Oleh: Hisyam Maliki
JEPARA (SUARABARU.ID)- Kegiatan Pekan Budaya Desa Kriyan ini telah dinanti banyak orang, terutama warga sekitar di malam Nisfu Sya’ban. Bagi masyarakat, ajang tahunan sebelum Ramadhan ini menjadi sarana hiburan yang menunjukkan local wisdom. Seperti adanya lagu “Tong-Tong Jik” yang menjadi trigger penyemangat sepanjang acara Baratan.

Tradisi Baratan di Kecamatan Kalinyamatan-Jepara ini lekat kaitannya dengan kisah suksesi kerajaan Demak. Dari peristiwa itu, masyarakat Jawa mengalami banyak perubahan, semisal dalam cara pemasangan keris. Mulanya, keris diselisipkan di sisi kiri perut, kini keris diselisipkan di bagian punggung sebelah kanan. Sebagai bahan pemanis, ronce melati menambahkan kesan estetis dan peringatan untuk selalu mawas diri.
Selain itu, Nisyfu Syaban ini juga erat bahasannya dengan malam mustajab yang memiliki keutamaan. Tak heran, kaum muslimin melakukan banyak amalan sebagai langkah taktis guna meraih Ridlo Ilahi, termasuk membaca Yasin, berbagi Puli hingga membuat lampion.
Ketika “Tong-Tong Jik” diserukan, lagu ini tidak hanya melahirkan nuansa bahagia, tapi juga memberi pelajaran. Nyanyian ini hanya didendangkan pada saat perayaan Baratan berlangsung. Sebagai pemecah kesunyian, anak-anak kecil berbondong-bondong membentuk kelompok besar untuk mengelilingi kampung. Mereka menenteng lampion, menyanyikan lagu “Tong-Tong Jik” dan sesekali berjoget kecil.
Senasib dengan lagu dolanan lama, “Tong-Tong Jik” tidak diketahui siapa penggubahnya. Meskipun demikian, lagu ini mengajarkan nilai pendidikan, khitbah agama, dan tanggungjawab atas kehidupan.
Secara singkat, lagu ini tergolong energik dan menyenangkan dan secara sederhana, lagu ini terdiri dari problem dan solving. Tong-Tong Jik versi Jeder terdiri dari enam baris dimana 6-7 suku kata setiap barisnya. Pola yang muncul pun hampir sama dengan lagu dolanan lain yang iramanya terbatas pada dua larik dan berubah pada larik selanjutnya, yakni AA BB CC DD. Secara spesifik pola ini jarang ditemukan dalam pantun karena lagu dolanan Jawa lebih mengutamakan keluwesan bahasa dan fungsi sosial sebagai pengiring permainan.
Lirik lagu Tong-Tong Jik :
- Tong-tong jik, tong-tong jeder, (A/adopsi suara alat musik) 7 suku kata
- Pak Yai nabuh Eder (A/Bapak Kiai menabuh Bedug/Eder) 7 suku kata
- Edere gowang tengah, (B/Bedug berlubang di tengah) 7 suku kata
- Pak Yai adol omah (II) (C/Pak Kiai jual rumah) 7 suku kata
- Omahe ambruk, Breg!, (D/Rumah Pak Kiai ambruk, Breg!) 6 suku kata
- Saidah dadi ngadek (III) (D/Bahagia selamanya) 7 suku kata
Lirik (i) diawali dengan bunyi alat musik sebagai pembuka rima menuju konflik. Besar kemungkinan, suara alat musik ini diadopsi dari perayaan warga Tionghoa, yakni tabuhan Tambur (Gendang besar) dan gesekan Simbal (Ceng-ceng). Berdasarkan letak administratif, desa Kriyan berada di Kecamatan Kalinyamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Welahan.
Kecamatan ini memiliki kelenteng tua bernama Hian Thian Siang Tee yang berdiri sejak 1600-an masehi. Kelenteng ini rutin menggelar Festival Qingming atau Perayaan Cheng Beng (warga sekitar menyebutnya : Cek Mbeng) sebagai ritus ziarah untuk menghormati leluhur.
Mengarah pada konflik, lirik (ii) mengenalkan tokoh Kiai. Kiai merupakan simbol keagamaan yang merujuk pada figur pemuka agama Islam. Dia adalah suri tauladan sebagai pendidik di pesantren maupun di masyarakat. Tampak, sosok Kiai memiliki peran sentral untuk mengasuh masyarakat dengan fungsi tutur (menasehati dalam lisan dan tindakan), wuwur (bekal materi), dan sembur (mendoakan).
Dalam lagu ini, Kiai selalu mengingatkan masyarakat khususnya dalam aktifitas keagamaan menggunakan Eder/Bedug untuk menunjukkan waktu sholat dan ritus lain. Pada masa itu, alat tradisional dari kayu dan kulit kerbau ini merupakan sarana ampuh untuk mengumpulkan masyarakat.
Sayangnya, aktifitas tersebut terkendala pada lirik (iii). Bedug yang biasa ditabuh mengalami kerusakan (berlubang) di bagian tengah. Hal ini membuat Kiai harus membenahinya guna melanggengkan syiar dan mengembalikan ritme dakwah. Sebagai solusi, lirik (iv) mengisahkan Kiai menjual rumah untuk mengembalikan kondisi bedug.
Rumah di konteks ini merupakan simbol kehilangan tertinggi bagi seseorang. Akan tetapi, Kiai memberi tauladan bahwa kehilangan kemewahan tidak menjadi berarti daripada kepentingan masyarakat. Endingnya, lirik (vi) menggambarkan tujuan Kiai supaya mencapai Sa’idah. Sa’idah berasal dari bahasa Arab yang bisa dimaknai kebahagiaan atau keberuntungan yang merujuk pada keberlanjutan tegaknya dakwah Islam.
Disamping keceriaan lagu dolanan, nyatanya lagu Tong-Tong Jik bukan sekedar wujud kesenian dalam acara Baratan. Apabila orang tua memahami arti dan tujuan dari tembang ini, orang tua dapat membantu anak mereka untuk belajar budi pekerti yang baik. Lebih jauh, Tong-Tong Jik merupakan kesatuan nasehat dalam management conflict dan kompleksitas yang bersifat positif. Terlepas dari diksi dan kesesuaian rima, lagu ini mengidentifikasikan kekhasan tradisi Baratan dengan area lain. Dalam hal ini, Tong-Tong Jik mampu diadopsi dan bersinergi dengan khazanah Islam.
Hisyam Maliki, Anggota Perkumpulan Aktivis Budaya dan Religi Kalinyamatan (Pabaratan)













