blank
Peserta pendampingan pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Al Ikhlas, Desa Krapyak, pada Minggu (12/10/2025).

JEPARA (SUARABARU.ID) — Mimpi besar menjadikan Desa Krapyak sebagai Desa Mandiri Sampah (DMS) terus diwujudkan oleh Pokja Krapyak Bersinar. Komitmen tersebut tampak nyata melalui kegiatan pendampingan pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Al Ikhlas, Desa Krapyak, pada Minggu (12/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus Pokja Krapyak Bersinar yang terdiri dari Susanto, Gunawan, Haris, Anas, Arifin Pipop, Muafiah, dan Hj. Sholekhah, serta menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, yaitu Nasirin dan Catur. Sebanyak 30 santri Pondok Al Ikhlas mengikuti kegiatan pendampingan ini dengan antusias.

Dalam sambutannya, Susanto, mewakili Pokja Bersinar, menyampaikan apresiasi kepada pihak pondok atas kerja samanya dalam mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

blank
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, yaitu Nasirin dan Catur.

“Kami berterima kasih kepada Pondok Al Ikhlas yang telah bersedia menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan Desa Mandiri Sampah. Edukasi pengelolaan sampah di lingkungan pesantren ini diharapkan bisa menjadi contoh nyata bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Selanjutnya, Gunawan memaparkan materi tentang pengelolaan sampah skala komunitas, khususnya untuk lingkungan pesantren. Ia menekankan bahwa pemilahan sampah dari sumbernya merupakan kunci keberhasilan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Pondok Al Ikhlas merupakan salah satu pelanggan layanan angkut sampah Pokja Bersinar. Volume sampahnya cukup besar, sehingga perlu dilakukan pemilahan sejak dari sumber. Minimal ada tiga jenis sampah yang perlu dipisahkan: organik, anorganik, dan B3,” jelas Gunawan.

blank
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, yaitu Nasirin dan Catur.

Gunawan juga memperkenalkan program Tabung Sampah, yaitu layanan tabungan berbasis sampah anorganik yang dapat ditukar dengan nilai ekonomi. “Sampah bukan hanya sisa buangan, tapi juga bisa menjadi tabungan dan sumber pendapatan jika dikelola dengan benar,” tambahnya

Sementara itu, Nasirin, narasumber dari DLH Jepara yang juga pengelola maggot di TPA Jepara, memberikan wawasan tentang pengolahan sampah organik. Ia menegaskan bahwa sampah organik justru mendominasi jumlah timbunan di TPA, namun sering kali sulit diolah karena bercampur dengan plastik dan bahan lain.

“Edukasi masyarakat harus berubah. Kini bukan lagi sekadar ‘buanglah sampah pada tempatnya’, tetapi ‘buanglah sampah pada tempat yang terpilah’. Dengan begitu, sampah bisa lebih mudah diolah dan memiliki nilai tambah,” tegas Nasirin.

blank
Narasumber sedang memberikan materi praktik

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pengolahan sampah. Para peserta dibagi menjadi empat kelompok dengan pendampingan dari para narasumber. Bapak Catur memandu praktik pengomposan daun-daun kering, Bapak Nasirin memberikan edukasi budidaya maggot dari sisa makanan, Mas Arifin mengajarkan pembuatan ecobrick, dan Mas Anas mendemonstrasikan pembuatan ecopaving dari bahan plastik bekas.

Kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para santri menunjukkan minat tinggi terhadap berbagai teknik pengolahan sampah, terutama pada praktik pembuatan kompos dan ecobrick.

Di akhir kegiatan, pengurus Pokja Bersinar menyampaikan harapan agar pendampingan ini menjadi awal dari sistem pengelolaan sampah mandiri di lingkungan Pondok Al Ikhlas.

“Kami berharap setelah kegiatan ini, pondok dapat mengimplementasikan pemilahan dan pengolahan sampah secara rutin, sehingga volume sampah yang diangkut ke TPA dapat berkurang,” tutur Susanto menutup kegiatan.

Langkah ini menjadi bagian penting dari perjalanan Pokja Krapyak Bersinar dalam mewujudkan Desa Krapyak sebagai model Desa Mandiri Sampah — desa yang tidak hanya bersih indah dan asri (bersinar), tetapi juga berdaya secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Hadepe – Gunboy