blank
Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto menjelaskan program MBG menghasilkan perputaran uang Rp1,2 Triliun. Foto: dok Tya Widya/AB/

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyoroti potensi besar program MBG yang mampu mendorong perputaran uang Rp1,2 Triliun di Kabupaten Grobogan.

Edy Wuryanto menilai peluang ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis tersebut harus dimanfaatkan secara optimal oleh daerah.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyebut program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka ruang perputaran uang Rp1,2 Triliun yang dapat menggerakkan sektor ekonomi lokal secara signifikan.

BACA JUGA : Ketua DPRD Kota Tegal Kusnendro Ikuti Retreat di AKMIL Magelang

Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan Halal Bihalal Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) yang digelar di Balai Latihan Kerja (BLK) Grobogan, Selasa (14/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Edy menekankan pentingnya kesiapan daerah dalam menyambut program tersebut agar manfaatnya tidak hanya bersifat jangka pendek.

Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah harus berperan aktif dalam mengelola potensi ekonomi yang muncul dari program MBG.

Menurutnya, rantai pasok atau supply chain menjadi faktor kunci yang harus segera dibenahi untuk mendukung keberhasilan program tersebut.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk melakukan langkah konkret dalam memperkuat sistem distribusi bahan pangan lokal.

“Jangan sampai uang Rp 1,2 triliun itu justru mengalir ke luar daerah. Misal telur dari Jawa Timur, ikan dari Pati dan Rembang, sayuran dari Wonosobo, Temanggung, hingga Ambarawa. Jangan sampai,” imbuhnya.

Edy menilai, tanpa penguatan rantai pasok lokal, potensi ekonomi yang besar justru akan dinikmati oleh daerah lain.

Ia juga meminta agar pemerintah daerah segera memetakan kebutuhan serta kemampuan produksi lokal yang ada di Grobogan.

BACA JUGA : Eks Dirut Bank Jateng Tegaskan Validasi Supplier Tanggung Jawab Sritex sebagai Anchor

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan bahan pangan dapat dipenuhi dari dalam daerah sendiri.

Selain itu, ia juga mendorong peningkatan kapasitas produksi dari berbagai sektor, mulai dari UMKM hingga petani dan peternak.

Menurutnya, pelaku usaha lokal harus mendapatkan dukungan agar mampu memenuhi permintaan yang meningkat.

Ia menyebut sektor pertanian dan peternakan menjadi tulang punggung dalam mendukung keberhasilan program MBG.

Petani sayur, petani pisang, hingga peternak telur dan daging diharapkan dapat mengambil peran lebih besar.

Edy menilai, jika produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan, maka dampak ekonomi akan lebih terasa bagi masyarakat Grobogan.

Sebaliknya, jika daerah hanya menjadi pasar, maka peluang tersebut akan hilang begitu saja.
Politisi PDIP itu mengingatkan bahwa ketergantungan pada pasokan dari luar daerah berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Salah satu risiko yang dihadapi adalah ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang di pasar.

BACA JUGA : Kartini’s Inspiration Parade, Kenang Peran Besar Kartini dalam Mengembangkan  Seni Kriya

Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memicu kenaikan harga berbagai komoditas pangan.
Ia mencontohkan komoditas seperti daging sapi, ayam, telur, susu, hingga ikan yang berpotensi mengalami lonjakan harga.

“Kita tahu daging sapi, daging ayam, telur, susu, di Grobogan mungkin buah, ikan, itu dengan naiknya kebutuhan tidak diikuti dengan supply, pasti ujung-ujungnya adalah inflasi, harga naik, ini yang kita khawatirkan,” bebernya.

Edy menegaskan bahwa inflasi daerah harus diantisipasi sejak dini melalui penguatan produksi lokal.

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat terjalin dengan baik.

Dengan langkah tersebut, program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, kembali menegaskan bahwa keberhasilan MBG harus mampu menjaga perputaran uang Rp1,2 Triliun tetap berada di Grobogan agar manfaatnya dirasakan secara luas.

Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mengingatkan bahwa pengelolaan program MBG yang tepat akan memastikan perputaran uang Rp1,2 Triliun benar-benar menjadi penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar peluang yang terlewatkan.

TYA WIDYA