blank
Ivar Jenner (5), gagal meloloskan Timnas Indonesia U22 dari babak penyisihan grup. Foto: dok/instagram

blankOleh: Amir Machmud NS

// sepenting apa/ emas sepak bola SEA Games?/ nyatanya, betapa berliku dan harus menunggu/ untuk meraihnya/ bertahun-tahun/ berganti-ganti peracik taktik/ bahkan hingga tragedi tahun ini…//
(Sajak “Emas SEA Games”, 2025)

BAHKAN semifinal pun tak terjangkau. Bukankah ini tragedi?

Dan, kita harus merelakan Vietnam yang meraih juara, memenangi medali emas SEA Games 2025 dengan mengalahkan tuan rumah Thailand, 3-2.

Ya: sebagai juara bertahan, dengan optimisme bermaterikan pemain-pemain yang dipandang punya kualitas di atas rata-rata, semula Indonesia berkeyakinan bisa mempertahankan gelar. Bukankah ini adalah sebuah keniscayaan?

Nyatanya, inilah luka yang kemudian tersaji: Indonesia mengulang jejak muram tim nasional di SEA Games 2009, yang juga gagal lolos dari fase grup. Hasil ini, menurut Manajer Tim Sumardji, “Sungguh tak masuk akal”.

Dan, sampai hari ini belum terjelaskan: mengapa ada perbedaan sikap antara Kemenpora dan PSSI dalam mematok target untuk tim nasional kita di SEA Games Thailand?

Target medali perak yang disampaikan oleh pemerintah bagaimanapun menjadi hal yang aneh, karena bukankah Indonesia adalah juara bertahan?

Pemain pun sempat bingung, sampai Wakil Ketua Umum PSSI Zainuddin Amali menegaskan, pihaknya tetap menargetkan perolehan emas. Apalagi tim racikan pelatih Indra Sjafri membawa materi pemain pilihan yang “di atas rata-rata” para rival.

Beda target itulah yang kemudian terulas sebagai isyarat ada ketidakharmonisan antara Menpora Erick Thohir dengan Zainuddin Amali. Jadi, ada apa sebenarnya? Apakah friksi tersamar ini menjadi refleksi bagi performa Ivar Jenner dkk?

Evaluasi pun muncul dari sejumlah pihak. Pertama-tama, pelatih Indra Sjafri harus bertanggung jawab secara teknis. Dan, secara kesatria, hal itu sudah dia sampaikan.

Kalau dua tahun lalu pelatih asal Sumatera Barat ini sukses mempersembahkan medali emas, publik seperti sudah melupakan jejak cemerlangnya, termasuk ketika membawa timnas U19 dan tim U22 juara Piala AFF 2013 dan 2019.

Sejauh ini, evaluasi nonteknis dan total belum terungkapkan. Cepat atau lambat, kegagalan menyakitkan ini harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Apakah karena persiapan yang tidak semaksimal dua tahun lalu, atau karena apa?

Kekalahan 0-1 dari Filipina, lalu kemenangan 3-1 atas Myanmar yang tidak menolong untuk menjadi runner up terbaik karena kalah selisih gol dari Malaysia, adalah jejak yang tak pernah terperkirakan.

Capaian Rumit
Terlepas dari semua itu, cabang sepak bola Pesta Olahraga Antarbangsa Asia Tenggara itu memang menjadi capaian rumit. Pasukan Garuda hanya tiga kali membukukan medali emas, yakni 1987 di Jakarta, 1991 di Manila, dan 2023 di Kamboja. Artinya, baru tiga pelatih yang bisa mengantar tim juara, yakni Bertje Matulapelwa, Anatoly Polosin, dan Indra Sjafri.

Cabang itu, yang sejak 2001 diperuntukkan bagi para pemain usia di bawah 23 (boleh menyisipkan tiga pemain senior), menjadi tantangan sulit bagi sepak bola Indonesia. Kiprah di SEA Games melengkapi realitas, betapa Indonesia masih sulit menjadi raja di Asia Tenggara.

Di ajang Piala AFF yang menjadi barometer supremasi sepak bola di kawasan ini, Indonesia belum sekalipun meraih titel juara sejak event ini digelar pada 1996. Kita masih di bawah bayang-bayang kemaharajaan Thailand dan Vetnam.

Catatan terbaik kita, Garuda enam kali menjadi runner up pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020.

Kelengkapan Pesta
Di arena SEA Games, secara tidak tertulis sepak bola menjadi simbol kelengkapan. Prestasi suatu negara yang mengumpulkan medali emas terbanyak multievent ini terasa kurang komplet bila tidak menjadi juara cabang sepak bola.

Kondisi ini tergambar pada 1987 dan 1991 ketika gelar juara umum Indonesia dilengkapi dengan sukses meraih emas sepak bola.

Pada sisi lain, terasa sulit meraih medali emas dari cabang ini. Pada SEA Games 1979, 1997, dan 2011, misalnya, di kandang sendiri kita takluk dari Malaysia, Thailand, dan Malaysia.

Bandingkan dengan Thailand yang 16 kali meraih medali emas, Malaysia enam kali, dan Myanmar lima kali. Raihan kita sama dengan Vietnam, tiga kali.

Apa yang kemudian terjadi di SEA Games Thailand tahun ini menjadi bukti keterjalan jalan untuk menciptakan sejarah. Betapa sulit menjaga capaian yang dipersembahkan oleh pelatih Indra Sjafri, yang semula juga diproyeksikan menorehkan rekor sebagai pelatih yang dalam dua SEA Games berurutan memberi emas.

Bagi Indonesia, emas SEA Games bagaimanapun tetap menjadi bagian dari parameter pembinaan sepak bola nasional.

Pentingkah? Barang tentu sangat penting dan membawa prestise tersendiri. Apalagi dua tahun lalu kita mendapatkannya lewat perjuangan heroik anak-anak muda Indonesia, mengalahkan Thailand dalam perpanjangan waktu yang menegangkan di Kamboja.

Secara psikologis, prestasi di Thailand seharusnya menjadi momentum penting, sebagai pelipur lara setelah Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 lewat pergulatan di babak keempat kualifikasi.

Kini, nyatanya, lolos ke semifinal pun kita tak mampu…

Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id