blank

Oleh: Taufiq Nugroho N, M. Pd

Dunia pendidikan belakangan ini diramaikan oleh istilah baru yang viral di jagat maya: GEMAR atau Gerakan Ayah Mengambil Rapot. Fenomena ini muncul di tengah momentum pembagian laporan hasil belajar siswa. Bagi sebagian masyarakat, khususnya dalam kosmologi sosial di Jepara, GEMAR sering kali dilihat sebagai respons atas pergeseran peran gender, di mana banyak ibu bekerja di pabrik sementara ayah berada di rumah.

Namun, lebih dari sekadar kritik sosial atau penyesuaian jadwal keluarga, GEMAR menyimpan urgensi mendalam bagi perkembangan psikologis anak yang selama ini sering terabaikan akibat minimnya keterlibatan sosok ayah dalam ekosistem sekolah.

Selama ini, proses pengambilan rapot dan komunikasi dengan guru wali kelas didominasi oleh sosok ibu. Ketidakhadiran ayah secara konsisten dalam proses pendidikan menciptakan jurang komunikasi antara ayah, anak, dan sekolah. Padahal, keterlibatan ayah bukan sekadar urusan administratif formalitas.

Secara teoretis, merujuk pada Attachment Theory dari Bowlby (1969), kualitas hubungan orang tua-anak adalah fondasi utama pembentukan kondisi psikologis. Kehadiran ayah di sekolah memberikan pesan kuat kepada anak bahwa pendidikan mereka adalah prioritas bagi kedua orang tuanya, yang pada gilirannya menumbuhkan stabilitas emosional dan kepercayaan diri yang kokoh.

Dampak positif ini juga sejalan dengan Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 2000). Ketika seorang ayah terlibat aktif, motivasi intrinsik dan otonomi anak akan meningkat.

Masa remaja adalah fase yang krusial sekaligus singkat; pada tahap ini, anak cenderung lebih dekat dengan teman sebaya yang “satu frekuensi.” Jika momentum ini tidak dimanfaatkan melalui inisiatif seperti GEMAR, ayah akan kehilangan kesempatan emas untuk berbagi pemikiran tentang masa depan, cita-cita, serta passion anak.

Melalui dialog saat mengambil rapot, ayah dapat masuk ke dunia anak bukan sebagai otoritas yang kaku, melainkan sebagai mentor yang memahami mimpi-mimpi mereka.

Secara spesifik, penguatan psikologis melalui gerakan ini mencakup tiga aspek utama: Pertama, Peningkatan Kepercayaan Diri: Anak merasa dihargai secara utuh saat melihat ayahnya menaruh minat pada progres belajarnya.

Kedua, Reduksi Stres: Dukungan ayah memberikan rasa aman, sehingga kecemasan anak terhadap nilai akademik dapat berkurang karena mereka merasa dipahami, bukan sekadar dihakimi.

Ketiga, Penyediaan Role Model: Kehadiran ayah yang nyata mencegah anak mencari figur idola semu di media sosial. Bagi anak perempuan, kehangatan emosional dari ayah adalah perisai agar tidak mudah terjebak rayuan kompensasi kasih sayang dari lingkungan yang salah.

Kedekatan psikologis ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah literasi dan karakter di sekolah. Fenomena siswa yang kesulitan membaca atau kehilangan arah moral sering kali berakar dari hilangnya “sosok” di rumah. Ayah adalah kompas. Ketika kompas itu hadir di sekolah, anak akan merasa memiliki pelindung sekaligus teladan dalam menempuh jalur akademik yang menantang.

Namun, muncul pertanyaan reflektif: bagaimana dengan anak-anak dari keluarga yang mengalami perceraian? Di sinilah kedewasaan emosional diuji. Harus disadari bahwa dalam kamus kehidupan, tidak ada istilah “mantan ayah”. Seorang lelaki mungkin gagal dalam peran sebagai suami, namun ia tidak boleh gagal sebagai ayah. Tanggung jawab mendampingi tumbuh kembang anak adalah amanah abadi yang melampaui status pernikahan.

Sebagai penutup, GEMAR adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan bangsa. Kepada para ayah yang bersiap mengambil rapot, ingatlah bahwa nilai di atas kertas hanyalah angka, namun kehadiran Anda di sekolah adalah investasi jiwa.

Mari syukuri berapapun hasilnya, doakan anak-anak kita agar cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Menjadi ayah yang baik adalah proses belajar tanpa henti sebuah perjalanan untuk menjadi sosok yang dihormati anak dan dicintai istri.

Penulis adalah seorang Ayah dari anak semata wayangnya. Dia juga Pendidik Di SMP N 3 Welahan Jepara. Saat ini sedang Mengikuti Program Sekolah Tabligh PWM Jateng.