BLORA (SUARABARU.ID) — Pemerintah Kabupaten Blora menggelar ‘Pra-Musrenbang Tematik Stunting’ dalam rangka penyusunan rencana kegiatan dan percepatan penurunan stunting tahun 2026, di aula lantai 2 Bapperida Kabupaten Blora, Kamis 5 Maret 2026.
Kegiatan Pra-Musrenbang Tematik Stunting tersebut dihadiri Wakil Bupati Blora, unsur Forkopimda Blora, Ketua TP PKK Kabupaten Blora, para kepala perangkat daerah, para camat se-Blora, dan sejumlah tamu undangan.
Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, menegaskan bahwa percepatan pencegahan dan penurunan stunting merupakan salah satu program prioritas nasional yang dicanangkan oleh Presiden, karena itu, upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga menjadi komitmen bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan.
“Program ini harus kita kawal secara serius, kita kerjakan secara gotong royong, dan kita pastikan berjalan efektif serta tepat sasaran. Kunci keberhasilannya terletak pada sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah serta konvergensi lintas sektor hingga tingkat desa,” ujar Wakil Bupati Blora.
Lebih lanjut, Wakil Bupati Blora menyampaikan bahwa tanpa kolaborasi yang solid dari seluruh pihak, target penurunan stunting yang telah ditetapkan akan sulit dicapai.
Dikemukakan, berdasarkan analisis situasi percepatan pencegahan dan penurunan stunting Kabupaten Blora tahun 2026 yang telah diinput dalam Web Konvergensi Bangda Kementerian Dalam Negeri, Kabupaten Blora dengan jumlah penduduk 960.117 jiwa mencatat prevalensi balita stunting sebesar 21,7 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.
“Angka 21,7 persen tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 21,2 persen, sementara pada tahun 2025 tidak dilaksanakan survei,” ucap Wakil Bupati Blora.
Disampaikan, berdasarkan hasil pengukuran rutin di posyandu pada Agustus 2025, tercatat sebanyak 2.776 balita mengalami stunting atau sekitar 6,15 persen dari total 45.113 balita yang diukur.
“Target prevalensi stunting Kabupaten Blora dalam Renstra tahun 2025 ditetapkan sebesar 20,81 persen. Hal ini menunjukkan perlunya upaya yang lebih intensif agar target tersebut dapat dicapai secara optimal dan berkelanjutan,” ungkap Wakil Bupati Blora.
Dari 16 kecamatan di Kabupaten Blora, lanjut Wakil Bupati Blora, terdapat lima kecamatan dengan prevalensi stunting di atas rata-rata kabupaten, yaitu Kecamatan Kunduran (11,65 persen), Tunjungan (10,90 persen), Jepon (7,14 persen), Cepu (6,52 persen), dan Sambong (6,48 persen).
“Jumlah balita stunting terbanyak tercatat di Kecamatan Kunduran sebanyak 340 balita, sedangkan jumlah paling sedikit berada di Kecamatan Bogorejo sebanyak 65 balita. Sementara itu, Kecamatan Kedungtuban menjadi wilayah dengan prevalensi stunting terendah, yakni sebesar 4,22 persen,” jelas Wakil Bupati Blora.
Masih kata, Wakil Bupati Blora bahwa untuk mendukung percepatan penurunan stunting tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Blora mengalokasikan anggaran sebesar Rp 56,79 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 53.334.626.000 dialokasikan untuk layanan utama, sedangkan Rp2.856.067.000 digunakan untuk kegiatan pendukung.
“Dalam perencanaan tersebut, teridentifikasi sebanyak 96 usulan kegiatan yang telah diinput dalam Web Konvergensi Bangda. Usulan tersebut berasal dari berbagai perangkat daerah serta sejumlah kecamatan, antara lain Kecamatan Jati, Blora, Banjarejo, Tunjungan, Japah, Kunduran, dan Todanan,” tandas Wakil Bupati Blora.
Kudnadi Saputro













