KUDUS (SUARABARU.ID)– Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya penanggulangan kebakaran, dinilai sangat penting bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kabupaten Kudus.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi D DPRD Kudus sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar, Kholid Mawardi, menyusul meningkatnya aktivitas dapur produksi makanan dalam skala besar di wilayah tersebut.
Hingga saat ini, di Kabupaten Kudus terdapat 68 unit SPPG, di mana 46 di antaranya telah aktif beroperasi, sedangkan sisanya masih dalam tahap persiapan. Dengan jumlah yang terus berkembang ini, Kholid menilai kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola risiko menjadi hal yang tak bisa ditawar.
Menurut Kholid, dapur SPPG memiliki potensi risiko yang cukup tinggi, terutama terkait penggunaan kompor gas, peralatan listrik, penyimpanan bahan bakar, serta aktivitas memasak dalam jumlah besar setiap hari. Kondisi ini, tanpa dibekali pelatihan K3 yang memadai, dapat meningkatkan potensi terjadinya insiden kebakaran atau kecelakaan kerja lain yang berdampak pada keselamatan pekerja maupun masyarakat luas.
“Pelatihan K3, terutama penanggulangan kebakaran, bukan sekadar formalitas. Ini kebutuhan mendesak bagi dapur SPPG agar para petugas memahami langkah pencegahan, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), serta prosedur evakuasi jika terjadi keadaan darurat,” ujar Kholid, Senin (29/12/2025).
Kholid mengingatkan bahwa potensi musibah kebakaran bukan sekadar ancaman teori. Peralatan dapur yang terus bekerja dalam jam operasional panjang, penggunaan kompor gas berskala besar, dan arus listrik tinggi merupakan kombinasi faktor yang dapat memicu percikan api atau hubungan arus pendek. Belum lagi faktor kelalaian manusia yang bisa memperburuk keadaan jika tidak segera ditangani dengan prosedur yang tepat.
“Insiden kebakaran tidak hanya berisiko menimbulkan korban jiwa atau luka, tetapi juga bisa menghentikan operasional dapur secara total, merusak fasilitas, dan berdampak langsung pada layanan pemenuhan gizi masyarakat. Itu sebabnya kita perlu memastikan setiap SPPG siap menghadapi kemungkinan terburuk dengan cepat dan tepat,” jelasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk secara rutin menggelar pelatihan K3 bagi pengelola dan pekerja dapur SPPG. Selain itu, Kholid juga menilai perlu adanya standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang jelas serta pengawasan berkala terhadap kelayakan peralatan.
“Dengan pelatihan yang rutin dan terukur, serta SOP yang diterapkan konsisten, risiko kecelakaan bisa ditekan. Ini bagian dari upaya perlindungan tenaga kerja sekaligus menjamin keberlanjutan layanan SPPG di Kabupaten Kudus,” tegasnya.
Ia berharap, seluruh dapur SPPG di Kudus ke depan tidak hanya fokus pada kualitas gizi makanan, tetapi juga menerapkan standar keselamatan kerja yang tinggi demi menciptakan lingkungan kerja yang aman dan profesional.
Ali Bustomi













