blank
Sketsa Pranata Mangsa, dibagi dalam 12 mangsa, dipilah ada siklus musim panen dan musim packelik, yang disesuaikan dengan musim penghujan dan kemarau (terang).(Dok.Ist)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Hujan-hujan deras belakangan ini, telah mengguyur di sejumlah daerah, di wilayah Surakarta (Solo Raya) termasuk Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Kalau mencermati Pranata Mangsa, saat ini sudah masuk dalam siklus Mangsa Kalima. Tiba waktunya memasuki awal dimulainya musim rendengan (hujan).

Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Mangsa Kalima berlangsung sejak Tanggal 13 Oktober sampai 8 Nopember 2025 mendatang. Pranoto, yang Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, menyatakan, siklus Mangsa Kalima memiliki rentang waktu selama 27 hari. Mangsa Kalima memiliki lambang (sesebutan) ibarat Pancuran emas sumawur ing jagad. Artinya, guyuran hujan deras bersebaran (berhamburan) di alam semesta.

Menurut sumber aslinya, Pranata Mangsa dituliskan dalam Kitab Primbon Qamarussyamsi Adammakna. Ini merupakan local wisdom atau kearifan lokal budaya di Tanah Jawa. Pemakaian Pranata Mangsa dipelopori oleh raja Pakoeboewono (PB) VII, dimulai sejak Tanggal 22 Juni 1856. Pranata (aturan) Mangsa (musim atau waktu). Jadi Pranata Mangsa adalah aturan yang digunakan kaum agraris untuk menentukan waktu bertani. Juga dipakai pedoman para nelayan saat melaut, bahkan digunakan untuk penghitungan strategi pemenangan perang, dan menentukan waktu yang baik untuk merantau.

Pemahaman seperti itu, juga dikenal oleh sejumlah suku lain di Indonesia. Seperti Suku Sunda dan Suku Bali, dengan sebutan Kerta Masa. Bahkan menjadi tradisi di beberapa wilayah di Eropa, misalnya pada Bangsa Jerman, dikenal sebagai Bauern Kalendar (penanggalan untuk petani).

Dalam Buku Horoskop Jawa Misteri Pranata Mangsa (karya Ki Hudoyo Doyodipuro Occ (Dahara Prize), dituliskan, Mangsa Kalima mulai musim turun hujan, kadang-kadang disertai angin dan banjir. Waktunya musim buah mangga. Bersamaan itu, binatang melata seperti ular, pada keluar dari liangnya.

Ada 12 mangsa yang diatur dalam Pranata Mangsa. Terdiri atas Mangsa Kasa/Sura memiliki siklus 41 hari (22 Juni-1 Agustus). Mangsa Karo selama 23 hari (2 Agustus-24 Agustus). Mangsa Katelu 24 hari (25 Agustus-17 September). Mangsa Kapat 25 hari (18 September-12 Oktober). Mangsa Kalima 27 hari (13 Oktober-8 Nopember). Manga Kanem 43 hari (9 Nopember-21 Desember). Mangsa Kapitu 43 hari (22 Desember-2 Pebruari).

Bumi Adem

Mangsa Kawolu 26 hari (3 Pebruari-28 Pebruari). Mangsa Kasanga 25 hari (1 Maret-25 Maret). Mangsa Kasepuluh/Kasadasa 24 dina (26 Maret-18 April). Mangsa Dhesta 23 dina (19 April-11 Mei). Mangsa Sada 41 hari (12 Mei-21 Juni).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri Ir Baroto Eko Pujianto MSi, menyatakan, sebagian petani telah menerbarkan benih di lahan pertanian tadah hujan (bergantung air hujan). Harapannya, tidak terjadi bethatan (hujan menghilang), sehingga benih dapat langsung tumbuh menyubur. Ini memang spekulasi kaum tani, manakala hujan menghilang, itu dapat beresiko benih yang tumbuh akan mengering.

Para petani berani menebarkan benih, karena menganggapnya telah tiba waktunya musim rendengan (penghujan). Sikap buru-buru menebar benih, didasari pengalaman, manakala bumi terlanjur adem (dingin) karena guyuran hujan beruntun, dampaknya buruk terhadap penebaran benih tanaman pangan di lahan.

Ramalan cuaca wilayah Provinsi Jawa Tengah, sebagaimana dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebutkan, hujan deras disertai petir dan angin kencang turun di 16 wilayah Jawa Tengah. Hujan berpotensi meluas ke wilayah-wilayah lainnya di Jawa Tengah, utamanya pada siang, petang dan malam hari.

Ke 16 kabupaten/kota di Jateng tersebut, terdiri atas Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Brebes dan Kota Surakarta.(Bambang Pur)