WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ritual jalan salib memperingati Jumat Agung Paskah 2026, digelar di dua lokasi. Yakni di Gunung Gandul sisi barat Kota Wonogiri dan di Tempat Pemakaman Khusus (TPK) Sonopraloyo Bantarangin, berada di sisi timur Kota Wonogiri.
Berlangsung Jumat (3/4/26), ritual jalan salib di Gunung Gandul, dilaksanakan oleh Muda-Mudi Katolik (Mudika) dari Gereja Santo (ST) Yohanes Rasul Wonogiri. Dibuka secara resmi oleh Uskup Monsinyur Robertus Rubiyatmoko. Kemudian yang di TPK Sonopraloyo Bantarangin, dilakukan oleh kaum muda Kristiani dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Induk Sanggrahan, Kota Wonogiri, dipimpin Pendeta Ambar Sulistyono.
Drama liturgi jalan salib, melibatkan pemeran tokoh sentral Yesus, berikut para pemeran pendukung Petrus, Yudas, Yohanes, Yusuf dan Nikodemus. Menampilkan pula bala prajurit dan algojo. Juga yang memerankan Imam Agung, Imam Kepala, massa rakyat, orang Farisi, Barabas, Pilatus, Kepala Prajurit, Maria dan Wanita Yerusalem, Veronika, Simon dan Kirene.
Jalan salib di Sonopraloyo dipimpin oleh Pendeta Ambar Suilistyo, mengambil tema ”Salib, Jalan Kepastian Kasih Allah.” Pemeran tokoh utama Yesus, dipercayakan kepada Nurdono. Ratusan jemaat, mengawali kegiatan tersebut dengan start keberangkatan dari GKJ Induk di Sanggrahan, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Mereka berjalan kaki menuju ke makam Sonopraloyo, menempuh jarak sekitar 2,5 Kilometer (KM). Fragmen prosesi jalan salib, dimulai dari depan rumah Supriyanto yang berdekatan dengan lokasi makam Sonopraloyo, menuju ke lokasi tiang kayu palang salib yang berada di dalam kompleks makam.
Teatrikal
Drama liturgi di alam terbuka ini, dilakukan sebagai penggambaran jalan sengsara Yesus dalam 13 stasi, melalui serangkaian gerak teatrikal drama liturgi dari tahap ke tahap selanjutnya. Berlangsung dalam cuaca yang cerah. Matahari bersinar penuh, tanpa terhalang oleh mendung di langit.
Dinarasikan dalam serangkaian tindak teatrikal, tubuh Yesus semakin lemah tidak mampu menahan beban salib yang berat, karena sepanjang perjalanan menuju Bukit Golgota selalu dianiaya memakai alat pemukul, cambuk, pedang dan tombak. Sampai pada aklhirnya, untuk ketiga kalinya Yesus terjatuh. Tetapi Yesus tetap berusaha bangun. Tekadnya untuk menyelesaikan perjalanan begitu teguh dan gigih, walaupun dengan sisa-sisa tenaga berbalut luka aniaya dan himpitan derita.
Dalam kondisi penuh luka dan derita, serta di kepala dikenakan mahkota duri, dia tetap memanggul kayu salib, serta menerima siksaan dan cemooh caci maki dari para prajurit dan orang Farasi, akhirnya tibalah di puncak Bukit Golgota. Dimana para prajurit mempersiapkan tempat penyaliban, dan menyeretnya dengan paksa. Dengan tindakan kasar, mereka kemudian melucuti jubahnya yang berlumurah darah.
Kedua tangannya yang dibentang ke arah kiri dan kanan, dipakukan ke ujung-ujung horisontal kayu salib. Demikian halnya dengan kedua kakinya disatukan, juga dipakukan pada kayu tegak palang salib. Sejenak Yesus menengadah ke langit, dan berteriak dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani ?”. Adegan ini, menjadi bagian antiklimaks dari ritual jalan salib yang dikemas dalam serangkaian jalan sengsara Yesus.
Fragmen penyaliban Yesus di kayu salib ini, disajikan lengkap dengan serangkaian adegan tahap demi tahap jalan sengsara sang penebus dosa. Dikemas dalam warna duka mendalam yang mengundang rasa trenyuh (iba) bagi para jemaat.(Bambang Pur)













