Kis Gantoro diganjar dengan penghargaan Juara 2 Kreanova tahun 2023 yang digelar Pemkot Semarang dan Brida (Badan Riset dan Inovasi Daerah).

“Di tahun 2019 saya juga pernah meraih juara 2 Kreanova atas inovasi kreasi membuat vertical garden,” ujarnya bangga.

Sayang, lomba hanya sekedar lomba karena Pemkot Semarang tidak berupaya lebih jauh mengembangkan inovasi warganya.

Tidak adanya pelatihan lanjutan bagi warga, kurangnya pemasaran serta sosialisasi dari kreasi warga, menjadikan temuan Kis Gantoro mandeg.

Padahal Wali Kota Agustina Wilujeng saat ini sangat serius dengan isu lingkungan yang salah satu programnya adalah pilah sampah di tingkat rumah tangga.

Hery Priyono